Sindhunata

Selfie bersama Romo Sindhunata SJ di Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta.

Di sela-sela memberi pelatihan menulis, seorang teman dari komunitas penulis Agenda 18 bertanya pada saya. Siapakah penulis Indonesia favorit kamu? Saya jawab, ada beberapa orang. Tiga di antaranya adalah Sindhunata, Seno Gumira Ajidarma, dan Eka Kurniawan.

Kali ini, saya akan cerita tentang Sindhunata. Dia seorang imam Jesuit, filsuf, budayawan, dan penulis. Yang paling saya suka dari tulisan-tulisan Romo Sindhu adalah kelincahannya dalam menyematkan refleksi tajam dalam tulisannya – entah feature, esai filsafat dan budaya, maupun kisah-kisah sederhana – saya senang menyebutnya kisah-kisah receh. Ia piawai memberi makna atas fenomena-fenomena dunia dan keseharian yang biasa. Bahkan, hal-hal yang tampaknya tak ada maknanya sama sekali.

Continue reading “Sindhunata”

Selasa

Morrie dan Albom. Sumber: Wixsite.com

Pada sebuah masa, saya pernah merasa was-was saban Selasa tiba. Was-was yang sungguh mengganggu. Itu terjadi selama hampir enam mingguan. Sampai pada akhirnya rasa was-was itu hilang dengan sendirinya. Kok bisa?

Saya bercerita ini lebih dulu. Tentang Selasa, saya selalu ingat kisah yang ditulis Mitch Albom berjudul “Tuesdays with Morrie” (1997). Novel legendaris yang diangkat dari kisah nyata ini merupakan novel pertama Albom yang saya baca, sebelum “Five People You Meet in Heaven”, “Have a Little Faith,” dan “The First Phone Call from Heaven.”

Continue reading “Selasa”