Skip to content

Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya

2 Comments

Hari ini adalah peringatan Santa Maria Diangkat Ke Surga. Terkait Maria, saya senang menceritakan pengalaman ini meski sudah berulang kali. Saya sekeluarga memiliki kaul khusus setiap tahun baru: bertandang ke Katedral Santa Perawan Maria di Bogor.

Kaul itu tidak tanpa alasan. Pada bulan ke-delapan menggandung anak kedua, istri saya merengek minta diajak jalan-jalan ke Bogor. Tujuannya cuma satu, yakni makan sup buntut Ma’emun, sop legendaris di Jalan Sudirman.

(more…)

Paskah dari Balik Pintu Terkunci

Malam paskah pada tahun ini berbeda dengan malam-malam paskah pada tahun-tahun sebelumnya. Mungkin juga akan berbeda dengan malam-malam paskah pada tahun-tahun sesudahnya. Kami merayakannya dalam rumah dengan pintu-pintu ‘terkunci.’ Maklum saja, paskah tahun ini berlangsung di masa pemberlakukan kebijakan pembatasan sosial (social distancing) demi mencegah meluasnya pandemi COVID-19. Warga diimbau untuk beraktivitas dari rumah, baik itu bekerja, belajar, maupun beribadah.

Namun, kami tetap bisa mengikuti misa berkat teknologi internet yang menembus pintu-pintu terkunci tersebut. Kami mengikuti misa streaming yang disiarkan dari Keuskupan Agung Semarang yang berjarak 443 kilometer dari rumah kami di Kebon Jeruk, Jakarta pada 11 April 2020. Misa dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubyatmoko, Uskup Agung Semarang.

Lampu-lampu di ruang tengah kami matikan dan kami menyalakan lilin-lilin. Ini lilin paskah tahun lalu yang kami simpan. Kidung Kristus Cahaya Dunia mengalun dari televisi. Cahaya lilin ini membuat ruang tengah makin terang, memberi hangat, dan mengeluarkan sedikit rasa romantis.

Lilin di tangan ini saya persembahkan bagi mereka yang wafat karena virus. Juga untuk para dokter dan tenaga medis yang berada di zona maut, sekaligus untuk Mira, seorang waria yang mati karena dibakar hidup-hidup di Cilincing seminggu lalu.

SIGIT KURNIAWAN

Mungkin seperti ini rasanya menjadi murid-murid Yesus di masa gereja perdana di hari-hari setelah kematian dan awal kabar kebangkitanNya. Mereka berkumpul di rumah dengan pintu-pintu terkunci karena takut pada orang-orang Yahudi. Namun, di tengah ketakutan tersebut, Tuhan yang bangkit datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan mengatakan, “Damai sejahtera bagi kamu.” Mereka terkejut dan bersukacita.

Sementara, kotbah Monsinyur Ruby tak kalah menarik. Ia mengulang-ulang pesan kebangkitan Yesus: jangan takut. Virus corona memang membuat orang-orang takut. Bukan saja takut ketularan, juga takut kehilangan pekerjaan, takut kematian, takut kesulitan ekonomi, dan sebagainya. “Jangan lupa berbahagia. Jangan takut. Pergilah dan wartakanlah sukacita,” demikian pesan imam kelahiran tahun 1963 dan menjabat uskup KAS sejak tahun 2017 itu.

Bagaimana kita bisa pergi mewartakannya di tengah masa karantina? Lagi-lagi teknologi menjadi sarana berkat. Dengan teknologi, kita dimampukan untuk berbagi semangat, harapan, solidaritas, sekaligus kepedulian pada sesama meskipun kita tinggal di rumah-rumah dengan pintu ‘terkunci.’ Berkat teknologi, kita juga mampu membagikan salam Tuhan ke orang-orang di mana pun: damai sejahtera bagi kamu.

Betul demikian?