Kucumbu Tubuh Indahku: Narasi Getir dan Trauma

Tiket bioskop ini akhirnya jatuh ke tangan saya juga. Film “Kucumbu Tubuh Indahku” pun sudah saya tonton. Bolehlah sekarang saya berkomentar atas film ini setelah sekian lama gatel ingin berkomentar.

Biar enteng berkomentar, saya harus “membunuh” Garin Nugroho lebih dulu. Kok gitu? Mengutip Roland Barthes (1915-1980), semiolog Prancis, pengarang itu mati begitu karyanya diterbitkan. Karya itu hidup sendiri dan berdialog dengan audiensnya. Demikian juga dengan film Garin ini. Sekarang, ia bebas dinikmati dan ditafsirkan sendiri oleh penonton. Tanpa terlalu terbebani untuk memikirkan maksud sang sutradara.

“Film ini keren banget!” Kata saya di tengah kegaduhan menolak dan memboikot film yang dianggap mempromosikan LGBT itu. Film ini, bagi saya, kental bermuatan filsafat manusia. Ia bicara soal ketubuhan, trauma, kekuasaan, dan kekerasan. Sinematiknya pas, kadang tampak teatrikal.

Juno dalam busana lengger. Foto: Alinea.id

Soal trauma, Garin mengangkat trauma Peristiwa 1965. Trauma ini memengaruhi kehidupan tokoh-tokoh cerita film tersebut lintas generasi. Termasuk hidup Juno, karakter utama film ini. Trauma ini tergambar jelas dalam dialog Juno dengan pakdhenya.

Setiap tubuh punya trauma. Keluarga besar kita penuh dengan trauma badan. Bapakmu selalu pergi ke sungai itu karena trauma waktu kecil melihat keluarga besar kita dibantai di sungai itu,” ujar pakdhe Juno yang berprofesi sebagai tukang jahit kampung.

Bapak Juno adalah seorang dalang. Ia dituduh komunis hanya karena pernah diundang pentas di acara partai. “Tahun 1965, keluarga kita yang tersisa jadi terasing. Mereka memilih kerja diam-diam dan sendiri. Bapakmu saiki lari ke pulau lain. Jauh dan tak mau mendekat sungai itu,” katanya.

Mendengar dialog itu, saya kemudian membayangkan bagaimana Soeharto dengan militernya membantai orang-orang yang dituduh PKI. Membuang tubuh-tubuh mati mereka di sungai. Sungai pun memerah darah.

Di situasi itu, pakdhe menasihati Juno agar tak lari dari kenyataan. “Semua trauma itu bagian dari hidup. Kamu harus mencintai badanmu. Itu yang membawa hidupmu,” kata pakdhe Juno sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

Mempersiapkan tarian Lengger. Foto: Harnas.co

Trauma sejarah itu mengental dalam diri Juno, bocah lanang bertubuh lembut yang menjadi penari Lengger. Menurut sejarah, tari asal Banyumas ini sudah ada sejak zaman Majapahit. Tari ini dipentaskan oleh laki-laki. Mereka menari dan berdandan seperti perempuan. Tak ayal, banyak pihak antitari ini menganggapnya sebagai praktik LGBT.

Stigmatisasi dan kekerasan pada tubuh ini tergambar jelas dalam adegan-adegan film. Ini cenderung dilakukan oleh mereka yang merasa memegang kekuasaan. Kata Michel Foucault (1926-1984), pemikir Prancis, kekuasaan itu ada di mana-mana. Kekuasaan ini satu dimensi dengan relasi. Di mana ada relasi, di situ ada kekuasaan. Di film itu, kekuasaan menindas itu hadir di relasi politik, moral, ekonomi, gender, guru-murid, hingga ruang privat bernama rumah.

Di politik, stigmatisasi ini muncul dalam adegan bupati yang sedang bertarung dalam pilkada. Suatu ketika, karena alasan politik dan kecemburuan, Juno dan klub tari Lenggernya dilabeli komunis. “Kalau mereka macam-macam, bilang saja mereka adalah PKI baru,” ucap sang bupati. Bupati segera mengirim orang bayarannya dengan satu pesan. “Kowe-kowe kudu reti. Jangan sampai ninggalin jejak. Kalau sampai ninggal jejak, jejakmu aku hapus.”

Kekerasan atas nama moral terjadi dengan pengusiran paguyuban seni Lengger. Istri bupati bilang, kelompok Juno harus diusir dari masyarakat karena hanya akan merusak moral anak-anak muda. Hal yang sama terjadi ketika warga kampung menggelandang tubuh guru tari perempuan karena dituduh melakukan tindakan asusila terhadap muridnya. Nah, bukankah kedua isu ini selalu renyah digoreng di masa pemilu, seperti pemilu tahun ini? Di sinilah, relevansi film Garin dengan kekinian.

Ada dialog menohok praktik politik kotor tersebut. Ini diungkapkan oleh teman (baca: pacar gelap) perempuan istri bupati. “Caramu menang itu merusak hidup. Kamu akan sepi seumur hidupmu. Tubuhmu sepi. Apa pun kemenanganmu, kamu akan kalah. Hidupmu sepi.” Ini seolah menjadi peringatan bagi para politikus yang doyan berkontestasi dengan cara-cara kotor.

Seorang warok bertopeng. Foto: Beritagar.id

Kekerasan ekonomi terwakili oleh sosok petinju, pelanggan jahit baju sekaligus teman baru Juno. Lelaki ini mengaku terpaksa jadi petinju karena lahan tani di kampungnya habis. Ia harus bekerja. Dia anak sulung dan memiliki banyak adik. Mereka semua butuh makan. Lagi pula ia juga butuh uang untuk mengawini perempuan. Terpaksa ia “menjual” tubuh atletisnya.

Juno dan sang petinju. Foto: ngopibareng.id

Mimpi petinju itu untuk menguasai tubuhnya sendiri kandas. Ia terperangkap dalam permainan preman bermodal. Preman ini menjadikan tubuhnya sebagai alat judi. Preman itu akan memberinya uang jika ia menang. Sayangnya, petinju itu kalah. Ia terpaksa memberikan tubuhnya untuk disembelih, diambil ginjalnya dan dijual.

Kekerasan atas tubuh juga terjadi di kelas. Guru, si pemegang kekuasaan, menjadi pelakunya. Dianggap bikin onar, Juno kecil dihukum gurunya menulis di papan tulis dengan kapur yang ada di mulutnya. Di rumah pun demikian. Juno harus menerima hukuman badan karena dinilai tak menuruti nasihat bibinya. Ia dihukum dengan ditusuk jarinya dengan jarum hingga berdarah.

Kekerasan demi kekerasan menimbulkan trauma. Saat masih kecil, Juno menyaksikan bagaimana seorang guru tari Lengger membantai tubuh murid lanangnya dengan clurit. Darah muncrat ke mana-mana. Sampai sini pertanyaan muncul: siapa sebenarnya pemilik otonomi atas tubuh itu?

Nampaknya, tragedi tubuh akan terus terjadi, kapan pun dan di mana pun. Hal ini kentara diteriakkan oleh Juno saat melihat pertarungan berdarah antarwarok berclurit. “Nang endi-endi getih, nang endi-endi getih atau di mana-mana darah, di mana-mana darah,” teriak Juno ketakutan sembari membasahi tubuhnya di bak air.

Film Garin ini sarat pesan dan kritik sosial. Hampir selalu, kekuasaan itu cenderung menindas dan memunculkan trauma bagi korban. Dan, tragedi kemanusiaan tampil paling benderang dalam penghancuran tubuh. Penghancuran ini terjadi karena kebencian dan rasa lebih berkuasa untuk melenyapkan liyan atau yang berbeda dengannya. Entah beda kepercayaan, agama, preferensi seksual, ras, suku, hingga pilihan politik. Tubuh merekam trauma dan sejarah kekerasan itu. Tubuh yang dilukai, dibakar, dipukuli, diperkosa, hingga ditembaki.

Pesan ini jauh lebih dalam dari sekadar kekuatiran norak mereka yang memboikot film ini karena alasan LGBT. Fenomena boikot ini justru memperingatkan kita bahwa ancaman kekerasan pada tubuh itu masih nyata hingga hari ini. Atas nama kuasa moral dan agama, orang-orang LGBT masih mengalami persekusi, perlakuan seperti binatang, dan kekerasan yang bahkan berujung pada kematian.

Rianto yang dalam film bermonolog sebagai narator. Film ini juga terinspirasi dari kehidupan Rianto, seniman Lengger. Foto: Warta Kota

Jadi, siapa sebenarnya pemilik otonomi tubuh manusia itu? Juno beberapa kali dalam film itu mencoba melukai tubuhnya dengan jarum. Jarinya berdarah dan ia merasakan sakit. Nah, di sini ada pesan moral kuat. Kalau itu menyakitkan diri kita, jangan lakukan itu pada orang lain. Immanuel Kant (1724-1804) bilang, apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepada kita, maka jangan lakukan itu kepada orang lain.

Apakah itu sudah cukup? Tampaknya tidak. Pikiran dan jiwa kita kadang merasa lebih berkuasa pada tubuh. Lalu memperlakukan tubuh semena-mena dengan bekerja tanpa istirahat. Padahal tubuh perlu didengarkan. Tubuh pun butuh kasih sayang. Hal ini tersirat dalam kutipan sang petinju itu. “Aku anak paling gede. Dari kecil, aku selalu dengar, tanggung jawabmu kuwi gede, le. Kerjo, kerjo, kerjo. Ora pernah sekali pun aku ngerasakno dipeluk,” katanya.

Tulisan ini saya selesaikan lima hari usai para polisi Bandung menelanjangi dan menggunduli ratusan ABG peserta May Day yang dicap kelompok anarko-sindikalis. Sehari setelah Andre Taulany dilaporkan polisi terkait dugaan penistaan agama. Hingga eksploitasi kasus Vanessa Angel tak henti-henti.

Dan, untuk segala upaya memboikot dan melarang film ini dengan alasan agama dan moralitas sempit, hanya satu kata: lawan!

— Kebon Jeruk, 5 Mei 2019


Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

2 Comments

  1. Naturaamatoribus

    Ulasan film dibarengi dengan pemikiran yang matang dan referensi perspektif yang jempolan. Apresiasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *