Membaca Untuk Menulis

Mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Suatu saat Anda begitu bersemangat menguras dompet untuk memboyong buku-buku dari sebuah pameran. Beberapa waktu kemudian, Anda tersadar bahwa hanya sedikit buku-buku itu yang sudah Anda baca. Atau, bahkan, tak ada satu pun dari buku-buku tadi yang sudah Anda baca.

Saya pernah mengalaminya. Ini sebuah tragedi. Saya tak mau mengalaminya lagi. Sebab itu, saya punya satu kaul baru. Cukup menantang. Usai membaca satu buah buku, saya akan bikin catatan. Bisa resensi atau semacam resensi. Dikirim ke media atau cukup diposting di blog pribadi.

Sebagian orang sudah terbiasa melakukan ini. Hernadi Tanzil, misalnya, punya blog khusus untuk resensi buku-buku yang ia baca. Leila S Chudori juga. Namanya hampir selalu muncul di rubrik resensi Tempo — entah resensi buku maupun film. Sejumlah teman saya juga melakoninya. Entah resensi di media atau sekadar coretan kecil poin-poin penting isi buku tersebut dan dibagikan di media sosial.

Kaul ini sudah saya pertimbangkan untung ruginya. Untungnya banyak. Ruginya tidak ada. Pertama, menulis resensi merupakan proses mendokumentasikan dan merawat ingatan akan hal-hal menarik dan penting dari buku yang sudah dibaca. Maklum daya ingat manusia itu terbatas. Ini merupakan perjuangan melawan lupa.

Kedua, hal-hal menarik semisal kutipan dari buku itu sewaktu-waktu bisa dijadikan bahan untuk menulis. Saya tak perlu repot-repot lagi membaca ulang dan mencari halaman letak kutipan itu.

Soal ini, saya ingat J. Sumardianta. Dia penulis dan guru SMA De Britto. Semua tulisan dan bukunya bermula dari kegemarannya membaca buku. Ia melahap buku dengan rakus. Tema apa pun. Sumardianta memang seorang predator buku. Buku-buku itu ia rangkum dengan bahasanya sendiri. Lalu, jadilah esai-esai sejak tahun 1989. Ia pun punya tabungan catatan berupa esai perihal buku yang pernah ia baca (Simply Amazing, 2009).

Ketiga, melatih otot-otot menulis. Daripada bingung mau menulis apa, lebih gampang menulis apa yang baru saja dibaca. Alih-alih sebagai olahraga menulis. Harapannya, menulis bisa lebih luwes dan mengalir.

Keempat, melatih produktivitas. Membaca buku itu kegiatan mulia. Namun, pada taraf tertentu, ini tergolong konsumtif. Sangat konsumtif apabila membeli buku tanpa membacanya sama sekali. Sebaliknya, menulis itu produktif. Artinya, usai membaca buku, orang memproduksi tulisan baru.

Kelima, mempertajam daya refleksi. Membaca itu sama saja mendengarkan. Sembari mendengarkan, saya berimajinasi. Lalu memikirkan dan mengaitkannya dengan kehidupan aktual. Mengalirlah makna dan inspirasi-inspirasi baru.

Keenam, alasan sok sosial. Dengan menuliskan hasil membaca buku berarti saya berbagi kepada orang lain. Inspirasi dan cerita bagus tidak saya dekap sendiri — ora tak kekep dhewe. Menulis, pada taraf ini, adalah berbagi.

Ketujuh, menulis resensi sebagai barang bukti paling kentara bahwa saya sudah membaca buku. Boleh dibilang, resensi menjadi bentuk pertanggungjawaban saya sebagai pembaca.

Demikian kaul baru saya. Mungkin Anda tak sependapat. Mau membaca buku saja, bagi kebanyakan, sudah alhamdulilah. Saya hanya mau menantang diri sendiri. Saya mencari yang lebih. Gampang-gampang susah. Tantangannya tak remeh. Tak gampang menjalankan ibadah membaca dan menulis di era penuh disrupsi oleh kedap-kedip layar henpon.

Betul demikan?

— Kebon Jeruk, 27 Mei 2019


Mei dan Maria-maria Dolorosa

Tiga perempuan ini menyandang nama Maria. Tiga-tiganya memiliki seorang anak laki-laki. Ketiga anak lelaki itu mati dibunuh dalam tragedi kemanusiaan. Satu mati di Golgota. Satu mati di Klender. Satu lagi mati di Semanggi. Mereka adalah Maria-maria berduka cita. Saya menyebutnya Maria-maria Dolorosa.

Mei, bagi umat Katolik, adalah bulan Maria. Devosi pada Bunda Tuhan ini biasanya diisi dengan berdoa rosario atau ziarah ke gua Maria. Bagi bangsa Indonesia, Mei adalah bulan kelam. Dua puluh satu tahun lalu, pada bulan ini, Indonesia terbakar oleh kerusuhan berbau rasial. Mahasiswa-mahasiswa ditembaki. Toko-toko dan rumah-rumah dijarah dan dibakar. Ribuan orang mati terpanggang. Perempuan-perempuan diperkosa. Indonesia kelam — sekaligus kejam.

Sumber: Missionaries of Divine Revelation

Bunda Maria juga mendapat julukan bunda duka cita — Mater Dolorosa. Dalam bahasa Inggris, Mother of Sorrows. Maria digambarkan dengan sosok ibu yang jantungnya tertusuk tujuh pedang. Tujuh pedang ini melambangkan tujuh peristiwa sedih yang mengoyak hati Maria — hati seorang ibu. Ibu yang melihat sendiri kekejian tak terperi menimpa putranya.

Saya terbantu film The Passion of the Christ (2004) untuk merasakan kepedihan Maria. Film yang dibintangi Jim Caviezel dan disutradarai ini Mel Gibson ini mengeksplorasi kesengsaraan Yesus dan kepedihan Maria. Bagaimana tidak, anak yang selama ini ia besarkan yang mengajarkan cinta kasih, dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun justru dihukum mati. Yesus dihukum mati atas tuduhan subversif dan penistaan agama oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli kitab yang munafik dan bersekongkol dengan penguasa Romawi yang korup.

Satu adegan paling menyentuh adalah ketika Maria menjumpai anaknya yang sedang memanggul salib jatuh tersungkur di jalan. Salib itu menimpa tubuh Yesus yang luka-luka dan bersimbah darah. Lalu Maria terkenang saat Yesus masih kecil, berlari, dan jatuh di jalan. Maria yang melihatNya bergegas menolong putranya. Maria pun terdorong kembali menolong anaknya yang jatuh di jalan salib. Sayangnya, tentara-tentara Romawi menghalang-halanginya. Pasti pedih sekali perasaan ibu Maria ini.

Maria kedua adalah Maria Sanu. Saya pernah menemuinya di rumahnya di Klender. Kala itu, 10 Mei 2018, bersama anak saya, Jagad Cleva. Maria Sanu adalah ibu dari Stevanus, bocah yang ikut menjadi korban di dalam Jogja Plaza — sekarang Mal Citra Klender yang dibakar pada kerusuhan 14 Mei 1998. Maria Sanu bercerita tentang Stevanus sembari beberapa kali menangis mengenang putranya.

Saya dan Maria Sanu di rumahnya. Foto: Jagad Cleva Nitisara

Singkat cerita, Stevanus kala itu pamitan main bola. Sampai sore, ia belum pulang ke rumah. Maria Sanu was-was. Kata temannya, Stevanus ikut menonton tawuran di Jogja Plaza. Hingga malam, ia belum pulang. Kecemasan menghebat dalam diri Maria Sanu yang sedang berosario di lingkungan. Di rumah, Maria Sanu menonton televisi. Jogja Plaza dibakar dan dijarah. Maria makin panik.

“Ya, Tuhan. Kalau anak saya takut pulang, mohon berikanlah petunjuk pulang. Kalau ia ikut terbakar, ampunilah dosa-dosanya,” tutur Maria terisak.

Kerusuhan di Klender itu membuat ratusan orang hangus dibakar. Banyak yang tak teridentifikasi karena kondisinya yang gosong. Saat pemakaman massal, peti-peti dibawa ke Pondok Rangon tanpa identitas. Maria Sanu terus berosario dan menangis.

“Di hari pemakaman massal itu, saya tak kuat melihat siaran televisi. Banyak peti di sana. Jangan-jangan Stevanus ada di sana,” katanya dengan mata berair.

“Salah anak saya apa sehingga dihilangkan begitu saja. Meninggalnya tak wajar. Ibu yang mengandung, melahirkan, merawat, mendidik hingga besar, tapi orang lain membakarnya semena-mena. Mereka tak merasakan betapa sakit hatinya seorang ibu.”

Saya bergeming dan mendengarkan. Mencoba merasakan betapa pilunya seorang ibu melihat anaknya mati dengan cara seperti itu. Jasadnya tak diketahui. Itu pun terpaksa dimakamkan dengan nisan tanpa nama. Kisah Maria Sanu ini pernah saya tulis dalam narasi berjudul “Menanti Stevanus Pulang.” Saya akan membagikannya secara terpisah.

Maria ketiga adalah Maria Sumarsih. Sumarsih adalah ibu dari Bernardinus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Atma Jaya yang ditembak mati aparat pada peristiwa Semanggi, 13 November 1998. Wawan adalah anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) yang ditembak di dada saat dia sedang menolong korban yang juga ditembak oleh aparat.

Bersama Maria Sumarsih di depan istana.

Peristiwa itu tentu memilukan Maria Sumarsih sebagai ibu. Namun, Maria Sumarsih mengaku, dukacitanya sudah bertransformasi pada perjuangan akan keadilan dan supremasi hukum.

“Kebenaran itu bersinar. Saya merasa, perjuangan sesulit apa pun ketika di jalan benar, maka ibarat nyala lilin, nyala lilin itu tidak akan pernah padam. Bahkan, ketika saya berada di lorong sempit, cahaya terang selalu menyinari langkah saya,” ujar Sumarsih.

Sumarsih menjadi salah satu inisiator aksi di depan istana setiap Kamis. Aksi diam dengan berpayung hitam dan berpakaian serba hitam ini dikenal dengan Aksi Kamisan. Sampai hari ini, aksi itu masih digelar di depan istana. Maria Sanu bersama para korban-korban kejahatan HAM berat masa lalu juga ikut hadir di aksi itu.

“Hitam bukanlah lambang duka cita. Hitam adalah lambang keteguhan. Keteguhan kami dalam mencintai Wawan, mencintai para korban, mencintai bangsa Indonesia,” kata Sumarsih.

Begitu cintanya pada Wawan, Maria Sumarsih sampai sekarang masih menyediakan piring kosong untuk putranya. Lengkap dengan sendok, garpu, dan gelas di meja makan. Itu terjadi saban makan bersama digelar. Di luar makan bersama, piring itu tetap ditaruh rapi, tertelungkup, lengkap dengan perkakasnya. Kisah ini pernah saya tulis dalam “Piring Kosong untuk Wawan.”

Maria-maria dolorosa ini kini masih terus berjuang untuk keadilan. Perjuangan mereka tampak sunyi. Pemerintah saat ini pun masih tampak diam. Belum ada langkah nyata mengusut, menangkap, mengadili para pelaku kejahatan HAM masa lalu. Bahkan, para jenderal yang terindikasi kuat justru bebas bermanuver. Ada yang berkali-kali ikut kontestasi calon presiden. Ada juga yang ikut dalam pemerintahan Jokowi saat ini. Sumarsih menilai, Nawacita Jokowi pun — khususnya penuntasan kasus HAM masa lalu — masih tinggal janji yang belum ditepati.

Mei memang bulan yang tepat untuk mengenang Maria-maria Dolorosa itu. Masih banyak “Maria-maria” (baca: perempuan ibu-ibu) yang berduka dan mencari keadilan sekian lama. Maria-maria yang kehilangan anak-anaknya atau suaminya — dalam kasus penculikan aktivis, penembakan mahasiswa, Tragedi Mei, Peristiwa 1965, Talangsari, Tanjung Priok, Papua, Timor Leste, Tragedi Semanggi dan Trisakti, dan sebagainya.

Perempuan-perempuan itulah yang paling lantang berjuang. Karena dari merekalah lahir kehidupan. Merekalah yang paling terluka ketika kehidupan yang mereka lahirkan dibinasakan semena-mena oleh orang lain. Bahkan, oleh instrumen bernama negara.

Andaikata anak-anak mereka masih hidup, mungkin Maria-maria itu menikmati hari tua mereka dengan menggendong dan menimang cucu-cucunya. Entah bermain di mal, berjalan-jalan di kebon raya, ngevlog bareng, berbagi tawa, seperti Pak Jokowi.

— Kebon Jeruk, 12 Mei 2019

Kucumbu Tubuh Indahku: Narasi Getir dan Trauma

Tiket bioskop ini akhirnya jatuh ke tangan saya juga. Film “Kucumbu Tubuh Indahku” pun sudah saya tonton. Bolehlah sekarang saya berkomentar atas film ini setelah sekian lama gatel ingin berkomentar.

Biar enteng berkomentar, saya harus “membunuh” Garin Nugroho lebih dulu. Kok gitu? Mengutip Roland Barthes (1915-1980), semiolog Prancis, pengarang itu mati begitu karyanya diterbitkan. Karya itu hidup sendiri dan berdialog dengan audiensnya. Demikian juga dengan film Garin ini. Sekarang, ia bebas dinikmati dan ditafsirkan sendiri oleh penonton. Tanpa terlalu terbebani untuk memikirkan maksud sang sutradara.

“Film ini keren banget!” Kata saya di tengah kegaduhan menolak dan memboikot film yang dianggap mempromosikan LGBT itu. Film ini, bagi saya, kental bermuatan filsafat manusia. Ia bicara soal ketubuhan, trauma, kekuasaan, dan kekerasan. Sinematiknya pas, kadang tampak teatrikal.

Juno dalam busana lengger. Foto: Alinea.id

Soal trauma, Garin mengangkat trauma Peristiwa 1965. Trauma ini memengaruhi kehidupan tokoh-tokoh cerita film tersebut lintas generasi. Termasuk hidup Juno, karakter utama film ini. Trauma ini tergambar jelas dalam dialog Juno dengan pakdhenya.

Setiap tubuh punya trauma. Keluarga besar kita penuh dengan trauma badan. Bapakmu selalu pergi ke sungai itu karena trauma waktu kecil melihat keluarga besar kita dibantai di sungai itu,” ujar pakdhe Juno yang berprofesi sebagai tukang jahit kampung.

Bapak Juno adalah seorang dalang. Ia dituduh komunis hanya karena pernah diundang pentas di acara partai. “Tahun 1965, keluarga kita yang tersisa jadi terasing. Mereka memilih kerja diam-diam dan sendiri. Bapakmu saiki lari ke pulau lain. Jauh dan tak mau mendekat sungai itu,” katanya.

Mendengar dialog itu, saya kemudian membayangkan bagaimana Soeharto dengan militernya membantai orang-orang yang dituduh PKI. Membuang tubuh-tubuh mati mereka di sungai. Sungai pun memerah darah.

Di situasi itu, pakdhe menasihati Juno agar tak lari dari kenyataan. “Semua trauma itu bagian dari hidup. Kamu harus mencintai badanmu. Itu yang membawa hidupmu,” kata pakdhe Juno sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

Mempersiapkan tarian Lengger. Foto: Harnas.co

Trauma sejarah itu mengental dalam diri Juno, bocah lanang bertubuh lembut yang menjadi penari Lengger. Menurut sejarah, tari asal Banyumas ini sudah ada sejak zaman Majapahit. Tari ini dipentaskan oleh laki-laki. Mereka menari dan berdandan seperti perempuan. Tak ayal, banyak pihak antitari ini menganggapnya sebagai praktik LGBT.

Stigmatisasi dan kekerasan pada tubuh ini tergambar jelas dalam adegan-adegan film. Ini cenderung dilakukan oleh mereka yang merasa memegang kekuasaan. Kata Michel Foucault (1926-1984), pemikir Prancis, kekuasaan itu ada di mana-mana. Kekuasaan ini satu dimensi dengan relasi. Di mana ada relasi, di situ ada kekuasaan. Di film itu, kekuasaan menindas itu hadir di relasi politik, moral, ekonomi, gender, guru-murid, hingga ruang privat bernama rumah.

Di politik, stigmatisasi ini muncul dalam adegan bupati yang sedang bertarung dalam pilkada. Suatu ketika, karena alasan politik dan kecemburuan, Juno dan klub tari Lenggernya dilabeli komunis. “Kalau mereka macam-macam, bilang saja mereka adalah PKI baru,” ucap sang bupati. Bupati segera mengirim orang bayarannya dengan satu pesan. “Kowe-kowe kudu reti. Jangan sampai ninggalin jejak. Kalau sampai ninggal jejak, jejakmu aku hapus.”

Kekerasan atas nama moral terjadi dengan pengusiran paguyuban seni Lengger. Istri bupati bilang, kelompok Juno harus diusir dari masyarakat karena hanya akan merusak moral anak-anak muda. Hal yang sama terjadi ketika warga kampung menggelandang tubuh guru tari perempuan karena dituduh melakukan tindakan asusila terhadap muridnya. Nah, bukankah kedua isu ini selalu renyah digoreng di masa pemilu, seperti pemilu tahun ini? Di sinilah, relevansi film Garin dengan kekinian.

Ada dialog menohok praktik politik kotor tersebut. Ini diungkapkan oleh teman (baca: pacar gelap) perempuan istri bupati. “Caramu menang itu merusak hidup. Kamu akan sepi seumur hidupmu. Tubuhmu sepi. Apa pun kemenanganmu, kamu akan kalah. Hidupmu sepi.” Ini seolah menjadi peringatan bagi para politikus yang doyan berkontestasi dengan cara-cara kotor.

Seorang warok bertopeng. Foto: Beritagar.id

Kekerasan ekonomi terwakili oleh sosok petinju, pelanggan jahit baju sekaligus teman baru Juno. Lelaki ini mengaku terpaksa jadi petinju karena lahan tani di kampungnya habis. Ia harus bekerja. Dia anak sulung dan memiliki banyak adik. Mereka semua butuh makan. Lagi pula ia juga butuh uang untuk mengawini perempuan. Terpaksa ia “menjual” tubuh atletisnya.

Juno dan sang petinju. Foto: ngopibareng.id

Mimpi petinju itu untuk menguasai tubuhnya sendiri kandas. Ia terperangkap dalam permainan preman bermodal. Preman ini menjadikan tubuhnya sebagai alat judi. Preman itu akan memberinya uang jika ia menang. Sayangnya, petinju itu kalah. Ia terpaksa memberikan tubuhnya untuk disembelih, diambil ginjalnya dan dijual.

Kekerasan atas tubuh juga terjadi di kelas. Guru, si pemegang kekuasaan, menjadi pelakunya. Dianggap bikin onar, Juno kecil dihukum gurunya menulis di papan tulis dengan kapur yang ada di mulutnya. Di rumah pun demikian. Juno harus menerima hukuman badan karena dinilai tak menuruti nasihat bibinya. Ia dihukum dengan ditusuk jarinya dengan jarum hingga berdarah.

Kekerasan demi kekerasan menimbulkan trauma. Saat masih kecil, Juno menyaksikan bagaimana seorang guru tari Lengger membantai tubuh murid lanangnya dengan clurit. Darah muncrat ke mana-mana. Sampai sini pertanyaan muncul: siapa sebenarnya pemilik otonomi atas tubuh itu?

Nampaknya, tragedi tubuh akan terus terjadi, kapan pun dan di mana pun. Hal ini kentara diteriakkan oleh Juno saat melihat pertarungan berdarah antarwarok berclurit. “Nang endi-endi getih, nang endi-endi getih atau di mana-mana darah, di mana-mana darah,” teriak Juno ketakutan sembari membasahi tubuhnya di bak air.

Film Garin ini sarat pesan dan kritik sosial. Hampir selalu, kekuasaan itu cenderung menindas dan memunculkan trauma bagi korban. Dan, tragedi kemanusiaan tampil paling benderang dalam penghancuran tubuh. Penghancuran ini terjadi karena kebencian dan rasa lebih berkuasa untuk melenyapkan liyan atau yang berbeda dengannya. Entah beda kepercayaan, agama, preferensi seksual, ras, suku, hingga pilihan politik. Tubuh merekam trauma dan sejarah kekerasan itu. Tubuh yang dilukai, dibakar, dipukuli, diperkosa, hingga ditembaki.

Pesan ini jauh lebih dalam dari sekadar kekuatiran norak mereka yang memboikot film ini karena alasan LGBT. Fenomena boikot ini justru memperingatkan kita bahwa ancaman kekerasan pada tubuh itu masih nyata hingga hari ini. Atas nama kuasa moral dan agama, orang-orang LGBT masih mengalami persekusi, perlakuan seperti binatang, dan kekerasan yang bahkan berujung pada kematian.

Rianto yang dalam film bermonolog sebagai narator. Film ini juga terinspirasi dari kehidupan Rianto, seniman Lengger. Foto: Warta Kota

Jadi, siapa sebenarnya pemilik otonomi tubuh manusia itu? Juno beberapa kali dalam film itu mencoba melukai tubuhnya dengan jarum. Jarinya berdarah dan ia merasakan sakit. Nah, di sini ada pesan moral kuat. Kalau itu menyakitkan diri kita, jangan lakukan itu pada orang lain. Immanuel Kant (1724-1804) bilang, apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepada kita, maka jangan lakukan itu kepada orang lain.

Apakah itu sudah cukup? Tampaknya tidak. Pikiran dan jiwa kita kadang merasa lebih berkuasa pada tubuh. Lalu memperlakukan tubuh semena-mena dengan bekerja tanpa istirahat. Padahal tubuh perlu didengarkan. Tubuh pun butuh kasih sayang. Hal ini tersirat dalam kutipan sang petinju itu. “Aku anak paling gede. Dari kecil, aku selalu dengar, tanggung jawabmu kuwi gede, le. Kerjo, kerjo, kerjo. Ora pernah sekali pun aku ngerasakno dipeluk,” katanya.

Tulisan ini saya selesaikan lima hari usai para polisi Bandung menelanjangi dan menggunduli ratusan ABG peserta May Day yang dicap kelompok anarko-sindikalis. Sehari setelah Andre Taulany dilaporkan polisi terkait dugaan penistaan agama. Hingga eksploitasi kasus Vanessa Angel tak henti-henti.

Dan, untuk segala upaya memboikot dan melarang film ini dengan alasan agama dan moralitas sempit, hanya satu kata: lawan!

— Kebon Jeruk, 5 Mei 2019


Ada Ibu di Antara Bintang-Bintang Itu

Sumber: Pinterest

Saya masih memelototi layar laptop. Siang kemarin. Mengedit video-video seputar hajatan kantor sepekan ini. Sesekali, menengok layar henpon. Facebook masih sama dengan hari-hari kemarin. Penuh kisah-kisah pandir dan menghibur. Dari mainan presiden-presidenan, gubernur yang menyalahkan banjir kiriman, hingga mantan jenderal yang konon bisa ngobrol dengan kucing, nyamuk, dan semut.

Continue reading “Ada Ibu di Antara Bintang-Bintang Itu”