Kopi, Buku, dan Film

Month: January 2020

Mereka Bermain di Laut

Sore tadi, di ruang redaksi, saya mendengar lagu Let It Be. Lagu The Beatles itu mengalun pelan. Bukan dari laptop atau hape saya. Melainkan dari laptop rekan kerja di samping ruangan saya. Hafiz namanya, wartawan otomotif.

Di kalangan Kristiani, lagu ini cukup populer. Lagu ini biasanya diputar saat retret maupun rekoleksi dengan suasana silentium di sebuah pondokan, jauh dari keramaian.

Menolak Tindik Anting

“Lho, Tera belum pakai anting, tho?”
“Belum. Nanti kalau dia sudah gede.”
“Kalau nunggu gede, nanti sakit bila telinganya ditindik.”
“Iya, nanti nunggu dia gede.”

Itulah sepotong percakapan pada pertengahan Desember lalu. Persisnya di emperan belakang rumah Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Sejak kelahiran Lentera pada 1 Januari 2016, saya dan istri bersepakat untuk tidak menindik telinganya dan kemudian memasang anting-anting.

Ada beberapa alasan yang saya pegang. Pertama, menindik telinga tanpa kesepakatan dengan yang ditindik adalah sebuah bentuk vulgar kekerasan. Sebuah laku yang dipaksakan oleh orang dewasa untuk melukai tubuh anaknya secara permanen.

Kedua, menindik telinga dan memasang anting tidak ada kaitannya dengan kesehatan. Demikian juga tak berkorelasi langsung dengan meningkatnya martabat manusia atau bahkan menjadi penentu ia masuk surga atau tidak. Tindik dan anting sekadar aksesori.

Biarlah ketika dewasa kelak, dengan segenap kesadaran dan kemerdekaannya, Lentera memilih apakah mau melubangi daun telinganya atau tidak dan mengenakan anting-anting atau tidak.

Saya menolak tindik telinga balita dengan alasan apa pun. Termasuk alasan budaya atau agama.

Kebon Jeruk, 12 Januari 2020

Perempuan yang Pergi Pagi-pagi

Perempuan ini pergi pagi-pagi. Demikian kurang lebih isi pesan pendek yang mampir di kotak surat ponsel saya. Kabar ini saya terima di Senin pagi, saat hujan belum lama berhenti dan setelah berjam-jam menghajar Kebon Jeruk subuh hari. Basah, lembab, dan dingin.  Senin, 7 Januari 2013.

“Terlalu cepat,” saya membatin.

Saya baru saja menemuinya seminggu sebelumnya. Saat saya dan keluarga membungkus liburan panjang di kampung halaman untuk Natal dan tutup tahun, saya menyempatkan diri menyambangi rumahnya di hari terakhir liburan. Tidak lama. Hanya sepuluh menitan saya mengunjunginya. Maklum, saya harus mengejar waktu untuk bergegas kembali ke Jakarta.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén