Kata adalah Senjata

Pada tahun 2015, saya pernah diundang mengajar teknik menulis. Pesertanya ada delapan orang. Mereka berasal dari Papua. Tepatnya dari Wasior, Wamena, Sorong, Fak-Fak, dan Jayapura.

Panitia minta saya mengajari cara menulis sederhana. Tujuannya, mereka mampu mengangkat dan melaporkan isu-isu di Papua, dari kekerasan, bencana alam, KDRT, investasi liar, hingga HIV AIDS.

Subcomandante Marcos. Sumber: DevianArt

Satu lagi pesan panitia, biarkan mereka mengisahkan isu-isu yang mereka lihat sendiri sehari-hari. Kelas ini berlangsung empat jam. Usai mendapat teori, mereka praktik menulis.

Ada yang cukup maju dalam penulisan. Isu-isu yang mereka angkat sangat memikat. Namun, ada juga yang masih perlu ekstra keras menerapkan teknik dasar menulis agar tulisan itu bunyi alias bisa dibaca. Berikut saya salin apa adanya tulisan dua partisipan.

“Di kampung lusiperi kampung yang saya dilahirkan kampung ini diatas ketinggian 200, kaki diatas permukaan laut awal nya, masih satu, desa dengan gewirpe namun dalam perjalan yang panjang kami sendiri atau kami dimekarkan kampung ini…”

Seorang lagi menuliskan seperti ini. “Saya melihat pohon di hutan bertumbuh, dengan berakar sendiri dari tanah, hutan, dan berbagai jenis pohon dan hutan di sekitarnya, tidak terpisa karena satu alam yang sama bertumbu pohon dan secara berganti tumbuh dari hutan yang sama, artinya yang lain atau juga…”

Saya sedikit kaget. Tulisan itu tak berbunyi. Lalu saya teringat dua sosok. Satu orang Mexico bernama Subcomandante Marcos. Satu lagi orang Cinere bernama Hendra. Marcos adalah seorang gerilyawan Zapatista pemilik kutipan legendaris, kata adalah senjata.

Hendra, bukan gerilyawan, adalah kawan sekantor. Saat sama-sama memberi kelas penulisan bagi reporter, ia membuka materinya dengan pesan: menulis untuk dibaca.

Kata-kata, bagi Marcos, adalah senjata untuk melawan dan sarana emansipasi. Namun, bila kata-kata itu seperti yang dituliskan dua teman dari kelas penulisan tadi, itu ibarat senjata, tapi senjata tumpul.

Saya makin ngeh kenapa banyak rezim korup di belahan bumi manapun tidak ingin rakyatnya pintar. Paling tidak membiarkan mereka jauh dari kemampuan baca tulis alias buta huruf.

Buku Fernandi Baez. Foto: Sigit Kurniawan

Cara paling bar-bar rezim itu adalah menghancurkan buku-buku. Fernando Baez merekam bibliocaust — penghancuran buku dalam bukunya Historia universal de la destruccion de libros (2004). Saya membaca edisi bahasa Indonesia berjudul “Penghancuran Buku, dari Masa ke Masa” (Marjin Kiri, 2013). Buku-buku dibakar karena buku menyimpan ingatan. Buku membuat orang sadar. Buku membuat orang kritis dan melawan.

Masih ingat tho, kasus tentara Indonesia merampas buku-buku berbau kiri atau komunis dari sebuah toko buku. Masih ingat juga tho diskusi buku kiri yang batal karena digerebek massa.

Menghancurkan buku, kata Fernando Baez, sama saja menghancurkan ingatan. Holokaus di Jerman diawali dengan penghancuran buku-buku. Penghancuran buku sepanjang tahun 1933, kata Baez, adalah awal dari pembantaian manusia pada tahun-tahun berikutnya. Tumpukan buku-buku yang dibakar konon menginspirasi dibuatnya krematorium kamp konsentrasi.

Saya percaya menulis dan membaca itu berkekuatan membebaskan. Saya mendukung teman-teman Papua untuk merdeka. Merdeka untuk apa? Merdeka untuk menuliskan sendiri kisah-kisah mereka masing-masing. Tanpa perlu didikte oleh pihak lain. Termasuk didikte dengan moncong senapan milik tentara.

Lalu, bagaimana bisa bersemangat membebaskan kalau tulisannya tidak bunyi. Pesan kawan saya Hendra tempo hari makin relevan: menulis untuk dibaca.

Sayangnya, ketakbunyian tulisan itu juga menjangkiti orang-orang pintar selevel sarjana, bahkan profesor. Sayangnya lagi, kata-kata di era pasca kebenaran seperti sekarang ini, dipakai untuk melukai, membully, dan menutupi kebenaran.

Tulisan ini saya tutup dengan kutipan Ray Bradbury. “Tak usah membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa. Buat saja orang-orangnya berhenti membaca buku.” Demikian ujar penulis Amerika ini.

Lalu, bagaimana agar mereka berhenti membaca buku? Paul Heru Wibowo, sahabat saya yang baru menerbitkan buku barunya “Atas Nama Dendam” menyahut: cukup beri mereka hape saja.

Betul demikian?

— Kebon Jeruk, 18 Mei 2019

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *