Perempuan itu pergi pagi-pagi. Tepatnya saat hujan belum lama berhenti setelah berjam-jam menghajar malam. Ia berpulang setelah sekian lama berjibaku melawan kanker paru-paru stadium empat. Ia pergi meninggalkan pesan: “Hidup itu sekolah. Ujiannya cuma dua: diberi apa-apa yang tidak disuka dan kehilangan apa-apa yang dicinta.”

Buku ini merupakan kumpulan refleksi atas kisah-kisah sederhana tentang perjumpaan penulis dengan orang-orang. Tentang kematian, rasa rindu, pertanda, persahabatan, iman, pengharapan, dan cinta. Penulis berkeyakinan, hidup mati itu bergelimang makna, asalkan kita mau “menyelam” sedikit lebih dalam dari aneka permukaan peristiwa.