Kopi, Buku, dan Film

Category: Feature Page 1 of 6

Menunggu Stevanus Pulang

Perempuan itu sedang menyirami tanaman bunga. Bunga-bunga yang tertanam rapi dalam pot-pot yang tertata rapi di gang samping persis rumahnya. Siang itu, Kamis, 10 Mei 2018. Perempuan itu penuh uban di kepalanya. Ia mengenakan kaos hitam bertuliskan “Paguyuban Korban & Keluarga Korban Tragedi 14 Mei 1998.” Tanpa lama, saya dan anak saya, Jagad Cleva Nitisara, dipersilakan masuk. Ia menerima kami dengan penuh keramahan. Saat itu, ia ditemani oleh seorang anak perempuan yang masih remaja. 

Halloween dan Kisah Receh Hantu-hantu

“Halo, Mas Pras. Apa kabar?”
“Halo, Mas Sigit.”
“Pernah melihat hantu, Mas?”
“Aku belum pernah. Aku orangnya penakut.”
“Ya, sudah. Punya kenalan yang bisa saya tanyai tentang hantu-hantu?”

Mas Pras lalu menyodorkan sebuah nama, seorang ibu-ibu, lengkap dengan nomor teleponnya. Katanya, ibu ini dan juga anak-anak beserta pembantunya, sering melihat hantu-hantu di rumahnya. Saya langsung whatsapp ibu itu dan bertanya soal hantu-hantu. Sampai tulisan ini saya posting di sini, pesan saya belum dibalas oleh ibu itu. Mungkin saya dianggap kurang kerjaan.

Pertanyaan yang sama saya lempar di beberapa grup whatsapp. Seorang dari salah satu grup itu, Helena, terpancing menanggapi. “Keponakanku sewaktu kecil melihat hantu kucing, malah,” kata Helena “Pas aku mainan sama anak kucing di kardus, Si Abby nunjuk-nunjuk pintu dapur. Bude, kata Abby, itu mamanya datang. Padahal tidak ada siapa-siapa. Kaburlah gw.” Membaca jawaban ini, saya membatin ternyata dunia hantu-hantu mirip dengan dunia kita-kita, ada flora dan faunanya.

Kopi dan Suster Biarawati Lompat Jendela

Kemarin tukang antar paket mengantarkan bungkusan ke rumah. Isinya satu bungkus kopi dan tiga batang cokelat. Paket ini dikirim oleh kakak ipar yang tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Kopi dan cokelat tersebut dilabeli dengan merek Trappist dan diproduksi oleh biarawan pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Jawa Tengah. Biara Trapis yang terletak 17 kilometer dari Kota Temanggung ini didirikan pada tahun 1953. Ini merupakan cabang dari biara Koningshoeven di Tilburg, Belanda.

Sekitar dua dekade lalu, saya pernah menginap semalam di salah satu kamar pertapaan itu. Selain keheningan, kue keju, susu murni, babi-babi maupun sapi-sapi, ada satu lagi pengalaman yang susah dilupakan di kompleks seluas 178 hektare itu. Saya ngonangi atau melihat tak sengaja seorang suster biarawati meloncati jendela kamarnya. Pagi-pagi sekali. Bukan mau bunuh diri, melainkan menuju taman di samping kamar untuk menjemur seperangkat pakaiannya, luar dalam. Suasana retret saya sontak terganggu, lebih pasnya terguncang.

Kacamata Plus

Siang tadi adalah penanda babak baru sejarah perkacamataan saya. Saya harus legowo menerima kenyataan bahwa mata saya sudah plus.

Faktor usia? Mungkin. Konon kata dokter, orang yang sudah berusia empat puluh tahun ke atas akan autoplus. Dan, setiap dua tahun di atas umur itu, plusnya akan bertambah.

Tanda Cinta Maria

“Papa, kenapa tangannya berdarah?”
“Kena kuku saat papa garuk.”
“Makanya potong kuku, Pa.”

Si Kecil berlari ke belakang, membongkar kotak obat, dan membawakan saya plester luka bergambar princess.
“Aku aja, Pa.”

Ia merobek bungkus plester tersebut. Melepas kertas yang menutupnya. Kemudian menempelkan di bagian lengan saya yang berdarah.

Rosario di Tangan Ibu

Satu warisan berharga dari mendiang ibu adalah rosario. Tepatnya adalah teladan berosario. Semasa hidupnya, ibu saya rajin mendaraskan doa ini. Biasanya pada malam hari, entah dilakukan bersama umat lingkungan saban Mei dan Oktober atau sendirian sebelum tidur di hari-hari biasa. 

Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya

Hari ini adalah peringatan Santa Maria Diangkat Ke Surga. Terkait Maria, saya senang menceritakan pengalaman ini meski sudah berulang kali. Saya sekeluarga memiliki kaul khusus setiap tahun baru: bertandang ke Katedral Santa Perawan Maria di Bogor.

Kaul itu tidak tanpa alasan. Pada bulan ke-delapan menggandung anak kedua, istri saya merengek minta diajak jalan-jalan ke Bogor. Tujuannya cuma satu, yakni makan sup buntut Ma’emun, sop legendaris di Jalan Sudirman.

Page 1 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén