Ada Ibu di Antara Bintang-Bintang Itu

Saya masih memelototi layar laptop. Siang kemarin. Mengedit video-video seputar hajatan kantor sepekan ini. Sesekali, menengok layar henpon. Facebook masih sama dengan hari-hari kemarin. Penuh kisah-kisah pandir dan menghibur. Dari mainan presiden-presidenan, gubernur yang menyalahkan banjir kiriman, hingga mantan jenderal yang konon bisa ngobrol dengan kucing, nyamuk, dan semut.

Tanda Tangan Penulis

Dua buku yang saya pesan tiba. Dua hari lalu. Bungkusnya baru saya buka kemarin. Buku pertama karya Linda Christanty berjudul Hikayat Kebo. Buku kedua karangan Eka Kurniawan berjudul Senyap yang Lebih Nyaring. Keduanya diterbitkan Penerbit Circa.

Kata-kata Yang Hidup

Paskah itu perihal kebangkitan. Perihal hidup. Demikian juga menulis. Menulis itu upaya menghidupkan kata-kata. Mengembusinya dengan roh. Hari ini, saya mau menceritakan sisa-sisa perjumpaan dengan Martin Aleida. Soal filosofi menulis ala Martin sudah saya ceritakan di tulisan pertama. Judulnya, Martin Aleida, Sastrawan Penyintas Peristiwa 1965.

Petrus di Tengah Aksi 212

Setiap kali memasuki pekan suci atau pekan mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, saya selalu teringat Petrus. Sosoknya begitu nyata. Kok bisa? Petrus, murid yang sesumbar akan mengikuti Yesus secara militan. Sayangnya, militansi Petrus runtuh seketika begitu melihat gurunya ditangkap, digelandang, dan akan dihukum mati. Ia menyangkal Yesus menjelang masa sengsaraNya. Tiga kali pula.