Kopi, Buku, dan Film

Month: April 2019 Page 1 of 2

Dokter Bilang Aborsi, Ibu Bilang Jangan

Saya suka dengan cerita. Selalu ada hikmah yang dijumput dari balik cerita. Apalagi kalau cerita-cerita itu merupakan bagian kehidupan nyata orang-orang. Termasuk cerita dari orang-orang yang belum saya kenal atau belum pernah saya jumpai sama sekali.

Ada Ibu di Antara Bintang-Bintang Itu

Sumber: Pinterest

Saya masih memelototi layar laptop. Siang kemarin. Mengedit video-video seputar hajatan kantor sepekan ini. Sesekali, menengok layar henpon. Facebook masih sama dengan hari-hari kemarin. Penuh kisah-kisah pandir dan menghibur. Dari mainan presiden-presidenan, gubernur yang menyalahkan banjir kiriman, hingga mantan jenderal yang konon bisa ngobrol dengan kucing, nyamuk, dan semut.

Tanda Tangan Penulis

Dua buku yang saya pesan tiba. Dua hari lalu. Bungkusnya baru saya buka kemarin. Buku pertama karya Linda Christanty berjudul Hikayat Kebo. Buku kedua karangan Eka Kurniawan berjudul Senyap yang Lebih Nyaring. Keduanya diterbitkan Penerbit Circa.

Kata-kata Yang Hidup

Martin Aleida. Foto: Sigit Kurniawan

Paskah itu perihal kebangkitan. Perihal hidup. Demikian juga menulis. Menulis itu upaya menghidupkan kata-kata. Mengembusinya dengan roh.

Hari ini, saya mau menceritakan sisa-sisa perjumpaan dengan Martin Aleida. Soal filosofi menulis ala Martin sudah saya ceritakan di tulisan pertama. Judulnya, Martin Aleida, Sastrawan Penyintas Peristiwa 1965.

Petrus di Tengah Aksi 212

Peter’s Denial. Sumber: commons.wikimedia.org

Setiap kali memasuki pekan suci atau pekan mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, saya selalu teringat Petrus. Sosoknya begitu nyata. Kok bisa?

Petrus, murid yang sesumbar akan mengikuti Yesus secara militan. Sayangnya, militansi Petrus runtuh seketika begitu melihat gurunya ditangkap, digelandang, dan akan dihukum mati. Ia menyangkal Yesus menjelang masa sengsaraNya. Tiga kali pula.

Piring Kosong Untuk Wawan

Maria Sumarsih bersama foto Wawan di rumahnya (2017). Foto: Sigit Kurniawan

Maria Sumarsih sampai sekarang masih menyediakan piring kosong untuk anak lelakinya. Lengkap dengan sendok, garpu, dan gelas di meja makan. Itu terjadi saban makan bersama digelar. Di luar makan bersama, piring itu tetap ditaruh rapi. Tertelungkup. Lengkap dengan semua perkakasnya. Siapa tahu anak lelakinya itu pulang ke rumah dan mau makan.

Golput Itu Ibarat Nabi yang Kesasar di Padang Gurun

Sumber: todayintago.wordpress.com

Malam-malam, sekitar dua jam usai KPU mengumumkan masa tenang, saya justru tidak tenang. Kenapa? Karena kebanyakan minum kopi dan tak bisa tidur.

Makin tak tenang setelah menemukan statusnya Feby Indirani. Intinya, dia menilai gagasan-gagasan perlawanan yang diusung golput itu, menurut sepenangkapan saya, absurd dan tak efektif.

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén