Kopi, Buku, dan Film

Month: October 2020

Halloween dan Kisah Receh Hantu-hantu

“Halo, Mas Pras. Apa kabar?”
“Halo, Mas Sigit.”
“Pernah melihat hantu, Mas?”
“Aku belum pernah. Aku orangnya penakut.”
“Ya, sudah. Punya kenalan yang bisa saya tanyai tentang hantu-hantu?”

Mas Pras lalu menyodorkan sebuah nama, seorang ibu-ibu, lengkap dengan nomor teleponnya. Katanya, ibu ini dan juga anak-anak beserta pembantunya, sering melihat hantu-hantu di rumahnya. Saya langsung whatsapp ibu itu dan bertanya soal hantu-hantu. Sampai tulisan ini saya posting di sini, pesan saya belum dibalas oleh ibu itu. Mungkin saya dianggap kurang kerjaan.

Pertanyaan yang sama saya lempar di beberapa grup whatsapp. Seorang dari salah satu grup itu, Helena, terpancing menanggapi. “Keponakanku sewaktu kecil melihat hantu kucing, malah,” kata Helena “Pas aku mainan sama anak kucing di kardus, Si Abby nunjuk-nunjuk pintu dapur. Bude, kata Abby, itu mamanya datang. Padahal tidak ada siapa-siapa. Kaburlah gw.” Membaca jawaban ini, saya membatin ternyata dunia hantu-hantu mirip dengan dunia kita-kita, ada flora dan faunanya.

Siang Itu Hujan Turun Deras Sekali

Kenangan akan almarhum bapak ibu memang tak ada habisnya. Bermunculan setiap saat dalam ingatan. Salah satunya dalam peristiwa-peristiwa di saat hujan turun deras sekali.

Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis Jerman, pernah bilang, jika badai menimpa pondok itu dan salju turun, itulah saat yang tepat untuk berfilsafat. Salju tak turun di sini, melainkan hujan. Saya tak sedang berfilsafat, saya cuma mau menghadirkan kembali kenangan-kenangan itu bersama hujan bulan Oktober yang masih angot-angotan.

Kopi dan Suster Biarawati Lompat Jendela

Kemarin tukang antar paket mengantarkan bungkusan ke rumah. Isinya satu bungkus kopi dan tiga batang cokelat. Paket ini dikirim oleh kakak ipar yang tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Kopi dan cokelat tersebut dilabeli dengan merek Trappist dan diproduksi oleh biarawan pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Jawa Tengah. Biara Trapis yang terletak 17 kilometer dari Kota Temanggung ini didirikan pada tahun 1953. Ini merupakan cabang dari biara Koningshoeven di Tilburg, Belanda.

Sekitar dua dekade lalu, saya pernah menginap semalam di salah satu kamar pertapaan itu. Selain keheningan, kue keju, susu murni, babi-babi maupun sapi-sapi, ada satu lagi pengalaman yang susah dilupakan di kompleks seluas 178 hektare itu. Saya ngonangi atau melihat tak sengaja seorang suster biarawati meloncati jendela kamarnya. Pagi-pagi sekali. Bukan mau bunuh diri, melainkan menuju taman di samping kamar untuk menjemur seperangkat pakaiannya, luar dalam. Suasana retret saya sontak terganggu, lebih pasnya terguncang.

Kacamata Plus

Siang tadi adalah penanda babak baru sejarah perkacamataan saya. Saya harus legowo menerima kenyataan bahwa mata saya sudah plus.

Faktor usia? Mungkin. Konon kata dokter, orang yang sudah berusia empat puluh tahun ke atas akan autoplus. Dan, setiap dua tahun di atas umur itu, plusnya akan bertambah.

Tanda Cinta Maria

“Papa, kenapa tangannya berdarah?”
“Kena kuku saat papa garuk.”
“Makanya potong kuku, Pa.”

Si Kecil berlari ke belakang, membongkar kotak obat, dan membawakan saya plester luka bergambar princess.
“Aku aja, Pa.”

Ia merobek bungkus plester tersebut. Melepas kertas yang menutupnya. Kemudian menempelkan di bagian lengan saya yang berdarah.

Rosario di Tangan Ibu

Satu warisan berharga dari mendiang ibu adalah rosario. Tepatnya adalah teladan berosario. Semasa hidupnya, ibu saya rajin mendaraskan doa ini. Biasanya pada malam hari, entah dilakukan bersama umat lingkungan saban Mei dan Oktober atau sendirian sebelum tidur di hari-hari biasa. 

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén