Saya, Jokowi, dan Sesuatu yang Lebih Besar Itu

Saya dan Jokowi saat di rumahnya di Solo, tahun 2014

Seorang teman bertanya pada saya, “Mas, kamu itu golput atau pro Jokowi? Kok statusmu seperti seorang buzzer golput dan suka nyindir-nyindir Jokowi sekarang?”

Sebelum menjawab, saya cerita singkat kilas balik pengenalan saya akan sosok Jokowi. Semua narasi ini saya bingkai dalam refleksi personal. Anggap saja catatan di buku harian saya. Iya, sangat personal. Jadi, kalau kamu punya refleksi lain dan berbeda dengan saya, silakan dan saya akan hormati.

Kenal Jokowi sejak namanya mencuat sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Sebagai media darling, sosoknya jadi magnet pemberitaan. Saya pun memberikan suara untuk Jokowi saat maju sebagai gubernur. Didampingi Ahok – sosok yang tak kalah fenomenal itu.

Saat maju sebagai calon presiden pada tahun 2014, saya kembali memberikan suara untuknya. Dia menjadi pilihan paling tepat: sosok yang merakyat, non militer, berjejak rekam bagus, berintegritas, dan humanis. Apalagi lawan tandingnya Prabowo yang menjadi bagian mesin Orde Baru dengan segudang rekam jejak masa lalu yang buruk dan mengerikan. Jokowi hadir memberi harapan baru.

Orang-orang dekat Jokowi yang saya jumpai, tahun 2014

Pada medio Juli 2014, usai pencoblosan pilpres, sebagai wartawan saya diterima di rumahnya di Solo. Siang itu, ibu Iriana sendiri yang membukakan pintu. Tak lama, bersetelan putih, Jokowi muncul dari balik pintu. Menemui kami dengan senyum dan keramahan. Bertolak dari rumahnya, kami berlanjut menemui sosok-sosok yang dekat dengan Jokowi. Pengenalan saya akan sosok Jokowi makin lengkap – sekaligus mantap. Kala itu.

Sejak awal, sebagai pemilih Jokowi, saya tak mau menjadi pemilih fanatik dan gelap mata. Saat ia menjadi presiden periode pertama, misalnya, saya senang hati memujinya, sekaligus merdeka mengkritiknya. Jokowi mengembuskan banyak perubahan untuk Indonesia. Terobosan-terobosan baru yang tak (berani) dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya, Jokowi lakukan. Dua jempol untuk lelaki kerempeng nan pemberani ini. Belum lagi infrastruktur yang makin merata, birokrasi yang makin ringkas, kerja nyata, kepemimpinan yang merakyat, hingga ekonomi yang bagus. Semua itu saya puji dan syukuri.

Sisi lain, sosok Jokowi mengecewakan dalam beberapa hal. Saat Jokowi menerapkan hukuman mati, misalnya, saya menentangnya. Hukuman mati jelas menciderai harkat dan martabat manusia dalam segala kondisi. Padahal melindungi kehidupan adalah landasan utama dari hukum-hukum di atasnya.

Saat pilpres 2019, pencitraan Jokowi begitu kental. Banyak hal, ia lakukan, menurut saya, semata-mata demi perolehan suara. Bahkan, kalau keputusan itu bertentangan dengan apa yang ia ucapkan sendiri. Saat Jokowi memilih KH Maruf Amin, jelas saya tidak sependapat mengingat rekam jejaknya. Di sini, Jokowi pun memainkan politik identitas, politik yang justru beseberangan dengan upaya mendewasakan kehidupan demokrasi di Indonesia. Belum lagi kasus Munir, Novel yang misterius, Meiliana, agraria, dan sebagainya.

Keprihatinan saya lainnya justru diwakili oleh gagasan-gagasan dari mereka yang saat ini mencanangkan diri golput. Entah soal penegakan hukum, penuntasan isu HAM, perusakan lingkungan, kekuasaan oligarki, presidential treshold, dan sebagainya. Golput yang saya maksud golput progresif, bukan golput karena manja dan malas ikut mikirin pemilu.

Banyak gagasan dari mereka yang golput sangat substansial untuk perbaikan negeri ini. Beda dengan banyak pendukung kedua capres — tentu tak semua, yang sekadar gaduh sebagai cheerleaders pemilu yang hanya memuji-muji dan memaki-maki tanpa isi.

Sayangnya, banyak pihak khususnya yang pro Jokowi langsung alergi dengan gagasan-gagasan progresif itu karena mereka golput. Kenyinyiran brutal langsung membombardir golputer. Golputer dicap sebagai sampah, pucuk tahi, tak bertanggung jawab, parasit, mental freak, hingga bodoh. Masak segitunya, sih?

Saat Romo Franz Magnis-Suseno SJ menulis opini di Kompas, saya ikut bereaksi. Kenyinyiran brutal itu tak hanya merembes di tingkat emosional, tapi juga intelektual.

Cara penyampaian Romo Magnis sarkastik. Kenapa? Saya mencoba berkontemplasi tentang orang-orang yang memutuskan golput itu. Keputusan itu tentu bukan main-main. Pasti berangkat dari pengalaman historis yang sangat personal dan tak dimiliki oleh orang lain. Pengalaman historis personal ini saya anggap sebagai wilayah “sakral” masing-masing pribadi yang pantas dihormati dan tak terusik. Pengalaman itu bisa berupa kekejaman yang dilakukan negara di masa lalu, misalnya. Anak-anaknya ditembak mati, keluarga mereka dibakar hidup-hidup dalam kerusuhan berbau rasial, rumah-rumah mereka yang dirampas atas nama pembangunan, dan korban-korban kekejaman negara masa lalu.

Sementara, negara tidak hadir untuk mereka. Bahkan, para jenderal yang terindikasi kuat sebagai otak penculikan, penembakan mahasiswa, kerusuhan Mei, dan kejahatan HAM lainnya, malah malang melintang di bawah pemerintahan Jokowi. Bahkan, seperti di masa-masa presiden sebelumnya, dibiarkan nyapres berkali-kali tanpa diadili. Jokowi pun sampai hari ini belum memenuhi janji (baca: ingkar janji) kampanyenya dalam Nawa Cita terkait penuntasan masalah HAM.

Bersama Maria Sumarsih dalam Aksi Kamisan depan istana.

Nah, apakah para korban yang terus berjuang di jalan sunyi dan memutuskan tidak memilih ini pantas disebut parasit negara atau pucuk tahi? Sungguh penghinaan yang luar biasa. Cacian yang jauh dari semangat berhikmat dan bermartabat, semangat yang sedang dicanangkan Gereja Katolik Jakarta di masa pra Paskah ini. Respek buat mereka setinggi-tingginya.

“Mas, sampean tidak takut kualat pada Romo Magnis? Dia kan dosen kamu saat di STF Driyarkara?” Keberanian dan kebebasan ini justru beliau sendiri ajarkan saat di bangku kuliah kala itu. Berani bicara bila memang tidak sependapat.

Semangat “Tak Menanti Sempurna” yang memberanikan kami. Semangat ini ditanamkan oleh almarhum Romo Adi Wardaya SJ saat membakar hati anak-anak muda dampingannya. Jadi, tak perlu harus menjadi pandai lebih dulu untuk menyodorkan kebenaran di depan orang cerdik pandai. Tak perlu menjadi suci lebih dulu untuk menunjukkan kesalahan alim ulama. Tak perlu menunggu usia tua dulu, untuk menunjukkan kesalahan orang-orang tua. Tentu, tak perlu menjadi filsuf lebih dulu untuk mengutarakan ketidaksepakatan dengan seorang guru besar filsafat. Bukan demikian?

Keputusan

“Jadi, sampean menolak tulisan Romo Magnis, berarti sampean golput?” Ada yang saya tolak (caranya yang sarkastik seperti alasan di atas), ada yang saya sepakati.

Saya sepakat dengan guru saya bahwa memilih itu sarana untuk tujuan yang lebih besar. Bahkan, jauh lebih besar dari pilihan itu sendiri. Romo Magnis membahasakannya dengan memilih untuk mencegah yang terburuk berkuasa.

Saya pernah mendapatkan latihan melakukan pemilihan secara Ignasian. Semangatnya satu: magis (mencari sesuatu yang LEBIH). Lebih apa? Sesuatu yang lebih mengantarkan kita pada keselamatan dan kemuliaan Allah yang lebih besar (baca: dalam konteks ini, demi kehidupan bersama di Indonesia yang lebih baik). Modal utamanya sikap lepas bebas dan kerendahan hati. Melepas kemelekatan (ego, gagasan, harta duniawi, ideologi, kekuasaan, dsb) tak gampang. Tak jarang menimbulkan rasa sakit.

Sekarang, saya berada di hadapan tiga pilihan: Jokowi, Prabowo, dan golput. Dan, saya memutuskan memilih Jokowi lagi. Ini pilihan terbaik di antara yang buruk saat ini dan di sini (hic et nunc) untuk mencapai sesuatu yang lebih besar tadi. Memang dia bukan pilihan ideal. Bukan Superman, tapi orang biasa seperti halnya Suparman dan Dilan.

Bagaimana Prabowo? Dia bukan pilihan saya. Alasannya, banyak potensi lebih buruk yang bakal terjadi bila ia berkuasa. Selain masalah kompetensi dan rekam jejak masa lalunya, juga kubu-kubu pendukungnya yang rekam jejaknya sama-sama buruk (intoleransi, persekusi, korupsi, pabrik hoax, cita-cita kilafah, dsb). Bila mereka berkuasa, saya pribadi merasa akan lebih susah mewujudkan ide-ide progresif tersebut.

Sementara, menjadi golput menurut saya pribadi, tidaklah cukup untuk konteks sekarang. Bahkan, untuk mencapai cita-cita progresif yang diusungnya. Kekuatan golput saat ini masih kurang besar dalam kontestasi saat ini. Dengan tidak memilih yang lebih baik, saya memperbesar potensi yang lebih buruk berkuasa. Sebab itu, dengan segala keterbatasan pengalaman dan kesadaran, saya secara personal, memutuskan untuk tidak golput.

Saya optimistis ide-ide progresif dari yang golput justru lebih terakomodasi ketika negara ini dikuasai oleh yang lebih baik dan bukan yang lebih buruk, bahkan ketimbang saya memutuskan untuk golput itu sendiri. Dalam konteks ini, menjadi golput tidaklah cukup.

Dan, saya masih melihat secercah harapan bahwa Jokowi masih mendengarkan suara-suara profetik dari mereka yang golput ini. Khususnya, dalam penuntasan kasus pelanggaran berat HAM masa lalu yang menjadi janjinya di periode pertama. Kolaborasi Jokowi dan ide-ide progresif ini justru akan menjadi energi baru bagi Indonesia. Toh, menjadi orang baik saja tidaklah cukup.

Suara-suara profetik mereka, bagi saya, jauh lebih berharga bagi Indonesia, ketimbang kegaduhan dan kenyinyiran brutal para pendukung capres yang gelap mata tapi tanpa substansi. Para pendukung capres yang justru bermental Orde Baru yang menjadikan pilihan mereka antikritik, baperan, dan mudah marah. Mereka hanya menghendaki realitas seperti apa yang mereka pikirkan dan maui.

Saya akhirnya memilih Jokowi bukan sebatas Jokowinya. Tapi, sesuatu yang lebih besar dari sekadar Jokowi. Dan, saya siap bergabung dalam kegembiraan demokrasi sekaligus perlawanan. Bukan perlawanan ala Presiden Jokowi yang barusan ia kumandangkan di Jogja. Tapi, perlawanan yang sudah sekian lama dilakukan oleh rakyat biasa yang sudah kenyang dengan aneka kekejian, fitnah, hoax, intimidasi, persekusi, dsb — bahkan kekejian yang mereka terima dari instrumen negara. Perlawanan dari mereka yang berpayung hitam dalam aksi diam di depan istana setiap Kamis.

Buat teman-teman pemilih Jokowi, pilihan kita sama, tapi pijakan kita berbeda. Buat teman-teman golput, mungkin pijakan kita sama, tapi pilihan kita berbeda.

Ya, pada akhirnya saya menyadari bahwa keputusan memilih ini, sepersonal apa pun, bukan sekadar keputusan politis, tapi juga keputusan rohani.

Inilah buah refleksi personal saya. Mungkin kamu punya refleksi yang berbeda. Semoga saling memperkaya. Lebih penting dari itu, jangan biarkan pemilu ini merusak persaudaraan dan solidaritas antarkita sebagai warga Indonesia, apa pun pilihannya. Apalagi membuat kemanusiaan kita lebam-lebam.

Salam suka cita!

Kebon Jeruk, 25 Maret 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *