Kopi, Buku, dan Film

Month: July 2017 Page 1 of 2

Post-Truth dan Kisah Para Penjual Serta Pembeli Dusta

Sumber: thetimes.co.uk | Edited by Prisma

Kapan Anda terakhir kali berbohong? Satu menit yang lalu? Sehari kemarin atau seminggu lalu? Anda tak perlu risau atau merasa terteror oleh pertanyaan saya ini. Tak usah dijawab di sini. Takutnya, Anda malah mencetak kebohongan baru lagi. Biarlah Anda sendiri dan Tuhan yang tahu. Sembari berdendang bareng Si Bule Australi Rick Priceonly heaven knows.

Internet dan Omong Kosong Kebebasan

Sumber: https://t.thaivisa.com | Edited by Prisma

Seandainya dua orang ini tidak menulis di blog, mungkin nasib naas tidak akan menimpa mereka. Kala itu, Kamis pagi, 13 September 2011, di jembatan Mexico, persisnya di perbatasan dengan kota Nuevo Laredo, dua jasad ditemukan. Kondisinya mengerikan: tergantung di tiang jembatan! Keduanya penuh luka, termutilasi, bersimbah darah, dan susah diidentifikasi. Disinyalir keduanya  dibunuh setelah menulis di blognya.

Jalan Sunyi Seorang Penulis

Sumber: Gorse.ie

Saya masih ingat kisah sosok Doris Lessing, peraih Nobel di bidang sastra pada tahun 2007. Saya pernah membacanya di Koran Tempo Minggu kala itu sebelum edisi minggu ini berhenti terbit pada Oktober 2015. Saya menuliskan kembali sosok Lessing sebagai upaya “penyelamatan” tulisan saya tentangnya yang hilang bersama blog lawas saya yang “mati” tahun lalu. Berkat “mesin ajaib” Wayback Machine, tulisan tentang Lessing dan kesunyian seorang penulis berhasil saya selamatkan. Ini wajib diselamatkan karena ini yang menjadi roh dari jalan kepenulisan saya dan menjadi raison d’etre SCRIBOERS yang sedang Anda baca ini. Artikel ini merupakan edisi remake dari artikel lawas dengan update beberapa hal.

Skandal Pastor dan Jubah yang Lupa Dicuci

Sumber: chappatte.com

Tampaknya, para pemimpin agama saat ini harus sering-sering pergi ke kamar mandi dan bercermin. Pasalnya, belakangan nama-nama mereka muncul di banyak media. Banyak dari mereka yang terlibat skandal. Skandal seks, skandal korupsi, skandal politik, sampai “skandal jepit” – sebutan saya untuk skandal-skandal lainnya. Mereka butuh cermin untuk berkaca.

Kali ini, saya hanya mau menyoroti para pemimpin agama Katolik, agama saya, yang juga sering disebut imam atau pastor. Di luar itu, maaf saya tidak kompeten dan tak ada urusan.

Siapa Bilang Logika Bumi Datar Itu Kuno?

Sumber: http://cdn.playbuzz.com | Edited by Prisma

Boleh dibilang saya menjadi orang paling bontot dalam mengikuti “diskusi publik” tentang bumi datar dan bumi bulat. Awalnya, saya mendengar sayup-sayup wacana itu, baik melalui televisi maupun internet. “Ah, apaan, sih” – gumam saya saat itu. Mana ada bumi datar. Bumi itu bulat. Kalau tidak bulat, jiwa Ferdinand Magellan dan Neil Amstrong meracau galau bukan kepalang di alam baka. Bahkan, NASA bakal dicap sebagai pabrik kabar bohong atau hoax sepanjang sejarah.

Sang Penyintas Holocaust Ini Telah Pergi

Di pengujung tahun 2015, saya mencoba mengirim surat elektronik kepada dirinya. Dialah Max Stern, lelaki tua dan seorang penyintas holokaus Nazi Jerman yang pernah saya jumpai dalam sebuah pameran perangko di Jakarta pada tahun 2012. Dia tinggal di Melbourne, Australia. Surat saya tidak terbalas sekian lama. Tak seperti surat saya sebelumnya yang ia balas dengan kata-kata penuh keriangan.

Lalu, di pengujung tahun berikutnya, saya ingat kembali sosoknya dan mengais-ngais kota surat Google saya untuk mencari balasan dari Max. Tetap nihil. Dan, saya mencoba browsing tentang sosoknya. Ternyata, laman The Sydney Morning Herald memberitakan Max Stern sudah wafat pada 11 Februari 2016. Duka mendalam pun menggerus rasa rindu kala itu.

Babi-Babi Metropolitan

Sumber: www.foxnews.com | Edited by Prisma

Pada suatu ketika saya dihujani tawa oleh seorang kawan sekantor. Ceritanya begini. Pada tengah hari, seperti biasa, kami turun dari gedung kantor ketika jam makan siang tiba. Kami memilih menyusuri sebuah gang sempit sekitar 15 meter samping gedung kantor. Maklum, meskipun kantor berada di kawasan mal yang kinclong, perut kami tidak bisa menipu: perut proletar. Lebih tepatnya, tidak tega merogoh kocek lebih dalam untuk makan di dalam mal. Bolehlah makan di mal, tapi jangan keseringan. Bisa-bisa, miskin beneran.

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén