Skip to content

Dirjo Telah Pergi ke Tempat Lebih Dalam

Written by

Sigit Kurniawan

“Mungkin saya tidak tercatat dalam buku kesuksesan manusia. Tetapi, saya tetaplah Dirjo yang siap menuju tempat yang lebih dalam.”

Itulah kutipan dari sahabat saya, Yohanes Ronny Septoro Wisnu (Dirjo), yang saya baca kembali di buku Follow Me 2.0, kumpulan refleksi anak-anak Merto angkatan 92 yang terbit tahun 2016. Ia menulis dengan judul “Menuju Tempat yang Lebih Dalam.”

Hari ini, pukul 14.35, Dirjo meninggal dunia di rumahnya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sudah lama, ia berjuang melawan sakitnya dan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk cuci darah. Sedikitnya, saya membaca kutipan Dirjo dua kali. Saat mengedit tulisannya dan beberapa saat lalu usai mendengar kabar duka ini.

Dirjo adalah sapaan yang kami berikan untuk Ronny saat hidup bersama di asrama Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Asrama yang dijejali pinus, palem, dan pintu gerbangnya menantang Merapi dan Merbabu.Disapa Dirjo karena asalnya dari Paroki Dirjodipuran, Solo, Jawa Tengah. Selama di asrama, Dirjo merupakan sosok kawan yang baik hati dan lucu. Salah satu kelebihannya, ia mampu bikin suara terompet hanya berbekal mulutnya. Tanpa alat musik, ia suguhkan fanfare yang bikin teman-temannya melongo kagum.

Dulu, Dirjo bercita-cita menjadi pastor. Namun, jalan panggilannya mengatakan lain. Ia menjadi seorang awam dan ingin tetap mewartakan Kabar Baik dengan menjadi seorang katekis.

“Setelah saya dibenturkan dengan segala situasi dan kondisi di mana saya tidak mungkin menjadi pastor, bruder, maupun rahib, saya sadar bahwa panggilan yang ditawarkan saya jauh lebih dalam. Seperti Petrus yang diminta Yesus untuk menebar jala di tempat lebih dalam, saya juga diajak Tuhan menuju tempat lebih dalam,” demikian katanya dalam buku itu.

Di kemudian hari, gagal ginjal membuatnya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk cuci darah, dua kali seminggu. Ia memahami bahwa tempat lebih dalam itu tak lain adalah mengikuti jalan salib Yesus dalam sakitnya.

“Mungkin orang lain hanya akan mengatakan itu kan hanya rasionalisasi atas sebuah kegagalan hidup. Tetapi, saya tetap tegar berdiri melaksanakan panggilan yang menggema dalam hati dengan segala kelemahan yang saya miliki,” tulisnya lagi.

Dirjo bukan seorang katekis saja. Dia juga misionaris. Dari Solo, ia merantau di Bengkulu Utara menjadi katekis umat. Ia membantu orang-orang mempersiapkan diri menyambut aneka sakramen, kecuali imamat. Tiap minggu genap, ia diminta memimpin ibadat sabda di stasi. Alasannya, pastor di stasi itu hanya datang setiap minggu ganjil. Bila ada umat sakit, ia mengunjungi mereka dan memberikan komuni suci.

Lalu ia kembali ke rumahnya di Solo. Pada 29-30 Desember 2017, angkatan kami menggelar reuni perak di Mertoyudan. Dirjo tak bisa datang karena sakit. Ia pernah meminta dicarikan hotel yang bisa cuci darah agar bisa ikut reuni. Tapi urung.

Di grup whatsapp angkatan, ada kabar ia mengalami kecelakaan saat berkendara. Peristiwa naas ini membuatnya tambah sakit. Tulang belakangnya rapuh. Dua hari lalu, 11 Agustus, ia sempat video call bareng beberapa teman. Ia tersenyum, meski dua kakinya lumpuh.

Di buku itu pula, ia menuliskan moto hidupnya: hidup adalah Kristus, kematian adalah keuntungan. Hari ini, ia memeroleh keuntungan itu seutuh-utuhnya. Ia telah mendapati Kristus yang ia abdi dalam hidupnya. Dirjo pun telah pergi ke tempat lebih dalam yang sesungguhnya: hidup bersama Allah.

Selamat berkumpul kembali bersama Martinus Jogie Putranto dan Yohanes Krisostomus Waris Nugroho, dua sahabat angkatan yang lebih dulu berpulang. Selamat jalan, sahabat. Suatu saat nanti, kita akan kumpul basis lagi. Suara terompetmu pasti ngangeni.

Rest in Peace.

— Kebon Jeruk, 13 Agustus 2010

Kanal Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Previous article

Paskah dari Balik Pintu Terkunci

Next article

Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya

Join the discussion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *