Baltazar dan Renungan Kebebasan Manusia

Novel ringkas karya Claudio Orrego Vicuña ini memang pantas disebut novelet. Tebalnya cuma 68 halaman. Edisi dalam Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Marjin Kiri (2018) dengan judul “Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub.”

Novel ini mengisahkan Baltazar, seekor beruang kutub yang ditangkap oleh pemburu dan kemudian dikandangkan di kebun binatang di Cile. Monolog-monolog Baltazar selama di kandang merupakan renungan-renungan seputar kemanusiaan. Tentang kebebasan, kekuasaan, kenangan, solidaritas, hingga ketimpangan sosial.

Memahami dunia manusia merupakan upaya tak gampang baginya. Ini terjadi sejak para pemburu mengobrak-abrik kampung halamannya di kutub utara. Mereka menangkapi singa-singa laut dengan kejam. Mereka merusak keheningan alam dengan seruan dan ledakan pada bongkahan-bongkahan es. Para penyerbu itu hanya menyisakan penderitaan di kutub. Orrego Vicuña menulis, lara itu ada di mana-mana, di setiap sudut, di balik setiap gunung es, dan bahkan di bawah air.

Di Cile, ia menjadi penghibur bagi pengunjung kebun binatang. Hidupnya sedemikian teratur (baca: diatur) — kapan harus makan, menghibur pengunjung, hingga istirahat. Ia harus tunduk pada aturan kebun binatang. “Sejak hari itu, aku mengerti watak sejati manusia-manusia yang ada di sekitarku,” ujarnya. “Aku harus mengakui bahwa manusia sangat piawai dalam menyembunyikan pikiran dan watak mereka yang sebenarnya.”

Kekuasaan manusia membuat si beruang harus tunduk. Ia harus menelan rasa kesal berhadapan dengan arogansi penjaga kandang yang kasar saat memberinya makan dan ogah-ogahan saat membersihkan kandang. Si Beruang sadar, para penjaga ini juga orang-orang upahan. Hidupnya pun penuh nestapa. Namun, begitu memakai seragam, mereka merasa seketika hidupnya berubah — berkuasa untuk membentak, memerintah, hingga mencaci.

Ia menjalin menjalin persahabatan dengan anak kecil yang menyambanginya di depan kandang. Ia berkesimpulan, anak-anak merupakan bagian paling indah dari umat manusia. Mereka memancarkan rasa dahaga akan kasih sayang dan sejenis perlindungan yang tak akan mungkin bisa diabaikan oleh seekor beruang.

Ia jatuh iba pada gadis kecil yang miskin. Ia melihat tragadi kemanusiaan di wajah anak malang itu. “Dalam raut wajah mereka yang tak berdaya, kau bisa melihat dunia ganjil penuh egoisme dan kekejian yang mengelilingi mereka.”

Ketimpangan sosial juga menjadi permenungan Baltazar. Dalam monolognya, ia bertanya, mengapa ada manusia yang punya apa saja dan manusia lainnya tidak punya apa-apa. Mengapa ada wajah-wajah yang mencerminkan kegembiraan hidup, sementara lainnya kelihatan hanya mendambakan perubahan nasib?

Baltazar mempertanyakan rasa solidaritas yang hilang antarmanusia. Situasi ini bertolak belakang dengan kehidupan binatang di kutub.

Aku ingat bahwa singa laut maupun burung camar yang berkaok-kaok tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Saat kemalangan menimpa, mereka akan selalu bersolidaritas agar semuanya bisa bahagia.”

Rasa iba itu memuncak ketika Baltazar melihat seorang anak diperlakukan kasar oleh seorang penjaga gara-gara melemparkan sesuatu yang dilarang ke dalam kandangnya. Penjaga itu melecut muka anak itu dengan cambuk hingga mukanya lecet berdarah. Baltazar ikut marah. Ia merenggut leher penjaga, menguncang-guncang, dan mendorongnya ke jeruji. Keonaran itu mereda usai penjaga-penjaga lain berdatangan. Baltazar dihukum dengan tak diberi makan selama seminggu. Selain tentunya dihukum dengan aneka siksaan. Dan, penjaga malang itu tak muncul lagi di kebun binatang.

Di kandang, usai penghukuman, Baltazar gelisah tak bisa tidur. Kenangan-kenangan masa lalu berloncatan di kepalanya. Tentang petualangan, lempeng es mahaluas, hingga asmara. Sampai ia sadar bahwa semua kini hanya kenangan. Namun, ia tetap menaruh harapan. “Saat itulah, aku sadar tak ada seorang pun yang bisa merampas apa yang pernah aku cintai, yang menjadi bagian dari kenanganku sendiri,” katanya.

Belasan tahun di penjara, pada akhirnya Baltazar menemukan makna kebebasan itu. Pengalamannya bersahabat dengan kensendirian membuatnya tajam dalam berefleksi. Ia bilang, aku punya guru pendiam, yakni kesunyian. Kesunyian ini memungkinkan ia rehat sejenak dan menganalisis di tengah hiruk pikuk keseharian.

Apa hasil permenungannya? Ia menemukan, kebebasan sejati bukanlah bebas fisik dari jeruji kandang. Ia bebas ketika ia menjadi tuan atas batinnya sendiri. “Aku belajar untuk tidak bergantung pada penilaian pihak lain dan dengan itulah aku merebut kebebasanku,” katanya. “Kebebasan hanya berasal dari pengertian lebih dalam atas tanah-tanah baru, realitas-realitas baru, dan orang-orang baru yang ditemui.”

Ia justru melihat manusia-manusia di luar kandang — baik petugas maupun pengunjung justru menjadi mahkluk-mahkluk yang tidak bebas. Mereka hidup dengan wajah-wajah sayu penuh beban. Bahkan, Baltazar merasa dirinya yang menjadi pusat dan memiliki otoritas mengatur manusia-manusia di luar kandang itu.

Hilanglah rasa takutku akan apa yang mungkin terjadi padaku, sebab aku sudah menemukan makna dari takdirku sendiri,” ujar Baltazar. “Kuperoleh kebebasanku saat berada di balik jeruji penjara dan bahkan aku menganggap diriku lebih tinggi dibanding para pengurungku.”

Dalam kebebasan, ia menemukan kebahagiaan sejati. Ia bilang, aku mampu menemukan sejenis kebahagiaan yang orisinil. Bukan kebahagiaan karena melakukan apa yang ingin kulakukan, melainkan yang lebih dalam, yang berasal dari kemampuan manusia untuk memahami mengapa terjadi seperti ini.

Gagasan Orrego Vicuña ini mengingatkan saya pada refleksi Victor Frankl, psikolog yang hidup pada masa kekejaman Hitler. Frankl bilang, kebebasan manusia itu pada dasarnya kebebasan untuk memaknai hidupnya dalam segala kondisi. Termasuk dalam penderitaan dan kekejian seperti yang ia alami sendiri selama Nazi berkuasa. Ia merefleksikan, ketika seseorang tidak mampu mewujudkan makna dalam kehidupannya, mereka akan mengalami kekosongan eksistensial. Ini pula yang dialami oleh Baltazar di sepanjang masa pengasingannya.

Orrego Vicuña menutup novelnya dengan berita tentang Baltazar yang ditembak mati di kebun binatang. Satu-satunya alasan yang diutarakan oleh pelaku yang juga penjaga kandang adalah karena ia merasa binatang itu mengolok-oloknya setiap kali ia memasuki kandang untuk menjalankan tugas hariannya.

Orego Vicuña. Sumber: Wikipedia

Fabel politik ini tentu tidak tanpa konteks. Orrego Vicuña menerbitkan novel ini setahun sesudah kudeta militer Jenderal Augusto Pinochet tahun 1973. Kudeta itu tak hanya menggulingkan presiden terpilih Salvador Allende, tapi juga membubarkan parlemen yang membuat Orrego Vicuña tersingkir dari jabatannya. Ini fabel politik kedua yang saya baca setelah Animal Farm karya George Orwell. Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totalitarisme Uni Soviet. Saya rasa, novel Orrego Vicuña ini juga merupakan satire pada kediktaktoran Pinochet.

Asal tahu saja, novel ini merupakan satu-satunya karya sastra miliknya. Bukunya yang lain tentang orang hilang dan korban penculikan diberangus oleh rezim militer. Ia adalah seorang sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan mantan aktivis mahasiswa yang menjadi politisi dan anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile. Saat meninggal pada usia 42 tahun, ia telah menulis lebih dari 30 buku.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *