Hidup Batin Bercermin Pada Pengalaman Wisrawa-Sukesi

Ternyata saya sudah menulis sejak SMA. Saya heran bisa menulis seserius ini meski keseleo sana-sini. Tulisan ini pernah dimuat di majalah AQUILA, majalah terbitan SMA Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan pada tahun 1995. Saya mendapatkan kembali dari Dono Sunardi, teman seangkatan di SMA tersebut, yang berbaik hati memindainya dalam bentuk PDF dan mengirimkannya ke saya. Atas nama pendokumentasian, berikut salinannya:

Buku Anak Bajang Menggiring Angin di Toko Buku Gramedia, Mal Puri Indah. Foto: Sigit Kurniawan (2018)

Pengalaman dan pergulatan batin seseorang memiliki dinamikanya sendiri. Orang dipanggil untuk berusaha semakin menyempurnakan dirinya. Ia dipanggil untuk serupa dan secitra dengan Sang Sumber Kesempurnaan. Dialah Yang Transenden, Allah sendiri.

Dalam pengolahan hidup batin, ada dua subjek yang saling mendukung dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Subjek pertama adalah Allah. Tanpa Allah, mustahil manusia bisa mencapai kesempurnaan. Manusia tidak akan mampu jika di dalam hatinya tidak ada dorongan-dorongan yang menuntunnya menuju sisi yang baik. Karena Allahlah yang menggerakkan hati manusia melalui Roh yang dicurahkan kepadanya. Allahlah pusat dan kesempurnaan itu. Subjek kedua adalah si manusianya sendiri. Allah menghendaki agar manusia aktif menanggapi tawaranNya. Dengan kata lain, Allah mewahyukan diri dan manusia menanggapi. Itulah proses iman. Dan, memang pengolahan hidup batin tidak bisa dilepaskan dari kerangka iman. Namun, bagaimanakah sikap yang tepat dalam olah batin agar kita semakin merasakan rahmatNya yang menyucikan itu? Itulah yang akan diuraikan dalam artikel ini.

Pergulatan hidup batin seorang manusia sangat jelas dikisahkan dalam Anak Bajang Menggiring Angin melalui penokohannya terutama tokoh Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Kisah ini merupakan saduran dari kisah Ramayana yang diolah kembali oleh Sindhunata, seorang pastor Yesuit yang kompeten dalam studi tentang manusia dan hidupnya. Kisah ini dibahasakan dengan indah dan mudah ditangkap oleh pikiran dan perasaan kita. Ini menandakan bahwa Romo Sindhu sungguh-sungguh mengolahnya sehingga banyak ditemukan buah-buah refleksi yang bernilai kristiani. Dinamika relasi pencipta dan manusia mewarnai kisah ini.

Pergulatan Batin

Hal tersebut terjadi biasanya karena manusia melupakan faktor Allah dalam perjalanan rohaninya. Manusia lupa pada Allah yang memberi kekuatan dan menopangnya. Manusia terlalu sombong; percaya pada kekuatannya sendiri. Itulah sisi negatif manusia yang merupakan salah satu akar dari dosa.

Sisi manusia yang seperti itulah yang diwakili oleh Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang mencoba menghayati Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Begawan Wisrawa mencoba mengupas Sastra Jendra demi asmara puteranya, Danareja yang berkobar-kobar terhadap kecantikan Dewi Sukesi. Sastra Jendra adalah semacam tingkatan hidup yang sudah sempurna. Dalam kisahnya, dikatakan bahwa bila ada mahkluk yang dapat mengupas Sastra Jendra, maka binatang dapat menjadi manusia dan manusia akan mulia seperti dewa. Binatang di sini adalah transformsi dari manusia yang tidak lagi menyadari kemanusiaannya sendiri. Dengan kata lain, ia sudah menurunkan martabatnya ketingkat binatang, sedangkan manusia mewakili si manusia sendiri yang ingin menyempurnakan hidupnya.

Begawan Wisrawa tertarik pada kecantikan Dewi Sukesi. Sumber: kbknews.id

Dalam perjalanannya, ternyata Wisrawa dan Sukesi jatuh dalam pencobaan. Mereka jatuh dalam nafsu-nafsu duniawi yang melahirkan sisi-sisi kegelapan manusia. Sisi-sisi kegelapan ini digambarkan dengan tokoh Rahwana, Sarpakenaka, dan dengan antek-anteknya. Kejatuhan mereka disebabkan karena mereka telah melupakan sang Ilahi dalam perjalanan rohaninya. Mereka telah mengandalkan kekuatannya sendiri, sehingga di saat ada suatu godaan yang lebih kuat, akhirnya mereka mengalami kehancuran. Hati mereka remuk redam.

Namun, di tengah-tengah kehancuran mereka, suara Ilahi menyapa mereka dengan penuh cinta. KataNya:

“Anakku, kalian berdua mengira, hanya dengan budimu kalian dapat mencapai kebahagiaan itu. Kalian berdua lupa bahwa hanya dengan pertolongan Yang Ilahi, kalian baru dapat mencapai cita-cita mulia. Manusia memang terlalu percaya pada kesombongannya dan lupa bahwa kesombongannya yang perkasa hanyalah setitik air dalam lautan kelemahannya. Tanpa bantuan yang Ilahi, kalian pasti tenggelam lagi dalam lautan kelemahanmu itu. Dan itulah yang kini kalian alami.”

Dari kata-kata Yang Ilagi itu, jelas dikatakan bahwa kejatuhan manusia dikarenakan kesombongannya sendiri. Manusia tidak sadar akan kelemahannya sendiri. Paulus menegaskan bahwa roh itu penurut tetapi daging itu lemah. Inilah yang perlu kita tengok dan sadari kembali.

Kemudian suara Ilahi itu berkata lagi: “Ketahuilah anakku, Sastra Jendra bukanlah wedaran budi manusia, melainkan seruan sebuah hati yang merasa tidak berdaya; memanggil keilahian untuk merawatnya. Kalian mengira dengan budi kalian, kalian dapat memasuki rahasia Sastra Jendra. Kenyataannya adalah sebaliknya. Baru dengan hatilah, manusia akan merasakan kebahagiaannya. Kalian tahu, hati manusia dalam badan jasmaninya itu demikian lemahnya. Budimu bisa membayangkan keluhuran apa saja, tetapi serentak dengan itu hatimu bisa terjerumus ke dalam kenistaan yang tak terkira. Maka anakku, hendaklah engkau memohon Satra Jendra pada Yang Ilahi, supaya Yang Ilahi menguatkannya.”

Dari kata-kata Sang Ilahi yang kedua, kita dapat memetik banyak buah rohani. Pertama, mengenai kesempurnaan. Kesempurnaan bukanlah usaha atau uraian dari pikiran manusia, melainkan sikap hati yang merasa rindu akan kerahiman Sang Penciptanya. Jalan menuju kesempurnaan bukanlah dengan pikiran, melainkan dengan hati. Kesempurnaan bukanlah transformasi pikiran-pikiran kita, melainkan apa yang dirasakan oleh hati di mana manusia merasa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan Allah. Seorang novis Yesuit mensharingkan pengalaman rohaninya dalam majalah Internos. Ia berkata, “Sungguh riskan bertualang sendiri dalam hidup rohani; mengandalkan kepercayaan diri. Kalau Allah tidak bertindak, entah apa jadinya iman saya ini.”

Dalam dua pengalaman ini, tampak Allah menjadi suatu faktor utama dalam sebuah perjalanan rohani atau perjalanan iman. Kita hanya dituntut menyediakan hati yang terbuka. Biarlah Allah mengarahkan dan menuntun kita dalam realitasnya. Kita menanggapinya dengan kaca mata iman.

Seuntai Refleksi

Mencari kesempurnaan tanpa menyertakan Allah, Sang Sumber Kesempurnaan bagaikan mencari jarum di dalam lautan luas. Banyak orang mengira dengan kekuatannya sendiri, ia dapat mencapai kesempurnaan seperti halnya orang Farisi pada zaman Yesus. Orang-orang Farisi berpandangan bahwa dengan melakukan ini itu mereka mendapatkan keselamatan. Seolah-olah keselamatan tergantung pada dari apa yang diperbuatnya. Do ut des, aku melakukan supaya engkau memberi.

Pengalaman Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi juga menjadi pengalaman kita. Maksudnya, kita juga sering mengalami kekeringan dalam perjalanan rohani. Demikian juga dalam perjalanan panggilan yang sedang kita susuri ini. Terkadang kita merasa jauh dari Allah karena Allah yang kita gambarkan tidak semestinya ada. Kita sering menjadi allahnya Allah. Kita membentuk allah sesuai dengan pikiran-pikiran kita. Namun, setelah kita jatuh, kita baru sadar bahwa kita jauh dari Allah.

Dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan tidak berwujud dari usaha dan pikiran kita semata, tetapi terletak pada hati. Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengatakan, “Kesucian tidak terletak pada praktik ini dan itu. Ia terletak pada kesediaan hati orang yang membuatnya rendah hati dan kecil dalam tangan Allah dengan penuh kesadaran atas kelemahannya dan menaruh percaya penuh sampai berani mati pada kebaikannya sebagai Bapa.” Jadi, rahasia kesempurnaan adalah hati yang miskin di hadapan Allah.

3 November 1995
Pesta St. Martin de Porres

2 Replies to “Hidup Batin Bercermin Pada Pengalaman Wisrawa-Sukesi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *