Kata-kata Yang Hidup

Paskah itu perihal kebangkitan. Perihal hidup. Demikian juga menulis. Menulis itu upaya menghidupkan kata-kata. Mengembusinya dengan roh. Hari ini, saya mau menceritakan sisa-sisa perjumpaan dengan Martin Aleida. Soal filosofi menulis ala Martin sudah saya ceritakan di tulisan pertama. Judulnya, Martin Aleida, Sastrawan Penyintas Peristiwa 1965.

Petrus di Tengah Aksi 212

Setiap kali memasuki pekan suci atau pekan mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, saya selalu teringat Petrus. Sosoknya begitu nyata. Kok bisa? Petrus, murid yang sesumbar akan mengikuti Yesus secara militan. Sayangnya, militansi Petrus runtuh seketika begitu melihat gurunya ditangkap, digelandang, dan akan dihukum mati. Ia menyangkal Yesus menjelang masa sengsaraNya. Tiga kali pula.

Golput Itu Ibarat Nabi yang Kesasar di Padang Gurun

Malam-malam, sekitar dua jam usai KPU mengumumkan masa tenang, saya justru tidak tenang. Kenapa? Karena kebanyakan minum kopi dan tak bisa tidur. Makin tak tenang setelah menemukan statusnya Feby Indirani. Intinya, dia menilai gagasan-gagasan perlawanan yang diusung golput itu, menurut sepenangkapan saya, absurd dan tak efektif.

Selasa

Pada sebuah masa, saya pernah merasa was-was saban Selasa tiba. Was-was yang sungguh mengganggu. Itu terjadi selama hampir enam mingguan. Sampai pada akhirnya rasa was-was itu hilang dengan sendirinya. Kok bisa? Saya bercerita ini lebih dulu. Tentang Selasa, saya selalu ingat kisah yang ditulis Mitch Albom berjudul “Tuesdays with Morrie” (1997). Novel legendaris yang diangkat … [Read more…]