Kata adalah Senjata

Saya mendukung teman-teman Papua untuk merdeka. Merdeka untuk apa? Merdeka untuk menuliskan sendiri kisah-kisah mereka masing-masing. Tanpa perlu didikte oleh pihak lain. Termasuk didikte dengan moncong senapan milik tentara.

Mei dan Maria-maria Dolorosa

Tiga perempuan ini menyandang nama Maria. Tiga-tiganya memiliki seorang anak laki-laki. Ketiga anak lelaki itu mati dibunuh dalam tragedi kemanusiaan. Satu mati di Golgota. Satu mati di Klender. Satu lagi mati di Semanggi. Mereka adalah Maria-maria berduka cita. Saya menyebutnya Maria-maria Dolorosa.

Iwan, Mei 1998, dan Sesudahnya

Dalam rangka mengenang kejahatan brutal atas kemanusiaan Tragedi Mei 1998 dan upaya mendokumentasikan ingatan dalam tulisan, saya unggah tulisan lawas saya di blog ini. Tulisan ini memuat wawancara saya dengan Iwan Firman, salah satu penyintas peristiwa itu pada 14 Mei 2003 — persis lima tahun saat Iwan mengalami peristiwa naas itu.

Kucumbu Tubuh Indahku: Narasi Getir dan Trauma

Tiket bioskop ini akhirnya jatuh ke tangan saya juga. Film “Kucumbu Tubuh Indahku” pun sudah saya tonton. Dus, bolehlah sekarang saya berkomentar atas film ini. Sekian lama saya gatel ingin berkomentar. Tapi, apa guna, kalau saya belum nonton filmnya. Ora elok, tho? Biar enteng berkomentar, saya harus “membunuh” Garin Nugroho lebih dulu. Kok gitu?