Dalam sepekan, saya mendengar atau mendapatkan dua cerita yang hampir sama. Cerita pertama saya dapatkan dari sebuah liputan dengan pengelola salah satu agen tunggal pemegang merek otomotif di bilangan Sunter, Jakarta Utara. Di sebuah sudut showroom, Selasa sore, 5 Juni 2012, sang direktur ini berkisah.

Ia berkisah tentang sepenggal pengalamannya menyambangi Korea Selatan. Beberapa tahun silam. Di sebuah malam, pukul sebelas, di musim dingin, demikian ia mulai bercerita, ia menjumpai pedagang-pedagang kaki lima masih menggelar dagangannya.

Sang direktur heran. Di malam saat suhu terjun bebas di bawah nol derajat, pelapak kaki lima itu masih berjualan. Dengan pakaian penghalau dingin seadanya, mereka masih menanti pembeli. Jalanan juga sepi. Salju tak henti-henti menghambur di segenap sudut Negeri Gingseng itu.

Bisa dibayangkan. Dan, di kepala saya, muncul gambaran sepetak jalan. Sepi. Penuh salju. Satu dua lampu jalan menyala redup dengan pendaran cahaya yang lemah. Salju melorot pelan seperti serpihan kapas diayun-ayun angin. Orang-orang memilih di dalam rumah. Meringkuk dengan gigil di depan perapian.

Dan, pedagang itu, dengan balutan pakaian, kaus kaki, selempang di leher, kerudung di kepala, tertunduk sambil kedua tanganya mengatup memeluk erat tubuhnya. Menahan dingin. Terdiam. Sementara jalanan tetap sunyi. Tidak ada orang lewat. Yang ada hanya salju yang melorot pelan seperti kapas diayun-ayun angin.

“Orang Korea itu telaten, tekun, dan pekerja keras,” demikian sang direktur membungkus kesimpulan.

Cerita kedua saya dapatkan ketika sedang berada di atas awan. Tepatnya di dalam kabin pesawat Lion Air dengan nomer penerbangan JT 0252 jurusan Padang. Pagi buta itu, Kamis, 7 Juni 2012.

Cerita kedua dikisahkan oleh Paulo Coelho. Dia salah satu penulis favorit saya. Cerita kedua ada dalam bukunya berjudul “Seperti Sungai yang Mengalir.” Buku berjudul asli “Ser Como o Rio Que Flui” ini terbit tahun 2006. Muncul edisi Bahasa Indonesianya pada tahun 2012 dengan Gramedia sebagai penerbitnya.

Cerita kedua saya dapatkan di halaman 71. Judulnya “Pemain Piano di Mal.” Suatu ketika, singkat cerira, Paulo dan temannya Ursula, berjalan-jalan di sebuah sentra belanja, tepatnya di area makan.

Di sana, Paulo menjumpai seorang pemain piano. Pianis ini asalnya dari Georgia, bekas wilayah Uni Soviet. Sang Pianis dengan lincah memainkan dua sonata Chopin, Mozart, dan Schubert. Dia memang seorang musisi kondang. Mungkin karena tak ada perkerjaan, demikian Paulo menyimpulkan, dia akhirnya ngamen di mal. Dentingan pianonya membuat Ursula mengira itu rekaman.

Namun, siapa yang peduli dengan permainannya. Demikian pertanyaan Paulo saat melihat orang-orang lebih senang bercengkerama, menikmati makanannya, berlalu lalang, hingga sibuk dengan urusannya. Mereka tanpa sadar ada seorang pemain piano sekelas opera sedang berunjuk kemampuannya.

Sang pianis terus khusyuk bermain. Seolah dia tak peduli, bahwa hanya dua orang yang sungguh-sungguh menyimaknya.

Paulo menjumput beberapa potong refleksi atas pengalaman bersama Sang Pianis itu.

“Masing-masing dari kita memiliki legenda untuk dipenuhi. Itu saja. Tak peduli apakah orang lain mendukung atau mengkritik kita. Mengabaikan atau menolerir kita. Itu sudah takdir, air mancur suka cita kita.”

Dua cerita di atas juga mengingatkan saya pada orang-orang yang pernah saya jumpai. Orang-orang yang tekun dengan apa yang menjadi passion-nya. Tak peduli, apakah orang menghargai karyanya atau tidak, maupun orang lain menganggapnya remeh, bodoh, atau bahkan gila sekalipun. Tapi, ia bersukacita menjalaninya. Menjalaninya sepenuh hati. Sejiwa dan seraganya.

Banyak di sekitar kita, mungkin termasuk saya dan Anda, sering terpaksa mengerjakan hal-hal yang jauh dari passion kita. Entah karena kondisi menuntutnya demikian. Entah karena rasa canggung. Entah karena arus komformitas yang membuat orang tak berani menjadi diri sendiri.

Ketika menuliskan ini, saya juga merasa diteguhkan. Saya merasa senang berada di sini. Berada di halaman putih ini. Memainkan tuts keyboard laptop saya bak pemain piano di mal yang memainkan mahakarya Chopin tersebut. Saya duduk dengan mata menatap layar sambil mengalirkan isi hati saya dalam larik-larik kalimat. Inilah tempat yang menurut Terry McMillan, dan tentu menurut saya juga, paling nyaman untuk menjadi diri sendiri, tanpa terbebani untuk dihakimi, yakni menulis.

Ini pula yang dipesankan oleh sahabat saya, almarhum Femi Adi Soempeno (Fe) yang mengatakan: “When writing the story of your life, don’t let anyone else hold the pen.” Pesan ini saya bungkus erat-erat hingga hari ini.

Saya merasa dibawa ke tempat itu, nun jauh di sana, tempat Sang Pianis melantunkan lagu Chopin. Maklum, sambil merangkai kata-kata di halaman ini, saya memutar sebuah instrumen karya Chopin, Nocturne No.2. Pertanda hari sudah larut malam.

Tulisan ini saya akhiri dengan kalimat terakhir Paulo dalam cerita Sang Pianis itu.

“Dia berkomunikasi dengan Tuhan melalui karyanya dan itulah yang paling penting.”

— Jakarta, 10 Juni 2012