Sumber: gamespot.com | edited by Prisma

Pernahkah Anda mendengar kisah tentang nenek sihir? Saya pastikan Anda pernah mendengar atau membacanya. Kalau tidak pernah, mohon maaf saja, Anda orang yang sungguh sial di dunia ini. Sosok nenek sihir cukup mewarnai masa kecil saya. Penyihir tua ini hadir dalam bacaan maupun dongeng-dongeng yang dilontarkan mbak Rus – nama lengkapnya Rusmiyati – teman kakak saya yang suka bermain ke rumah kala petang dan mendongeng untuk saya.

Sudah puluhan tahun saya tidak menjumpai mbak Rus. Mungkin ia sedang berada di negeri orang. Mungkin sedang mengelana ke tempat entah. Mungkin pula diculik oleh penyihir jahat yang selama ini ia dongengkan kepada saya.

Konon, demikian dia bercerita, penyihir tua ini hidup di dalam hutan. Sosoknya ditakuti oleh orang-orang seantero perkampungan di tepi hutan. Katanya, penyihir renta ini berkeliaran dengan sapu terbangnya saat senja turun dan hutan menjadi sunyi dalam sepuhan cahaya keemasan. Penyihir itu memburu anak-anak saat matahari menua dan sembunyi di balik gelap.

Tapi, penyihir ini tak sembarang menculik anak-anak.  Katanya, hanya anak-anak nakal, tepatnya anak-anak yang tidak patuh dan hormat pada orang tua yang akan diculik penyihir itu. Anak-anak nakal akan ditangkapi dan kemudian dibawa ke hutan. Lalu, tubuhnya akan dipotong-potong, dimasukkan ke dalam tungku raksasa, dibumbui dengan rempah-rempah, dan direbus. Begitu matang, daging anak nakal tersebut lalu dihidangkan menjadi menu sarapan atau makan malamnya.

Dongeng ini pun membuat bulu kuduk saya berdiri. Tapi, itu dulu, ketika saya masih kecil. Ketika saya masih tinggal di dusun dengan dua gundukan bukit mengapitnya. Satu bukit dijejali dengan cemara. Satu bukit lagi dijejali dengan pohon-pohon jati. Dusun itu namanya Semanggi, di kelurahan Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul, Jogjakarta. Nama Semanggi diambil dari sebuah nama sendang atau mata air di bawah pohon beringin yang berada di kaki bukit. Sendang Semanggi ini juga memiliki kisah-kisah mistis yang tak kalah seru untuk diceritakan.

Itu, dulu, ketika saya masih kecil dan ayam bekisar masih sering berkokok di puncak bukit setiap pagi, burung-burung cablak berdendang setiap sore tiba, atau pun kunang-kunang yang melintasi taman depan rumah yang dipenuhi perdu, bunga sepatu, dan ceplok piring. Sekarang, ayam-ayam bekisar, burung-burung cablak, dan kunang-kunang itu raib seiring dengan makin panasnya bumi dan munculnya perumahan yang menjamur di badan-badan bukit.

Ketika saya beranjak dewasa, kisah-kisah penyihir itu pun hanya menjadi romantisme masa lalu yang mengalirkan gelak. Betapa polosnya saya saat kanak-kanak. Sungguh menggelikan bagaimana orang dewasa mencoba meredam gejolak kenakalan anak-anak dengan sosok imajiner tersebut. Iya, sungguh menggelikan.

Namun, berita tentang kematian Mayang membuatku berhenti tergelak. Portal-portal berita, koran, televisi, menceritakan kematiannya sangat dramatis. Nalar saya kembali teraduk-aduk oleh peristiwa yang mirip dongeng yang diceritkan mbak Rus tersebut. Hanya saja, itu tidak dilakukan oleh penyihir jahat. Tetapi, oleh manusia nyata, iya manusia nyata, senyata-nyatanya, bernama Marcus Pieter Volke.

Di tangan Pieter, Mayang berubah menjadi daging jagal. Tubuhnya dimutilasi oleh psikopat berkebangsaan Australia dan tinggal di Brisbane itu. Usai dipotong-potong, jasad Mayang kemudian dimasukkan dalam panci untuk direbus. Persis seperti dongeng nenek sihir tadi. Pieter akhirnya berhasil diringkus. Mayang menjadi buah bibir di media-media, baik nasional maupun internasional, baik konvensional maupun media sosial.

Sayangnya, kematian Mayang ini tidak seheboh ketika ada TKI yang mati disiksa di negara tetangga. Kematiannya tidak sampai menggerakkan orang-orang turun ke jalan dan mengacung-acungkan tangan di depan kedutaan Negeri Kangguru itu. Tidak. Usut demi usut, Mayang ternyata seorang transgender. Nama lengkapnya, Mayang Prasetyo, berumur 27 tahun. Pieter merupakan kekasihnya. Menyedihkan lagi, wacana sempat bergeser dari kematian korban menjadi persoalan identitas transgender. Pertanyaannya, mungkinkah rasa belas kasihan kita juga bisa bias dan diskriminatif?

Habis Mayang, muncullah Sulaiman. Lelaki berusia 45 tahun ini bukanlah Peter Parker yang ingin unjuk kekuatan. Dia juga bukan manusia laba-laba yang meloncat dari gedung satu ke gedung lain. Dia bukan Spiderman, superhero kota New York itu. Dia hanyalah seorang pemilik percetakan yang siang itu melompat dari lantai 56 Menara BCA, Jakarta. Apa yang mendorong dirinya nekat mengakhiri hidup secara dramatis tersebut?

Bisa dibayangkan bagaimana nasib tubuh yang jatuh dari gedung pencakar langit setinggi itu. Saya tak akan menggambarkannya dalam kata-kata ini. Toh, ketika saya mengatakan saya tak akan menggambarkannya dalam kata-kata, gambaran nasib tubuh malang tersebut sudah terkatakan sejelas-jelasnya. Kalian tak usah membayangkannya agar tak menganggu tidur malam ini atau menurunkan selera makan nantinya.

Apa sebenarnya kehidupan ini sehingga banyak orang memilih untuk mengakhirinya? Benar kata Helena, teman lama saya, ada sebagian orang yang berani mati, padahal mereka tidak berani hidup. Ah, sudahlah, saya harus menerima apa adanya hidup ini. Hidup sering berjalan seperti yang tidak kita bayangkan. Kadang dramatis. Kadang penuh teka-teki. Kadang supertragis. Melebihi kisah-kisah dalam fiksi.

Oleh karenanya, saya memberi judul tulisan ini “Saat Dunia Kita Lebih Absurd Ketimbang Fiksi” (Judul saya ubah dari judul lama, yakni Stranger Than Fiction). Judul ini terpinsirasi dari judul film drama komedi besutan Marc Forster atas narasi bikinan Zach Helm dan diproduksi pada tahun 2006 itu. Plot kehidupan ini sering berjalan di luar nalar, tanpa kendali, dan penuh kejutan. Sampai saya bertanya-tanya, siapa menginspirasi siapa, fiksi atau kehidupan nyata? Ah, kata Paul Heru, teman saya, kebahagiaan adalah sikap menerima realitas kehidupan apa adanya. Menerima hidup yang merupakan rangkaian cerita-cerita berkelindan. Kadang cerita roman, komedi, maupun tragedi.

Twitter pun saat ini menjadi kanal sosial tentang cerita-cerita tragedi tersebut. Judul-judul berita di media sekarang ini mirip judul-judul novel maupun cerita pendek. Tak jarang, judul maupun isi berita jauh lebih dramatis ketimbang drama-drama dalam novel maupun cerita pendek.

Satu lagi cerita yang ingin saya bagikan di sini. Semoga kalian belum lelah membacanya. Cerita ini tak kalah dramatis. Seharusnya saya sudah menuliskan kisah ini tahun lalu. Tapi, karena kesibukan – alasan basi penulis – saya baru menuliskannya hari ini.

Membaca kisah ini, bayangan saya langsung tertancap pada kisah dalam novel The Name of Rose karya Umberto Eco. Eco menerbitkannya pada tahun 1980. Novel pertama penulis Italia ini sudah saya baca edisi bahasa Indonesianya. Film adaptasinya juga saya tonton. Film dengan judul sama digarap oleh Jean-Jacques Annaud dengan bintang Sean Connery pada tahun 1986.

Sumber: www.theredlist.com

Novel itu berlatar di sebuah biara tua pada tahun 1327. Novel ini mengangkat tentang percintaan, perzinaan, dan misteri pembunuhan yang melibatkan orang-orang “suci” yang dikenal dengan rahib-rahib itu. Sementara, cerita saya berlatar juga di biara, bukan di Italia, tetapi di biara Maumere, Sikka.

Berita muncul setelah misteri sepuluh tahun hilangnya sosok Merry Grace, mantan suster biara terungkap. Misteri satu dekade itu terungkap ketika atas petunjuk seorang ibu, polisi berhasil membongkar kuburan ilegal yang berisi tiga kerangka manusia. Kuburan itu terletak di halaman sebuah biara – tempatnya sebuah sekolah pastoral. Satu kerangka milik Merry Grace dan dua sisanya merupakan kerangka bayi. Kematian Grace melibatkan seorang tokoh panutan, yakni seorang pastor yang kemudian melepas jubahnya. Nama pastor itu Herman – sengaja saya sebutkan dalam tulisan ini biar adil.

Menurut Tempo, keduanya berasal dari Adonara, Flores Timur. Keduanya jatuh cinta saat berada di sekolah filsafat di Ledalero pada tahun 1997. Herman mengajar dan Merry bersekolah di sana. Kala itu, Merry masih berstatus suster. Usai tamat sekolah, Merry memilih keluar dari biara suster. Herman kemudian dipindahtugaskan di Lela.

Merry kemudian bekerja di Rumah Sakit Lela. Jarak rumah sakit dengan tempat kediaman pastor itu hanya sekitar 100 meter. Jarak seperlemparan petasan luncur ini membuat hubungan keduanya makin intim. Hubungan gelap ini membuahkan dua anak. Takut aibnya terbongkar, keduanya dikabarkan sepakat membunuh dua jabang bayi itu. Lalu, Herman mengaku Merry kemudian mati karena kehabisan darah saat melahirkan anak kedua. Namun, keluarga Merry tidak percaya. Mereka meyakini Herman telah mencekiknya sampai meregang nyawa.

Ketiga jasad ini dikuburkan mantan pastor itu di depan kamarnya di asrama Lela. Setelah sepuluh tahun menjadi misteri, kasus pun terungkap pada tahun 2013. Sofi, mantan kekasih Herman, membuka kasus ini dan melaporkannya kepada keluarga. Kasusnya ditindaklanjuti polisi. Herman pun masuk bui.

Nah, saya membaca cerita ini sedikit syok. Bagaimana tidak, kisah faktual ini melibatkan sosok yang selama ini jadi ikon panutan umat. Pagar sudah makan tanaman. Paling tidak, seperti halnya pesan Umberto Eco, dinding-dinding suci biara, tidak menjamin kebejatan mendatangi para penghuninya. The Name of Rose itu nyata. Satu persoalan yang menimpa kita: sering kita tak mau menerimanya bila itu terjadi di ranah yang selama ini kita anggap suci atau tabu untuk dipertanyakan.

Tulisan ini saya tutup dengan imajinasi liar saya tentang masa depan penulis fiksi. Bila kehidupan nyata itu superdramatis seperti itu, tema-tema fiksi macam apa yang akan diangkat oleh para penulis ini. Saat ini, berita-berita di koran tak jarang jauh lebih fiktif ketimbang kisah-kisah dalam buku-buku fiksi.

Tapi, di sisi lain, saya meyakini penulis fiksi tetap dibutuhkan untuk menyelamatkan masa depan itu sendiri. Bukankah berita-berita saat ini masih rentan juga akan pengekangan. Berita-berita masih dikendalikan oleh kekuasaan dan pemilik modal – kekuasaan yang masih ingin menghapus peristiwa-peristiwa dari ingatan. Penulis fiksi masih dibutuhkan agar ingatan-ingatan bisa dipelihara. Kolumnis Sudarmoko dalam tanggapannya pada cerpen-cerpen Agus Noor mengatakan, cerita memungkinkan fakta dan peristiwa yang diam menjadi berbicara dan hidup dalam ingatan.

Lalu, bagaimana bila ada seorang pastor atau ustad terpandang telah membuntingi istri orang? Bagaimana bila ada ibu kandung menggergaji balitanya dan mengeringkannya di mesin cuci? Bagaimana bila kekasih Anda ternyata seorang psikopat yang doyan menyetubuhi korban-korban setelah ia membunuhnya?

Auk ah gelap!

*Tulisan ini diterbitkan pada 31 Desember 2014 di blog lawas yang raib.

Leave A Comment

Recommended Posts