Post-Truth dan Kisah Para Penjual Serta Pembeli Dusta

Sumber: thetimes.co.uk | Edited by Prisma

Kapan Anda terakhir kali berbohong? Satu menit yang lalu? Sehari kemarin atau seminggu lalu? Anda tak perlu risau atau merasa terteror oleh pertanyaan saya ini. Tak usah dijawab di sini. Takutnya, Anda malah mencetak kebohongan baru lagi. Biarlah Anda sendiri dan Tuhan yang tahu. Sembari berdendang bareng Si Bule Australi Rick Priceonly heaven knows.

Saya hanya mau mengajak Anda menyelami sedikit lebih dalam fenomena belakangan ini. Samakah perasaan Anda dengan saya saat ini, kok orang-orang saat ini dengan vulgar dan terang-terangan melakukan kebohongan.  Atau, kita lebih senang untuk mempercayai atau memihak atau memilih hal-hal yang lebih mengedepankan sentimen emosional kita ketimbang sesuatu yang benar. Mereka, bisa juga termasuk saya dan Anda yang sedang membaca tulisan ini, tampaknya sudah kehilangan rasa malu saat melakukan kebohongan atau memilih suatu yang kita tahu tidak benar asalkan hal itu memuaskan hasrat dan emosi kita. Nurani dan otak kita tak setajam dulu. Kita tak merasa bersalah lagi saat menyampaikan kabar palsu kepada orang lain. Mungkin kita sedang sakit dan penyakit kita sama. Ambil stetoskop

Anda tak usah galau berkepanjangan. Anda tak sendirian. Donald Trump siap menjadi sahabat terbaik Anda. Kok, bisa? Simpan dulu rasa penasaran Anda. Jadi begini, asal satu saja, kita saat ini hidup di dunia yang disebut dengan era Post-Truth Society. Istilah post-truth atau pascakebenaran ini pernah dinobatkan oleh Oxford Dictionaries sebagai international word of the year tahun 2016. Menurut kamus ini, post-truth dimengerti sebagai adjektif di mana fakta tidak lagi memiliki pengaruh besar ketimbang emosi maupun keyakinan personal. Gampangnya, yang faktual dan rasional itu “kalah” berpengaruh ketimbang yang non aktual dan emosional. Gampangnya lagi, orang-orang saat ini lebih percaya hal-hal bohong ketimbang fakta-fakta, asalkan mampu mengaduk emosi dan kepercayaan pribadi mereka.

Istilah itu tentu ada asal-usulnya. Menurut buku Post-Truth: The New War on Truth and How to Fight Back (2017) karangan Matthew d’Ancona, seorang kolumnis The Guardian dan editor The Spectactor, post-truth populer lagi dalam dua konteks besar, yakni pemilihan Presiden Amerika Serikat yang dimenangkan Donald Trump dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang populer dengan istilah Brexit. Saya membeli buku itu dengan menukarkan pulsa sebesar Rp 97.900 di Google Playstore. Bukan buat gaya-gayaan, tapi biar tulisan ini punya sedikit citarasa ilmiah dan tak menjadi satu kebohongan itu sendiri. Bukan begitu?

Matthew mengatakan, era ini juga ditandai dengan penolakan terhadap kajian ilmiah perubahan iklim, fitnah kepada para pengungsi sebagai sumber masalah, di samping voting Brexit dan kemenangan Trump. Katanya, kita hidup di era baru di mana tanpa disadari teknologi digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk memanipulasi big data dan media sosial dan kemudian membentuk opini baru yang tidak faktual.

Kampanye Trump “Make America Great Again” kental dengan nuansa emosional sekaligus manipulatif. Di tengah ekonomi yang terbilang morat-marit, kampanye seperti itu sangat memikat secara emosi. Orang condong tak peduli apakah konten-konten kampanye itu berbasis dari fakta-fakta atau bukan. Asal kampanye itu menyentuh emosi, pro dengan keyakinan, keresahan, dan ideologi pribadi, selesai pasti. Kabar-kabar bohong atau fake news pun dianggap sebagai kebenaran. Fakta menjadi sesuatu yang tak relevan lagi. Trump mendulang suara dengan politik dusta tersebut. Termasuk menciptakan “mesin-mesin” yang memproduksi hoax bagi lawan politiknya.

Anehnya, Trump berhasil merebut hati rakyat Amerika meski media-media lokal sudah berupaya menelanjangi kebohongan tersebut. Trump memanfaatkan momentum. Ia memanfaatkan kecemasan (anxieties) dan hasrat (desires) terkini rakyat Amerika. Propaganda-propaganda dusta dimunculkan.  Termasuk propaganda yang menyangkut Islam dan Mexico.  Para imigran dari Amerika Latin, khususnya dari Mexico ini dianggap sebagai ancaman dalam negeri Amerika – entah ancaman hilangnya banyak lahan perkerjaan maupun bahaya penyelundupan obat-obatan terlarang. So, konon kata Trump, Amerika bakal jaya lagi bila ancaman-ancaman luar itu ditangkal.

Sumber: www.newscientist.com

Dengan alasan ini, Trump meneken rencana dibangunnya tembok pemisah antara Amerika Serikat dan Mexico. Inilah yang kemudian dikritik oleh Paus Fransiskus. Paus Fransiskus mengatakan, atas nama kemanusiaan, harusnya Trump membangun jembatan dan bukan tembok. Sentimen-sentiman agama dan rasial tak luput diembuskan di negeri yang sering diklaim sebagai paling demokratis sejagat itu.

Bahkan, menurut Politifact, situs berita Amerika Serikat peraih Pulitzer tahun 2009, 70% perkataan Trump adalah kebohongan. Tak heran, jika Trump juga menjadi salah satu pemeran utama dari anugerah Lie of The Year 2016: Fake News.  

Hal yang kurang lebih sama terjadi di Eropa. Propaganda antigelombang pengungsi dari Suriah diserukan sebagai bagian dari keamanan kawasan. Berita-berita palsu pun dibuat dan diviralkan. Lagi-lagi, Paus Fransiskus menjadi sosok yang paling lantang mengkritik negara-negara Eropa yang menutup diri dari pengungsi – bahkan menolak dan mengusir mereka dan membuat banyak pengungsi mati di tengah pengungsian. Pengungsi bukanlah ancaman bagi Eropa, tandas Paus.

Bagaimana dengan Indonesia? Yang terjadi kurang lebih sama. Tapi, bisa jadi lebih buruk. Lihat saja masa pemilihan kepala daerah yang lalu. Aneka berita bohong berseliweran tak terkontrol. Suasana pilkada menjadi sangat runyam dan tak bermartabat. Kampanye hitam dan hoax didesain sedemikian rupa untuk menjatuhkan lawan-lawan politik.

Kemegahan politik sebagai ajang adu gagasan malah ambyar (hancur) dengan perang hoax. Orang-orang berbohong sembari mencaci-maki sedemikian rupa tanpa merasa bersalah. Herannya, orang-orang ini dengan “telanjang” doyan mempertontonkan cara berpolitik dan bernegara yang jauh dari mutu. Orang Jawa bilang: ora mutu! Kaesang bilang: Ndeso! 

Sebuah meme sindiran | Sumber: www.innovativewealth.com

Sentimen-sentimen agama dan rasial kembali jadi propaganda favorit di masa kampanye. Akal sehat dijungkirbalikkan dengan sentimen-sentimen murahan tersebut. Penjual-penjual dusta menjual dagangannya di mana-mana, baik di sekolah-sekolah, tempat-tempat ibadah, kantor-kantor, sudut-sudut jalan, resto-resto, warung-warung kopi, rumah-rumah sakit, rumah kontrakan, kampus-kampus, hingga gedung dewan. Tukang dusta itu juga bermunculan di dunia online yang membuat ponsel atau gawai kita menjadi keranjang sampah digital. Itu terjadi saban hari.

Anehnya, dasar wong edan, kita di titik tertentu justru doyan dengan kabar-kabar bohong ini. Kita pura-pura lugu, padahal menikmati. Lebih-lebih kalau hoax itu berisi kisah tragedi orang lain, uh, nikmatnya pasti tiada tara, bukan begitu? Dasar pencandu sinetron! Kita pun pura-pura minta klarifikasi sembari jempol kita dengan ringan menyebarkan kabar bohong itu ke grup-grup WhatsApp. Kita pun seperti gajah yang kegemukan dan malas melakukan verifikasi informasi. Langsung tak langsung, kita turut andil dalam “mahakarya tertinggi” saat ini: kebohongan!

Ada yang bikin geleng-geleng kepala. Negeri yang doyan mengklaim diri sebagai negeri beragama ini justru orang-orangnya suka berbohong dengan mengatasnamakan agama. Padahal agama melarang orang berbohong. Ada juga yang bilang, tak boleh memilih seorang pemimpin yang tidak seagama, misalnya. Padahal demokrasi tak mempersoalkan agama, ideologi, atau kepercayaan pribadi seseorang. Sayangnya, seperti “rezim” Trump, para penjual dusta di negeri ini memanfaatkan sisi emosional dari sentimen-sentimen murahan ini. Orang tak ambil pusing lagi soal fakta-fakta.

Dan, lebih ndeso lagi, kalau para penjual dusta ini kalau ditelanjangi kebohongannya justru gampang naik darah. Mereka malah pasang badan sambil mengancam.

Kebenaran pun jatuh di titik nadir. Selain direpresi oleh kebohongan secara gagasan, juga mengalami represi fisik dalam bentuk persekusi.

Lucunya lagi, isu-isu Komunis yang partainya sudah lama bubar dan ideologinya pensiun diumbar lagi. Partai Komunis Indonesia yang nyata-nyata sudah tidak ada itu diada-adakan lagi oleh para penjual dusta ini. Padahal, Anda tahu sendiri, PKI sudah diberangus oleh Orde Baru dengan cara-cara superkeji dan dilenyapkan sedemikian rupa sampai seakar-akarnya. Namun, penjual dusta itu mungkin  berdalih, kebohongan yang diulang-ulang itu akan berubah menjadi kebenaran. Anehnya, banyak orang lebih percaya kabar bohong. Asal sesuatu itu seagama atau sealiran atau satu ideologi, maka sesuatu itu benar.

Sungguh memprihatinkan ketika para penjual dusta ini menjual “dagangannya” kepada anak-anak yang masih lugu. Anak-anak diajari untuk berbohong dan menelan kabar tak sehat itu. Mereka telah merusak kemanusiaan anak-anak sejak dini. Anak-anak diajari untuk membenci dan berbuat jahat. Lebih baik, para penjual dusta yang menyesatkan anak-anak ini dikalungi batu kilangan dan dicemplungkan ke laut paling dalam. Byur!

Kita tentu sepakat kalau berbohong itu tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Apalagi dipakai sebagai bentuk menghalalkan segala cara asal tujuan tercapai dan tak peduli seberapa besar kerusakan hidup yang ditimbulkannya. Sebagai orang-orang yang masih waras, mari kita bersikap kritis  terhadap segala informasi yang belum tentu benar. Kita bisa melakukan kontra hoax yang beredar demi kehidupan bersama yang lebih sehat.

Memang, kita harus mengeluarkan energi ekstra untuk melakukan verifikasi di era post-truth ini. Alasannya, kita saat ini tak gampang dalam membedakan makna fakta dan makna fiksi, mana kebenaran dan mana kebohongan. Otak kita harus mampu mengendalikan jempol kita dan bukan jempol kita yang mengendalikan otak kita. Kecuali kalau memang kita senang disebut sebagai sang penjual dusta yang tak lain adalah penista kebenaran.

Jadi, kapan Anda terakhir berbohong? Coba cek status Facebook Anda sekarang. Jangan-jangan, tulisan tentang diri Anda di status Facebook itu bukan diri Anda yang sebenarnya alias hoax. Masih sangsi? Coba sekarang pegang hidung Anda dan rasakan apakah hidung Anda tambah panjang dari yang biasanya atau tidak?

Hah, ternyata…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *