Kopi, Buku, dan Film

Category: Buku Page 1 of 2

Ruang Perjumpaan Gereja Katolik dan Komunitas LGBT

Komunitas LGBT masih mengalami penolakan dan diskriminasi di mana-mana, termasuk di gereja sendiri. Ruang perjumpaan bagi Gereja Katolik dan Komunitas LGBT dibutuhkan. Gereja dipanggil untuk bertindak seperti Yesus.

Belum lama ini, dunia maya diramaikan oleh netizen yang mengecam podcast Deddy Corbuzier karena ia menghadirkan pasangan LGBT dalam salah satu episodenya. Usai menuai kecaman dan boikot, pemilik podcast Close the Door itu buru-buru menghapus tayangan tersebut. Peristiwa ini menandakan bahwa hingga hari ini orang-orang LGBT masih mengalami penolakan dan diskriminasi.

Diskriminasi dan penolakan itu juga banyak terjadi di lingkungan Gereja Katolik. Mereka, para LGBT, menjadi kelompok paling terpinggirkan. Keprihatinan inilah yang menjadi salah satu hal yang menggerakkan James Martin, SJ, seorang imam Jesuit dan editor umum majalah America: The Jesuit Review, menulis buku Building a Bridge: How the Catholic Church and the LGBT Community Can Enter into a Relationship of Respect, Compassion, and Sensitivity (2018).

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Ledalero dan komunitas transpuan Fajar Sikka dengan judul Membangun Ruang Perjumpaan Bagi Gereja Katolik dan Komunitas LGBT.

Jurnalisme Musik dan Tamparan pada Peliputan Musik di Indonesia

Penulisan musik sering jatuh pada kisah-kisah gelap, skandal, gosip, kontroversi, dan konflik para musisi dan selebriti. Musik tak diulas sebagai produk seni budaya. Kapasitas jurnalis musik dipertanyakan.

Menulis musik itu menulis tentang manusia. Demikian ujar Taufiq Rahman dalam prakata di buku yang kemudian ditegaskan kembali oleh Idhar Resmadi, penulis buku ini, dalam kata pengantarnya. Pesan pendek ini sangat kuat untuk mewakili tema jurnalisme musik yang menjadi bahasan utama Idhar dalam bukunya setebal 198 halaman tersebut. Jurnalisme dan musik bermuara pada hal yang sama, yakni manusia, ruang, dan waktu.

Yang menarik dari buku ini, selain menjelaskan tentang apa itu jurnalisme musik dan sejarahnya, dalam banyak bahasan, Idhar melakukan koreksi maupun kritik pada media-media musik selama ini. Menurutnya, media musik kita memang butuh tamparan, butuh keberanian untuk mendobrak bahwa banyak hal yang bisa ditulis soal musik. Selain itu, Idhar menyematkan beberapa sentuhan filsafat dan sosiologi, sehingga buku ini tak sekadar informatif, tetapi juga mengantar pembaca menemukan kedalaman di balik fenomena musik.

Refleksi Atas Anak Bajang Menggiring Angin

Tulisan ini merupakan refleksi atas pembacaan buku Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata. Ditulis pada saat penulis masih duduk di bangku SMA.

Ternyata saya sudah menulis sejak SMA. Saya heran bisa menulis seserius ini meski keseleo sana-sini. Tulisan ini pernah dimuat di majalah AQUILA, majalah terbitan SMA Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan pada tahun 1995. Saya mendapatkan kembali dari Dono Sunardi, teman seangkatan di SMA tersebut, yang berbaik hati memindainya dalam bentuk PDF dan mengirimkannya ke saya. Atas nama pendokumentasian, berikut salinannya:

Pengalaman dan pergulatan batin seseorang memiliki dinamikanya sendiri. Orang dipanggil untuk berusaha semakin menyempurnakan dirinya. Ia dipanggil untuk serupa dan secitra dengan Sang Sumber Kesempurnaan. Dialah Yang Transenden, Allah sendiri.

Kemerdekaan, Jin Kafir, dan Mereka yang Disalibkan di Negeri Sendiri

Buku Leonardo Boff. Foto: Sigit Kurniawan

Perbincangan soal salib dan jin kafir membuat saya kembali ke buku lawas ini. Apalagi wacana ini muncul di tengah perayaan kemerdekaan Indonesia. Buku ini ditulis oleh Leonardo Boff. Judulnya “Jalan Salib Jalan Keadilan.” Versi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Kanisius tahun 1992.

Saat menulis ini, media-media masih memberitakan tindakan represif aparat, kekerasan, dan rasisme yang dialami oleh teman-teman mahasiswa dari Papua yang ada di asrama di Surabaya. Seperti dikutip dari Tirto, mereka mendapat umpatan rasis dari aparat bersenjata dengan sebutan “anjing, babi, monyet.”

Baltazar dan Renungan Kebebasan Manusia

Baltazar, Si Beruang Kutub, bertanya mengapa ada manusia berlimpah kekayaan. sementara ada manusia lain yang tak punya apa-apa.

Novel ringkas karya Claudio Orrego Vicuña ini memang pantas disebut novelet. Tebalnya cuma 68 halaman. Edisi dalam Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Marjin Kiri (2018) dengan judul “Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub.”

Novel ini mengisahkan Baltazar, seekor beruang kutub yang ditangkap oleh pemburu dan kemudian dikandangkan di kebun binatang di Cile. Monolog-monolog Baltazar selama di kandang merupakan renungan-renungan seputar kemanusiaan. Tentang kebebasan, kekuasaan, kenangan, solidaritas, hingga ketimpangan sosial.

Srimenanti, Hantu Lelaki Tak Bercelana, dan Prabowo

Novel Srimenanti. Foto: Sigit Kurniawan

Dua hari saya membaca tuntas Srimenanti. Novel perdana Joko Pinurbo memang tak tebal. Tebalnya cuma 138 halaman. Ceritanya mengalir dengan kalimat-kalimat bersahaja, jenaka, dan indah — khas penyair yang akrab disapa Jokpin itu.

Ada dua tokoh utama dalam novel ini. Satu sang penyair yang kemungkinan besar representasi dari Jokpin sendiri. Satu lagi, Srimenanti, perempuan yang berprofesi sebagai pelukis. Keduanya dinarasikan selang-seling dengan sudut pandang orang pertama.

Kata Mereka Tentang Perempuan yang Pergi Pagi-pagi

“Dari tulisan-tulisan Sigit Kurniawan ini saya semakin yakin bahwa semakin personal suatu tulisan semakin dia universal, artinya semakin relevan bagi semua orang.

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén