Pilihan Lentera

Lentera berbusana beda sendiri, tak mau seragam.

Lentera menggelengkan kepala saat saya menyodorkan kaos baru padanya. Kaos ini kami beli semalam. Empat biji. Warna biru dongker semua. Satu motif. Biar seragam.

Rencananya, kaos itu akan kami pakai untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan mertua. Di Sawangan. Hari ini, Minggu, 19 Agustus 2018.

“Ayo, Tera. Tuh, mama dan kakak pakai juga.” (Tera menggeleng)
“Yuk, pakai.” (Tera menjerit)
“Kalo pakai ini, nanti berenang.” (Jeritannya tambah kenceng).

Mengetahui saya gagal merayunya, mama Tera mengambil alih situasi. Kaos ukuran S ia tenteng dan dijembreng di depan Tera. Tera menggeleng.

Mama Tera merayu lagi. Tera lari ke kamar sembari menjerit-jerit dan nangis. Misi mama Tera gagal juga.

“Ya, udah. Tera sekarang pilih sendiri bajunya.”

Tera lari ke kamar seterika. Lemari plastik ia buka. Ia mengambil satu gaun warna hijau tosca. Gaun princess, kata mamanya. Tera pun merdeka.

Dalam kendaraan yang melaju sepanjang Jalan Panjang saya membatin. Anak umur 2,5 tahun ini berkarakter keras. Kalau sudah punya kemauan, ia akan mempertahankannya. Sebisanya, termasuk dengan teriak dan nangis.

Di Sawangan, anak-anak minta berenang. Jagad nyebur di kolam setengah meter. Bareng Tio dan Dito, saudaranya. Tera di kolam balita. Lagi-lagi Tera merengek minta pindah kolam bareng kakaknya.

Kali ini, rengekan Tera saya abaikan. Saya tolak. Sembari ngasih tahu kalau kolam setengah meter berbahaya untuk anak sekecil dirinya.

Soal kebebasan memilih, bukankah memang demikian kala ia dewasa kelak. Ia bebas menentukan pilihan-pilihannya. Entah pilihan politiknya, agamanya, ideologinya, pasangannya, warna bajunya, dan sebagainya.

Dengan bebas memilih, dia juga berlatih berani mempertanggungjawabkan pilihannya. Kebebasan ini adalah anugerah Tuhan paling dahsyat untuk manusia. Sepakat?

Sayangnya, kata Erich Fromm, kita lebih suka lari dari kebebasan itu. Orang dewasa lebih suka yang serba seragam. Di luar yang seragam, akan dinilai aneh, tak benar, gila, dan bahkan mengancam. Karena dirasa mengancam, yang beda itu layak disingkirkan, dikucilkan, dibully, dan bahkan dibinasakan.

Masak saya harus mengucilkan anak sendiri dan memutus relasi karena ia punya pilihan yang beda atas baju yang mau ia kenakan?

Jadi, enggak perlu marah, takut, membully, alergi, mengancam, mempersekusi, dan bahkan melakukan kekerasan terhadap mereka yang punya pilihan berbeda.

Jadi, mau pilih Jokowi silakan. Mau pilih Prabowo silakan. Mau golput silakan. Toh, kita sudah sama-sama dewasa. Bebas memilih, bebas bertanggung jawab. Gak usah maksain pilihan. Gak usah berantem.

Tera saja tahu. Hepi wiken!

— Kolam renang Sawangan, 19 Agustus 2018.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *