Sindhunata

Selfie bersama Romo Sindhunata SJ di Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta.

Di sela-sela memberi pelatihan menulis, seorang teman dari komunitas penulis Agenda 18 bertanya pada saya. Siapakah penulis Indonesia favorit kamu? Saya jawab, ada beberapa orang. Tiga di antaranya adalah Sindhunata, Seno Gumira Ajidarma, dan Eka Kurniawan.

Kali ini, saya akan cerita tentang Sindhunata. Dia seorang imam Jesuit, filsuf, budayawan, dan penulis. Yang paling saya suka dari tulisan-tulisan Romo Sindhu adalah kelincahannya dalam menyematkan refleksi tajam dalam tulisannya – entah feature, esai filsafat dan budaya, maupun kisah-kisah sederhana – saya senang menyebutnya kisah-kisah receh. Ia piawai memberi makna atas fenomena-fenomena dunia dan keseharian yang biasa. Bahkan, hal-hal yang tampaknya tak ada maknanya sama sekali.

Menjelang milenium, saya benar-benar menikmati kisah-kisah yang ia tulis tentang kehidupan bersahaja. Kehidupan orang-orang desa di lereng Merapi. Ia menuliskannya dalam buku Ndherek Sang Dewi Ing Ereng-erengin Redi Merapi (Kanisius, 1995) yang kemudian “diindonesiakan” dalam Mata Air Bulan (1998).

Buku ini saya baca saat saya masih di asrama. Asrama yang mengajari penghuninya merefleksikan hari-hari dalam terang iman. Buku ini cukup membantu saya bagaimana menemukan makna dalam rutinitas dan kehidupan biasa. Romo Sindhu mengaitkan kisah mata air Sumur Kitiran Mas di Gereja Maria Asumpta Pakem, perjumpaan dengan perempuan-perempuan gunung yang sederhana, katak-katak dan hujan, dengan kearifan lokal dan iman Katolik.

Kisah-kisahnya bikin “nyes” di hati. Saya senang menggambarkan tulisan Sindhunata ibarat air kata-kata. Jernih. Dalam. Menyegarkan. Air Kata-Kata merupakan judul buku Sindhunata juga. Diterbitkan Galang Press, 2003. Air Kata-Kata merupakan kumpulan puisi-puisi Romo Sindhu. Saya sudah lama membacanya.

Belum lagi berita kisah yang Sindhunata tulis saat menjadi wartawan Kompas. Kisah-kisah orang pinggiran di Jakarta, seperti pemulung, kehidupan malam di lokalisasi sopir oplet, dan sebagainya ia tulis dalam perspektif kemanusiaan yang menyentuh. Ada yang bilang tulisan Jesuit kelahiran Malang ini mengusung humanisme transendental.

Kumpulan feature Sindhunata diterbitkan dalam empat buku, yakni Burung-Burung di Bundaran HI, Ekonomi Kerbau Bingung, Petruk Jadi Guru, dan Segelas Beras untuk Berdua. Buku-buku ini hampir selalu menjadi rujukan saban pelatihan menulis feature digelar. Sindhunata piawai membawa pembaca masuk ke dalam suasana dan kemanusiaan tokoh dalam tulisannya.

Pada suatu masa, saya pernah punya keinginan bisa menulis seperti Romo Sindhu. Sederhana namun dalam. Pastinya bukan lelaku gampang. Kira-kira tahun 1999. Romo Sindhunata pernah datang di komunitas asrama. Ia melakukan sharing penulisan. Satu hal yang masih saya ingat. “Proses menulis itu ibarat tukang keramik. Ia mengolah tanah liat. Awalnya kasar, tapi karena proses berulang, hasilnya jadi halus,” ujar Romo Sindhu.

Sebenarnya, saya mulai berkenalan dengan Sindhunata sejak saya baca Anak Bajang Menggiring Angin (Gramedia, 1983). Novel ini saya baca saat masih berada di asrama Mertoyudan. Asrama SMA yang pintu gerbangnya menantang Merapi dan Merbabu.

Saya tahu novel itu sejak masih tinggal di rumah Jogja. Tepatnya di kamar kakak perempuan saya, mbak Rina. Mbak Rina lebih dulu membaca novel karya lulusan doktoral fisafat Munchen tahun 1992 ini.

Saking ngefansnya sama Romo Sindhu, kakak saya membaptis anak semata wayangnya dengan Gabriel Possenti, nama baptis yang dikenakan Sindhunata. Saya juga pernah mau menamakan anak lelaki saya dengan Sindhunata. Namun, saya urung memakai nama itu.

Berkat pembacaan Anak Bajang tadi, saya pernah menulis.  Tulisan saya dimuat di majalah AQUILA, majalah paling bergengsi sebumi Merto. Judulnya “Hidup Batin Bercermin pada Pengalaman Wisrawa-Sukesi” (1995). Lumayan buat berlatih menulis.

Romo Sindhu tetap penulis idola bagi saya sampai sekarang.  Tak heran, begitu melihat sosoknya di perayaan tahbisan kawan saya, Romo Peter Devantara SJ, di Kolese Santo Ignatius, Juli 2016, saya ajak dia selfie. Sah-sah saja tho kalau pembaca bertemu dengan penulisnya. Siapa tahu kesetrum dan bisa menulis mendalam seperti dirinya.

Romo Sindhu merupakan penulis produktif. Masih banyak karya yang belum saya sebutkan di sini. Misalnya, novel Putri Cina, Kambing Hitam: Teori Rene Girard, Cikar Bobrok, Aburing Kupu-Kupu Kuning, dan sebagainya. Belum esai-esainya di jurnal-jurnal filsafat dan majalah budaya seperti BASIS. Plus, ulasan-ulasannya tentang sepak bola. Sindhunata bisa mengaitkan bola dengan sisi kehidupan manusia lainnya, seperti musik, sejarah, filsafat, hingga politik.

Apa makna menulis bagi Sindhunata? Dalam tulisan di blog saya berjudul “Jalan Sunyi Seorang Penulis” (2007), saya pernah menulis kutipan Sindhunata tentang renungan Marguerite Duras dari suatu sumber. Ia mengatakan, menulis itu tak jauh dari kesunyian. Dalam kesunyian, orang bisa menjadi liar.

“Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah. Maka menulis itu sebenarnya bukan hanya menulis, tapi mengalahkan kelemahan dirinya, menundukkan apa yang dihadapinya,” ujar Romo Sindhu.

Menurutnya, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik. Tapi, kesepian bukanlah saat untuk beromantisme. Kesepian itu, sambung Romo Sindhu, adalah suasana. Ia menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan. “Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian,” katanya.

Saya makin paham, menulis bukan soal mood atau tidak mood. Tapi, soal laku disiplin dan asketik. Berani menerobos kesepian dan kegundahan. Bahkan, seperti dikatakan Romo Greg. Soetomo SJ pada saya di sebuah sore di Kampung Ambon pada dahulu kala, bahwa menjadi penulis itu harus berani menjadi The Prodigal Son, Anak Hilang. Ia mungkin akan “hilang” sementara dari keramaian komunitasnya, keluarganya, dan sebagainya. Dan, datang kembali membawa karya tulis.

Itulah Sindhunata. Saya masih ngefans dirinya dan ingin bisa menulis sepertinya. Sebuah aliran air kata-kata. Jernih. Menyegarkan. Karena jernih, tampaklah kedalaman. Plus lincah menyematkan refleksi dalam hal-hal receh. Persis seperti semangat majalah Utusan yang sedang Sidhunata asuh: Dalam Segala Mencari DIA. 

Apa kabar Sindhunata?

One Reply to “Sindhunata”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *