Adolf Heuken SJ: Teladan Kedalaman di Era Pencitraan

Mengapa ada puluhan nama Jesuit dijadikan nama-nama kawah di bulan? Pertanyaan ini terlontar dari Romo Johannes Hariyanto SJ, seorang pastor Jesuit yang saya temui saat melayat Romo Adolf Heuken SJ di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta, Jumat (26/7/2019). Pertanyaan itu tidak dialamatkan ke saya agar saya menjawabnya. 

Jenazah Romo Adolf Heuken SJ. Foto: Sigit Kurniawan

Romo Hari menjawab sendiri sebagai penegasan. Para Jesuit yang namanya diabadikan di bulan itu merupakan orang-orang yang mengabdikan diri secara khusus pada pengetahuan. Ada pakar matematika, astronomi, fisika, filsafat, dan sebagainya. Mereka berkarya dengan penuh passion dan totalitas. Karya-karya mereka pun substansial bagi kehidupan manusia. Hal yang sama juga melekat pada diri Romo Heuken.

“Romo Heuken itu sosok langka. Ia dengan tekun dan fokus berkarya dalam dokumentasi sejarah. Ini tentu selain pengaruh spiritualitas Jesuit, juga tradisi yang dimiliki secara kultural sebagai orang Jerman. Tidak semua orang bisa tahan untuk duduk selama 50 tahun untuk tekun melakukan riset, membaca dokumen, dan menulis,” katanya.

Selain tekun dan fokus, romo kelahiran Coesfeld, Jerman, 17 Juli 1929 itu juga mampu melakukan grounding. Ia mempelajari sejarah hingga sedalam mungkin sampai pada dasarnya. Ia tekun mencari, menyortir, menganalisis aneka dokumen dengan aneka bahasa, kemudian menulis dan mendokumentasikannya.

Foto: Sigit Kurniawan

Ketekunan mendokumentasikan merupakan kultur orang Jerman yang pantas dicontoh.  Romo Hari menambahkan, orang-orang Jerman dihukum justru karena mereka mendokumentasikan kejahatannya sendiri. Pada era Perang Dunia II saat militer Nazi berkuasa, misalnya.

Di Dachau, kamp konsentrasi pertama yang didirikan Hitler di Jerman pada tahun 1933, ditemukan dokumen berisi instruksi petinggi Jerman untuk secara sistematis mengurangi jatah makan tahanan. Dokumen inilah yang pada akhirnya dipakai untuk menghukum para pelaku pelanggaran HAM di sana.

Saya pikir, inilah salah satu kekuatan pendokumentasian. Sayangnya, di Indonesia, negara justru kurang soal ini. Banyak dokumen penting justru ‘hilang.’ Sebut saja dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) Munir, notulen rapat BPUPKI dan PPKI, dan antara ya dan tidak Surat Perintah Sebelas Maret. Ketika dokumen diberangus, kencenderungan memanipulasi sejarah muncul.

Romo Hari mencontohkan dua sosok lain yang sama spiritnya seperti Romo Heuken. Yakni Romo Zoetmulder SJ dan Arswendo Atmowiloto. Romo Zoetmulder, meski kelahiran Utrech, Belanda tahun 1906, merupakan seorang pakar sastra Jawa. Ia menyimpan dokumen-dokumen sastra Jawa dalam bentuk daun lontar. Dokumen-dokumen itu sekarang disimpan di perpustakaan Kolese Santo Ignatius di Yogyakarta.

“Mereka adalah orang-orang yang tekun. Selalu memelihara sense of meaning dalam mengerjakan sesuatu. Fokus dan bahkan berani menarik diri dari hiruk pikuk dunia hanya karena menekuni sesuatu. Mereka bukan orang-orang yang takut untuk tidak populer,” ujarnya.

Ketekunan mereka, sambung Romo Hari, merupakan teguran menohok bagi orang-orang masa kini. Di era kegaduhan oleh media sosial sekarang ini, ukuran yang dipakai untuk kesuksesan adalah popularitas. Sayangnya, masyarakat sendiri yang membuat ukuran tersebut. Yang penting populer, beres. Padahal belum tentu yang populer itu memiliki isi dan substansial. Ukurannya cuma sebatas klik, like, dan komentar.

“Misionaris Jesuit Matteo Ricci (1552-1610) diterima masyarakat Cina bukan karena dia seorang imam semata. Melainkan seorang astronom. Dia mampu memperkenalkan astronomi modern di Cina. Semua ini hasil dari proses ketekunan dan kerja menyendiri seperti pertapa. Semangat ini yang ada dalam diri Romo Heuken. Mereka menyumbang sesuatu yang substansial. Bukan sekadar komentar seperti yang dilakukan orang-orang saat ini,” kata Romo Hari.

Beruntung saya pernah bertandang dua kali ke rumah kerja Romo Heuken. Ia tinggal di kawasan Menteng. Tepatnya di Jalan Moh. Yamin No. 37. Rumahnya rimbun, hijau, tenang. Di dalam, bertumpuk rapi buku-buku, baik yang ia tulis sendiri maupun buku-buku yang ia terbitkan melalui penerbit Cipta Loka Caraka.

Kunjungan terakhir saya ke CLC pada tahun 2017. Saat itu, meski tak ketemu Romo Heuken, saya menyerahkan buku asli David L. Fleming SJ berjudul “What is Ignatian Spirituality? Buku ini saya terjemahkan bersama Romo Antonius Sumarwan SJ. Terjemahannya kemudian diterbitkan oleh CLC.

Sebagian buku karya Adolf Heuken SJ. Foto: Sigit Kurniawan

Dari rumah kerja itu, lahirlah karya-karya Heuken. Sebut saja Sedjarah Gereja Katolik di Indonesia, Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta 1-III, Menteng “Kota Taman” Pertama di Indonesia, Historical Sites of Jakarta, The Earliest Portuguese Sources for The History of Jakarta, Seri Gedung-Gedung Ibadat yang Tua di Jakarta, 200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta, Atlas Sejarah Jakarta, serta Sejarah Jakarta dalam Lukisan dan Foto. Juga Kamus Politik Pembangunan, Kamus Indonesia-Jerman, Kamus Jerman-Indonesia, 150 Tahun Serikat Jesus Berkarya di Indonesia, Ensiklopedi Gereja, dan sebagainya.

“Orang yang ingin tahu sejarah Jakarta harus melalui Romo Heuken. Kecuali sudah ada orang lain lagi yang melakukan penelitian sejarah Jakarta secara lebih detail dan lengkap seperti dia,” pungkasnya.

Romo yang masuk Serikat Jesus pada tahun 1950 itu wafat pada usia 90 tahun di RS St. Carolus Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2019 pukul 20.27 WIB. Jenazahnya dimakamkan di makam para Jesuit di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah.

Semoga kami berani meneladan romo: mencari kedalaman di tengah dunia yang serba dangkal seperti sekarang ini. AMDG!

Kebon Jeruk, 29 Juli 2019

Bukan Dead Poet Society

Hari ini, saya membacakan buku cerita untuk Lentera di sekolah. Saya membacanya pagi tadi sebelum ngantor dan melayat tokoh literasi yang baru saja wafat, Rm. Adolf Heuken SJ di Kapel Kolese Kanisius.

Dua hari lalu, orangtua murid diundang datang ke sekolah untuk membacakan buku di depan anaknya masing-masing. Undangan saya sambut dengan riang gembira.

Ini digelar untuk menyambut Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (Gernas Baku) pada 27 Juli 2019. Ini gelaran kedua yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun lalu. Gerakan ini dikhususkan untuk anak usia dini setingkat PAUD.

Tak gampang membacakan buku untuk anak usia playgroup. Saya harus pindah tiga tempat. Dari duduk di pelataran, lanjut di tempat bermain, dan berakhir di dalam kelas. Lentera belum bisa jenak untuk duduk lama dan mendengarkan cerita saya. Di kelas, mama Tera mengambil alih. Tera tampak lebih menikmati dan mau berinteraksi dengan mamanya terkait buku di depannya.

Ada dua buku cerita yang saya bacakan untuk Lentera. Satu karangan Clara NG berjudul “Jika Ayah Bajak Laut dan Ibu Putri Duyung.” Satu lagi seri dongeng untuk si kecil terbitan BIP berjudul “Ceritaku Bersama Mama.” Kedua buku ini lebih didominasi gambar warna warni ketimbang teks.

“Membacakan buku untuk anak-anak bisa menjadi sarana untuk membangun kedekatan relasi orangtua dengan anak. Ada relasi rohani yang dibangun, walaupun anak-anak ini belum bisa membaca. Selain tentunya memperkenalkan anak-anak dengan buku sejak dini,” ujar Magda, salah satu ibu guru pendamping saat membuka gerakan ini.

Saya sepakat ide besar gerakan ini. Khususnya dalam membangun literasi sejak dini. Salut buat guru-guru di sekolah ini. Namun, kalau ini sekadar selebrasi imbauan pemerintah jelas tak mencukupi. Apalagi kalau hanya dilakukan setahun sekali. Salah dua ciri gerakan adalah kontinuitas dan dilakukan bersama.

Ada dua kunci utama dalam membangun literasi ini, yakni sekolah dan rumah. Saya tak tega membayangkan jika awal yang baik ini justru pelan-pelan dibunuh oleh sistem pendidikan nasional di sekolah yang sangat berorientasi pada kurikulum, standarisasi, dan cara mengajar yang membosankan.

Saya jadi ingat film Dead Poet Society. Film lawas ini dibintangi mendiang Robin Williams. Di sana, ada guru bahasa Inggris unik. Namanya John Keating. Unik karena ia “melawan” sistem sekolah yang kaku dan dingin.

Ia mengajar dengan cara-cara yang tak lazim. Tak seperti yang dilakukan guru-guru di sekolah yang sudah punya nama itu. Belajar di tanah lapang, membaca puisi, mendiskusikan sastra, mementaskan teater, berolahraga, dan sebagainya. Keating adalah antitesis dari kurikulum dan cara mengajar yang rigid dan membosankan.

Carpe diem, raihlah kesempatan. Itulah frasa sakti Keating yang mengubah anak-anak didiknya.

Salah satu adegan Dead Poet Society. Sumber: Wikipedia

Gerakan membaca buku (sastra), seperti cerita, dongeng, puisi bukan sekadar belajar membaca itu sendiri. Lebih dari itu, seperti Keating bilang, itu adalah belajar tentang kehidupan. Berikut satu kutipan Keating

“We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for.”

Sebagai orangtua dari dua anak, saya merasa tertantang. Saya percaya, anak adalah peniru terbaik orang tua mereka. Kalau orang tuanya di rumah doyan baca buku, dipastikan anak-anak doyan baca buku juga. Kalau orang tua lebih senang main hape, demikian juga anak-anak akan lebih senang main hape. Anak menjadi pemarah karena orang tuanya pemarah.

Ini cukup menantang bagi saya karena saya merasa masih pas-pasan dalam membangun iklim literasi di rumah. Buku-buku memang berjibun tertata di meja dan perpus rumah. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana saya berani memberi teladan di depan anak-anak. Membacakan buku untuk anak itu baik. Tapi, memberi teladan membaca buku itu jauh lebih berdaya.

Betul demikian?

– Kebon Jeruk, 26 Juli 2019

Marco

Sore kemarin, adik saya pamer anjing barunya. Anjing kampung ini bernama Boy Marco. Usianya baru tiga bulan. Ia membelinya dari seorang kawan. Nama Marco itu pemberian kakak perempuan saya. Katanya, nama Marco terinspirasi dari anjingnya Ignasius Jonan.

“Marco iki saiki dadi kancaku nang omah.” Demikian sesumbar adik saya di whatsapp. Saya sendiri bungah. Bukan karena si anjing baru ini. Tapi, karena sesumbar ini menandakan bahwa adik saya baik-baik di sana.

Marco. Foto: Agung Pamungkas

Sejak ibu, bapak, dan simbah putri meninggal pada tahun 2015, rumah Jogja sepi. Hanya adik saya seorang diri tinggal di sana. Itu pun tidak tiap hari. Pasalnya, adik harus bolak-balik Sembungan-Minomartani karena urusan pemulihan kesehatan.

“Kirik iki mengko calone dadi gede duwur,” sambung adik saya.

Saya rindu bisa memelihara anjing. Sayang, di rumah Jakarta, ini tak memungkinkan. Tak ada halaman cukup bagi anjing untuk belingsatan. Bila dilepas bebas, lingkungan sekitar jelas tak ramah anjing.

Saat kanak-kanak, saya memelihara beberapa anjing. Saban pagi, anjing ini membangunkan saya. Ia melompat ke kasur dan menjilati muka saya. Ekornya goyang-goyang tanda senang. Sayang, anjing-anjing itu mati dalam tragis. Mati diracun. Kematian anjing ini menorehkan kepedihan. Ini pengalaman pertama saya merasakan apa itu kehilangan.

Kakak perempuan saya juga pernah memelihara anjing. Namanya Gerard. Bulunya putih dengan belang hitam di bagian matanya. Kakak sangat mencintai Gerard. Saat Gerard hilang, kakak begitu terpukul. Saking sayangnya, setiap pagi selama sembilan hari, kakak pergi ke gereja untuk misa dan novena. Berdoa agar Gerard kembali ke rumah. Almarhum ibu sampai geleng-geleng kepala melihat perilaku kakak. Namun, keajaiban terjadi. Pada hari ke-sembilan novena, kakak menemukan Gerard di jalan di daerah Kasongan. Gerard pun diboyong pulang ke rumah. Kedua mata kakak saya berair saking terharu.

Saya rasa, adik saya sudah tepat memboyong Marco di rumah Jogja. Hewan mana lagi yang paling setia menjadi teman manusia selain anjing? Sudah banyak kisah kesetiaan seekor anjing pada manusia yang kita dengar.

Hachiko, misalnya. Ia adalah seekor anjing jantan jenis Akita Inu di Jepang. Ia dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing pada majikannya. Bahkan, anjing ini dibuatkan patung di depan Stasiun Shibuya. Tempat ini adalah tempat di mana Hachiko menunggu majikannya setiap turun dari kereta hingga akhir hayatnya.

Maru adalah kisah empat hari lalu. Maru, seekor anjing betina jenis Bullmastiff. Usianya baru setahun. Ia harus berjalan sejauh 125 mil atau 201 kilometer demi menemui tuannya yang sudah tak menginginkannya lagi. Untuk sampai di rumah tuannya, Maru harus menyusuri hutan Siberia, Rusia.

Semoga Marco pun menjadi sahabat yang baik. Kesetiaan anjing-anjing memang tak diragukan lagi. Manusia pun pantas belajar dari mereka. Sayangnya, perilaku manusia sering jatuh di bawah perilaku terhormat anjing-anjing ini. Manusia doyan menggonggong tanpa isi, gampang menyalak marah, mengejar, menggigit, hingga melukai orang-orang yang ia benci atau ia anggap musuh. Bahkan, menganjing-anjingkan orang atas nama agama.

Selamat datang, Marco!

Kebon Jeruk, 25 Juli 2019