Sumpah, Susah Sekali Mencintai Kopi

Kemarin tukang antar paket mengantarkan bungkusan ke rumah. Isinya satu bungkus kopi dan tiga batang cokelat. Paket ini dikirim oleh kakak ipar yang tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Kopi dan cokelat tersebut dilabeli dengan merek Trappist dan diproduksi oleh biarawan pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Jawa Tengah. Biara Trapis yang terletak 17 kilometer dari Kota Temanggung ini didirikan pada tahun 1953. Ini merupakan cabang dari biara Koningshoeven di Tilburg, Belanda.

Sekitar dua dekade lalu, saya pernah menginap semalam di salah satu kamar pertapaan itu. Selain keheningan, kue keju, susu murni, babi-babi maupun sapi-sapi, ada satu lagi pengalaman yang susah dilupakan di kompleks seluas 178 hektare itu. Saya ngonangi atau melihat tak sengaja seorang suster biarawati meloncati jendela kamarnya. Pagi-pagi sekali. Bukan mau bunuh diri, melainkan menuju taman di samping kamar untuk menjemur seperangkat pakaiannya. Suasana retret saya sontak terganggu, lebih pasnya terguncang.

Continue reading “Sumpah, Susah Sekali Mencintai Kopi”

Tanda Cinta Maria

“Papa, kenapa tangannya berdarah?”
“Kena kuku saat papa garuk.”
“Makanya potong kuku, Pa.”

Si Kecil berlari ke belakang, membongkar kotak obat, dan membawakan saya plester luka bergambar princess.
“Aku aja, Pa.”

Ia merobek bungkus plester tersebut. Melepas kertas yang menutupnya. Kemudian menempelkan di bagian lengan saya yang berdarah.