Telepon dari Papua

Tiga hari setelah kami dolan ke Lapangan Banteng, saya membaca cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul “Mayat yang Mengambang di Danau.” Saya juga menerima telepon dari seorang kawan yang sekarang tinggal di Sorong, Papua.

Apa hubungannya dengan Lapangan Banteng? Ketiganya menyinggung Tanah Papua. Terus?

Saya cerita plesirannya dulu. Sejak revitalisasi lapangan yang digagas Ahok dan diresmikan oleh Anis ini, istri saya ngebet ngajak dolan ke sana. Baru kesampaian pada libur Idul Adha yang lalu, 22 Agustus 2018. Satu kata: apik!

Patung Pembebasan Irian Barat menjulang ke langit biru. Bertelanjang dada dan atletis bak Jonatan Christie usai memenangi laga badminton di Asian Games dan konon bikin rahim para perempuan memanas. Apa kabar Papua?

Saya jadi ingat Anjar. Teman kala SMA di Mertoyudan, Magelang. Asli Wonosobo. Ia kini tinggal di Kabupaten Sorong.

Malam minggu, 25 Agustus, pukul sebelas malam, saya whatsapp dirinya. Obrolannya singkat saja. Soalnya, saya baru sadar di Papua sudah pukul satu malam. Tahu diri, saya sudahi percakapan ini.

Anjar ingin menelepon saya hari berikutnya. Saya bilang, saya saja yang menelepon. Dia menolak sembari “umuk” (pamer) kuota pulsa hapenya masih sejuta menit. Busyet!

Secangkir kopi robusta asal Temanggung racikan Soekoerkombi ada di depan saya saat saya menerima telepon Anjar keesokan harinya. Kertas dan pulpen sengaja saya siapkan. Maklum, saya senang mendokumentasikan kisah-kisah receh.

“Piye, Git. Isih iso ngaceng, tho?”
“Pancen uasyu. Pulsa diumbar-umbar mung tekon barang porno.”
“Lha, kuwi kan penting untuk awam.”
“Yo, manut. Kowe saiki sibuk opo?”

Anjar bercerita. Ia sembilan tahun hidup di Sorong. Awal menginjakkan kaki di bumi Papua, ia seorang aktivis sebuah NGO. Ia turut merintis sekolah gratis di sana.

“Sekarang, saya bisnis di bidang IT.”
“Dodolan software?”
“Bukan. Saya dodolan hape, komputer, sekalian servisnya. Saya nyambi beternak ayam dan babi.”

Dia pamer lagi soal babinya yang mencapai 80 ekor. Itu pun baru babi dewasa. Belum termasuk babi milenial maupun babi kanak-kanak. Benar-benar juragan babi.

Babi-babi di peternakan milik Anjar di Sorong. Foto: Anjar

“Papua aman terkendali. Gak seheboh yang dikabarkan media-media Jakarta. Kalau ada penembakan, itu cuma di Puncak Jaya dan Ilaga. Itu pun jarang. Di tempat lain, aman-aman saja.”

Seolah menerka apa yang akan saya tanyakan, ia meyakinkan isu-isu Jakarta seperti Ahok atau kasus Meiliana di Medan tak punya efek sama sekali di Papua.

“Di sini, kami hidup dengan prinsip Satu Tungku Tiga Batu. Kalau satu batu terguling, tungku itu tak bisa digunakan lagi untuk memasak. Tiga batu penyangga tungku itu adalah Protestan, Katolik, dan Islam. Kami hidup damai di sini.”

Saya mulai coret-coret. Buat apa? Buat bahan menulis status fesbuk hahaha. Gak penting, ya?

“Pembangunan empat tahun di era Jokowi ini luar biasa dan berdampak besar. Harga beras di sini dan Jawa sama sekarang. Juga harga bensin maupun rokok. Tapi, UMR gede di sini. Ini enaknya hidup di luar Jawa.”
“Wah, suk tak susul mrono, yo.”
“Siji meneh. Soal pendidikan di Papua, rata-rata gurunya PNS – termasuk yang swasta. Jadi, terjamin tenaga pengajarnya.”
“Akses media, internet biar bisa cas cis cus whatsappan gimana?”
“Jangan nyinyir. Di sini, di seluruh kota kecamatan, orang-orangnya bisa mengakses seperti yang kalian akses di Jakarta. Pay TV ada, jalan utama bagus, internet 4G ada meski baru Telkomsel. Luar biasa, tho?”

Saya menyeruput kopi. Anak-anak khusyuk di depan TV nonton Upin Ipin. Istri masih gebyar-gebyur di kamar mandi.

“Pernah ngalami perang suku di sana?”
“Ini biasa. Pemicunya biasanya dua hal, perempuan dan miras.”
“Kowe ora wedi?”
“Mereka berperang di jalanan. Pas lewat situ, aku santai saja. Tak akan ada panah nancep di punggungku. Mereka berperang di antara mereka sendiri. Tak pernah melukai yang tak ikut perang.”
“Siapa mendamaikan?”
“Ngene, Git. Misalnya, salah satu orang kena panah. Perang akan berhenti kalau pihak lain yang beperang juga salah satu orangnya kena panah. Itu fair bagi mereka. Tapi, sekarang intensitas menurun.”

Soal miras, saya sering mendengarnya. Orang-orang di sana gemar mabuk. Bir, anggur, minuman alkohol lainnya tak susah dicari.

“Kenapa orang-orang di sana suka mabuk dan jadi soal nomor dua pemicu perkelahian tadi?”
“Sejarah miras masuk Papua, kita harus menyalahkan para misionaris – baik Protestan maupun Katolik. Merekalah yang pertama kali memperkenalkan miras di sini.”
“Kok bisa?”
“Anggur memang dekat dengan mereka. Lalu, Belanda menyadari, miras bisa menjadi alat ampuh untuk menguasai orang Papua. Modus yang sama digunakan saat tentara Portugis, Belanda, Inggris akan menguasai penduduk asli Amerika zaman dulu. Miras disuguhkan, takluklah mereka.”
“Woo, pancen misionaris kurang ajar.”

Kami terbahak-bahak bersama. Anjar menambahkan, sudah ada perda yang mengatur miras ini. Sudah 60% daerah di sana menerapkannya. Efeknya positif, angka kriminalitas menurun, katanya.

“Git, mengko nyambung meneh yo. Aku lagi nganter anakku bazzar nang sekolahane.”

Belum sempat tanya apakah dia pernah pakai koteka atau ukuran panjang dan diameter kotekanya, telepon kadung ditutup.

Saya senang karena teman saya ini tampaknya kerasan tinggal di Papua. Apalagi pembangunan di sana ia rasakan sendiri dampaknya dan bukan hoax.

Kopi di gelas belum habis. Saya berselancar di internet. Mencari kisah-kisah lain tentang Papua. Dari sekian entry di Google, saya tertarik pada cerpen Seno berjudul “Mayat yang Mengambang di Danau.” Cerpen ini ditulis saat Seno berada di Jayapura, 12-14 November 2011.

Singkat cerita, cerpen ini berkisah tentang Barnabas, seorang pemburu ikan bertombak di danau demi menyambung hidup. Istrinya mati karena cacing pita. Ia punya anak putus sekolah teologia bernama Klemen.

Suatu saat, paceklik ikan tiba. Barnabas teringat ucapan Klemen yang tak ia pahami: homo homini lupus. Kata merdeka pun sering diucapkan Klemen.

Barnabas pernah bertanya mengapa Klemen tak mau melanjutkan sekolah jadi pendeta, predikat paling dihormati di sana. Klemen bilang, apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi. Apalagi kampusnya sering diobrak-abrik tentara. Belum lagi soal penembakan dan kerusuhan di beberapa tempat.

Suatu ketika, demi mendapatkan ikan yang banyak, Barnabas menyelam lebih dalam di danau. Sampai akhirnya ia menemukan benda yang ternyata seonggok mayat dengan kaki dan tangan terikat. Pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih. Sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah. Ia syok lalu berteriak histeris. Mayat itu adalah Klemen!

Hubunganya dengan cerita Anjar apa, Mas? Gak ada hubungannya sih, kecuali latar Papua. Anjar menceritakan fakta yang ia alami di Papua. Seno menuliskannya dengan fiksi atau sastra. Selesai. Iya, selesai.

Dalam bukunya berjudul “Saat Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” (Bentang Pustaka, 1997) Seno pernah bilang, bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. Fakta bisa diembargo dan dimanipulasi, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan.

Kopi sudah hampir tandas. Saya menoleh ke hape saya. Berharap berkedip-kedip lagi karena ada telepon dari Papua. Tapi bukan dari Anjar, melainkan Klemen!

— Kebon Jeruk, 29 Agustus 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *