Kopi, Buku, dan Film

Category: Film

Laku Investigasi Seorang Kartunis

Hobi membaca buku, menyambangi perpustakaan, mengkliping koran menjadi modal awal Robert Graysmith, Sang Kartunis, mencari dalang pembunuhan berantai di San Francisco.

Robert Graysmith (kanan). Sumber ilustrasi: IMDB

Bagi seorang wartawan seperti saya, menonton film-film bertema jurnalisme merupakan sebuah kemewahan. Apalagi temanya spesifik seputar jurnalisme investigasi, seperti All The President’s Men dan Veronica Guerin yang merupakan dua film favorit saya. Setelah sekian lama tak menonton film serupa, baru-baru ini, saya menemukan film bagus di Netflix berjudul Zodiac.

Film garapan David Fincher tahun 2007 ini mengisahkan misteri pembunuhan berantai di San Francisco, Amerika Serikat, pada periode tahun 1960 hingga tahun 1970-an. Kerennya, investigasi atas serial pembunuhan tersebut dilakukan secara tekun oleh seorang kartunis kutu buku dan keras kepala bernama Robert Graysmith. Ia melakukannya di saat wartawan maupun kepolisian kesulitan dan angkat tangan pada kasus yang melibatkan sosok pembunuh yang menamai dirinya dengan inisial Zodiac tersebut.

The Platform dan Kematian Sistematis

Aturan main di penjara sengaja dibuat untuk memunculkan konflik-konflik antarnapi yang sering berujung pada kematian secara mengenaskan.

Sumber: The Guardian

Menonton film The Plaftorm (2019) garapan Galder Gaztelu-Urrutia mengingatkan saya pada pelatihan analisis sosial setahun sebelum Soeharto jatuh. Film yang tayang di Netflix ini mengangkat ketidakadilan sosial yang digambarkan dalam sistem penjara yang tak biasa. Film berjudul asli El hoyo ini diputar perdana di Toronto International Film Festival (2019) dan menyabet penghargaan People’s Choice Award for Midnight Madness.

Penjara ini dibangun secara vertikal seperti menara dengan sel di setiap lantai yang jumlahnya ratusan. Menara ini disebut dengan Pusat Manajemen Mandiri Vertikal. Setiap lantai merupakan satu sel yang dihuni oleh dua orang. Yang ditonjolkan dalam penjara ini adalah sistem pembagian jatah makanan yang di luar kebiasaan penjara pada umumnya. Pembagian makanan dilakukan melalui media bernama platform yang diturunkan dari lantai paling atas ke paling bawah dan berhenti sejenak di setiap lantai untuk disantap oleh narapidana di setiap lantai. Mereka setiap bulan diacak untuk berganti lantai.

Hotel Mumbai: Pembantaian Atas Nama Allah

Lelaki dengan suara serak itu terus menelepon. Ia berupaya meyakinkan anak-anak muda bersenapan itu sedang berjalan di jalan Allah. Surga pun menanti mereka. “Allahu Akbar.” Senapan meletus. Orang-orang kocar-kacir dengan jeritan histeris. Tubuh-tubuh roboh. Darah menggenang di mana-mana.

Film Hotel Mumbai (2019) memang menegangkan. Teror dan ketegangan hadir menit demi menit. Film garapan sutradara Anthony Maras dan John Collee ini mengangkat kisah nyata di Mumbai pada tahun 2008. Saat itu, 26 November, sekelompok teroris dari Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan ini berperahu menuju Mumbai. Kelompok ini terdiri dari sepuluh anak muda. Mereka bersenjata AK47, pistol, dan granat.

Kucumbu Tubuh Indahku: Narasi Getir dan Trauma

Juno dalam busana lengger. Foto: Alinea.id

Tiket bioskop ini akhirnya jatuh ke tangan saya juga. Film “Kucumbu Tubuh Indahku” pun sudah saya tonton. Bolehlah sekarang saya berkomentar atas film ini setelah sekian lama gatel ingin berkomentar.

Biar enteng berkomentar, saya harus “membunuh” Garin Nugroho lebih dulu. Kok gitu? Mengutip Roland Barthes (1915-1980), semiolog Prancis, pengarang itu mati begitu karyanya diterbitkan. Karya itu hidup sendiri dan berdialog dengan audiensnya. Demikian juga dengan film Garin ini. Sekarang, ia bebas dinikmati dan ditafsirkan sendiri oleh penonton. Tanpa terlalu terbebani untuk memikirkan maksud sang sutradara.

Epilog Drama The Washington Post

Sumber: ascmag.com

Saat tulisan ini diturunkan di laman ini, media massa sudah sepi dengan pembahasan skandal Bank Century. Sebagai awam biasa yang dulunya berharap akan munculnya para jurnalis investigasi yang mampu membongkar skandal itu, seperti yang dilakukan dua wartawan The Washington Post dalam film itu, ternyata kecewa. Skandal Century pun berujung pada kegamangan alias tak jelas.

Media lebih senang dengan pemberitaan dramatis dengan alur cerita bak sinetron. Media nasional yang selama ini terkenal sebagai jagoan dalam liputan investigasi, nyatanya juga bergigi ompong. Bahkan, penulisan beritanya menampakkan media ini tidak lagi kritis pada kekuasaan tetapi terkesan dekat dan membela kekuasaan.

Shutter Island: Absurditas Multitafsir

Penonton tak perlu merasa bersalah dan terteror dengan misteri cerita itu. Bahkan tak perlu ikutan ‘sakit jiwa’ dalam memahami film itu.

Teddy Daniels. Sumber: thespool.net

Pada mulanya sebuah pulau terpencil. Namanya Shutter Island, sebuah pulau yang menyudut beberapa mil dari Massachusetts dan dikelilingi batu karang. Di sana, ada rumah sakit yang dikhususkan orang sakit jiwa dan psikopat bernama Ashecliffe Hospital.

Pada tahun 1954, seorang marshal AS Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) bersama rekan anyarnya Chuck Aule (Mark Ruffalo) datang ke pulau tersebut untuk sebuah tugas penyelidikan atas hilangnya salah seorang pasien rumah sakit jiwa Rachel Solando. Menurut kepala psikiatris setempat Dokter Cawley (Ben Kingsley), Rachel seorang pesakitan yang sangat berbahaya. Ia lenyap dari sel tahanannya tanpa  jejak.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén