Ali Zaenal Abidin | Foto: Sigit Kurniawan

Seumur-umur menjadi wartawan, baru kali ini narasumber saya balik bertanya dengan pertanyaan paling ajaib: apa tujuan hidupmu?

Ealah mas, saya jauh-jauh datang ke Cilandak itu untuk liputan, bukan untuk retret. Sekalipun retret, saya perlu doa dan keheningan dulu sebelum menjawabnya. Bukan ngos-ngosan karena naik mega pro, menembus macet, terpapar debu pembangunan MRT, dan lapar karena lupa sarapan.

Tapi, enggak salah juga narsum saya ini bertanya demikian. Lha, wong pekerjaan kesehariannya adalah membantu orang-orang untuk menemukan tujuan hidup mereka. Siang itu, 1 Agustus 2018.

Dia, lelaki berwajah Arab itu. Namanya Ali Zaenal Abidin. Panggilannya Ali. Dialah CEO I’m On My Way, proyek sosial yang membantu orang-orang muda menemukan passion dan tujuan hidupnya.
“Semua ini berawal dari pengalaman pribadi?”
“Iya, dulu saya galau. Hidup saya tak jelas mau ke mana.”
“Lalu?”
“Saya percaya setiap orang punya tujuan hidup. Tapi, tak semua orang sadar dan paham akan hal ini.”

Ali kemudian menceritakan sebuah pengalaman titik balik. Saat itu, Maret 2006, di Beograd, Serbia. Ia tinggal di sebuah hostel. Suatu saat, dia antre kamar mandi. Di depannya, ada seorang pemuda asal Kroasia. Antrean cukup lama. Ngobrolah Ali dengan pemuda Kroasia itu.
“Apa yang menarik?”
“Dia antusias menceritakan hidupnya, karier, keluarga, hingga petualangannya. Lalu, saya iseng bertanya: so, apa yang menjadi life purpose kamu?”
“Apa reaksinya?”
“Dia tampak syok dan kebingungan.”

Perjumpaan dengan pemuda Kroasia itulah yang menjadi titik awal Ali ingin mendedikasikan diri untuk membantu orang-orang menemukan tujuan hidupnya.

Akhir 2013, ia pulang ke Indonesia. Gandeng beberapa teman, ia mendirikan Insight Out. Di dalamnya ada program I’m On My Way. Pendekatan awal adalah individu. Lalu, berkembang jadi workshop, hingga seminar Kebelet Hidup.

“Apa indikasi orang sudah menemukan tujuan hidupnya?”
“Dia merasa hidupnya bermakna.”
“Apa maksudnya?”
“Ada tiga tingkat orang menjalani hidupnya. Pertama, ia merasa senang atau mendapatkan pleasure. Kedua, ia bahagia karena bisa menghidupi passionnya. Ketiga, ia merasa hidupnya bermakna karena bisa memberi impact pada orang lain dan lingkungan.”
“Hmm.”

Saya jadi teringat bacaan Injil pekan lalu. Saya mendengarnya saat duduk di bangku bagian belakang gereja Maria Bunda Karmel. Kisahnya bolak-balik kita dengar: Yesus memberi makan lima ribu orang.

Entah kenapa, baru kali ini, sosok anak kecil yang membawa dua ikan dan lima roti di tengah lima ribuan orang kelaparan menjadi sosok terang benderang di benak saya.

Dari tangan anak kecil ini, Yesus kemudian mengucap berkat. Roti dan ikan itu digandakan. Dibagikan. Orang-orang pun kenyang.

Kenapa anak kecil dan bukan orang dewasa. Ibu-ibu, misalnya, yang doyan membungkus makanan?

Anak kecil adalah perwakilan pihak yang dianggap lemah. “Halah, kamu itu ingusan, tahunya apa?” atau “Hus, kamu bisanya apa?” Demikian umpatan orang dewasa yang jamak kita dengar. Tapi, anak kecil ini justru menjadi sarana berkat bagi lima ribu orang kelaparan, termasuk bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, nenek-nenek yang sudah bangkotan.

Lah, hubungannya dengan tujuan hidupnya Ali? Anak kecil itu telah menemukan jalan hidupnya, yakni menjadi sarana berkat bagi orang lain. Sekecil apa pun yang anak itu punyai, begitu bertemu dengan rahmat dari Atas, akan menjadi berkat yang dahsyat bagi dunia.

Tak perlu menjadi sungai, danau, atau bahkan lautan. Cukup menjadi diri sendiri, sebuah mata air kecil, tapi bisa memberi kelegaan bagi orang-orang yang kehausan. Lalu, nama Allah pun semakin dimuliakan.

Halah malah kotbah ki. Jian, biyangane. Sampeyan yang baca tulisan ini mungkin bertanya: lalu, jawaban saya atas pertanyaan Ali, apa tujuan hidupmu itu apa? Saya balik bertanya juga.

“Lha, sampeyan dhewe, apa tujuan hidup sampeyan?”

Modyaro! Malah retret. Ndang mangkato menyang Girisonta atau Civita atau Samadi Klender. 😉

— Malam hari di Kebon Jeruk, 7 Agustus 2018.

Leave A Comment

Recommended Posts