Scribo Ergo Sum, Aku Menulis Maka Aku Ada

“Bapakku masih membaca kamus setiap hari. Ia bilang hidup kita tergantung pada kepiawaian kita menggunakan kata.”
(Arthur Scargill)

Masih teringat dengan kata-kata pusaka Rene Descartes, Cogito Ergo Sum? Filsuf aliran rasionalisme berdarah Prancis ini mengatakan bahwa aku berpikir maka aku ada. Bapak filsafat modern ini memandang manusia pada hakikatnya adalah pemikiran atau res cogitans. Baginya, kenyataan bahwa aku yang sedang meragukan segala sesuatu itu ada.

Continue reading “Scribo Ergo Sum, Aku Menulis Maka Aku Ada”

Di Surga Ada Mesin Ketik

Imajinasi liar sering muncul dalam batok kepala saya. Tentang mesin ketik. Sebuah mesin ketik ajaib. Bukan laptop. Bukan tablet. Tapi, mesin ketik. Mesin ketik yang dipakai oleh orang-orang di surga sana. Tak-tik-tok. Tak-tik-tok.  Itulah suara yang menguar dari kubikel-kubikel kecil di surga sana. Kubikel-kubikel itu gaduh. Mungkin lantaran bunyi-bunyian itulah, Tuhan memang tak pernah tidur. Tepatnya tak bisa tidur.

Fe. Foto: dokumentasi Fe di Facebook

Orang-orang itu sibuk mengetik. Mengetik kabar bahwa mereka sudah sangat bahagia di surga. Ketikan itu akan dikirimkan untuk saudara, kerabat, atau sahabatnya yang ada di dunia. Sembari mengetik, para malaikat terbang naik turun sambil melayani mereka: menyurungkan secangkir kopi, berbagi api untuk batang-batang rokok, mengulurkan asbak, menuang sebotol bir, maupun seteko anggur.

Imajinasi liar itu masih doyan menari-nari di kepala saya. Muncul bila saya teringat sosok sahabat  penulis yang sudah mangkat. Femi Adiningsih Soempeno namanya. Seandainya di surga ada mesin ketik, apa yang akan ditulis oleh sahabat yang suka saya sapa dengan Fe itu? Seperti biasa, dia mungkin akan menulis kisah-kisah kecil. Kisah-kisah konyol. Kisah-kisah receh. Persis ketika ia memperlakukan blognya saat masih hidup. Mungkin ia akan berbagi kabar betapa baunya jempol kaki Tuhan. Berkabar ternyata ada malaikat yang berhidung pesek dan berperut seperti melon raksasa. Bisa juga berbagi gelak: ternyata Tuhan berhidung tomat dan bertelinga seperti kelinci. Pasti sangat seru. Sungguh seru!

Pastinya kisah-kisah itu bisa membunuh rasa rindu ini. Rasa rindu yang membuncah setelah blognya berhenti berceloteh pada Minggu, 29 April 2012. Ibarat kereta api yang berhenti mendadak dan kemudian ditinggal pergi sang masinis selamanya. Fe buru-buru pergi sepuluh hari setelah kisah terakhir itu. Usai hari itu, saya berharap keajaiban. Blog itu akan disegarkan kembali dengan kisah-kisah baru. Tapi, kisah-kisah baru itu tak muncul. Sampai akhirnya bayangan mesin ketik itu hinggap di kepala saya.

Bayangan itu menguar lagi pada 25 Desember 2012. Saat itu sore hari.  Merapi terbungkus rapat oleh mendung. Saya bertandang di makamnya di Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Rencana ini sudah saya bungkus sejak lama. Akhirnya, persis di hari Natal,  saat liburan, saya mendamparkan diri  ke “rumah barunya” itu.

Turi merupakan sebuah kawasan kecamatan paling utara di kabupaten Sleman. Posisinya di lereng Merapi bagian Selatan membuat daerah penghasil salak pondoh itu berudara sejuk. Untuk mencapainya tidak terlalu sulit. Dengan sepeda motor, saya membutuhkan waktu 30 menit dari Kota Jogja.

Makam Fe. Saya foto pada 25 Desember 2012

“Fe, apa kabar?” kata saya sambil meletakan seikat aster merah dan sekaleng bir. Saya membungkus aster merah itu dari kios bunga di Jalan Ahmad Jazuli, Kota Baru. Saya memilih aster merah bukan karena tanpa sebab. Bunga ini sering diceritakan Fe di dalam blognya. Aster merah selalu ia bawa setiap kali ia mengunjungi makam kedua orangtuanya—Paulus Soempeno dan Agnes Yohana. Keduanya juga  dimakamkan di Kembangarum.  Soal  sekaleng bir itu juga ada alasannya. Bir ini titipan Hendra Soeprajitno—teman kerja Fe saat bekerja di Kontan. Sekarang, Hendra jadi teman satu newsroom dengan saya di Marketeers dan teman minum bir kala suntuk. Bir itu pun saya guyurkan di pusara Fe seperti pesan Hendra.

Kenangan-kenangan itu berloncatan di antara daun-daun bambu kering yang berserakan di makam yang belum setahun itu. Belum ada batu nisan membungkusnya. Masih berupa tanah berwarna cokelat bercampur pasir. Makam ini terbingkai oleh semen berbentuk empat persegi.  Sore itu mengantar sunyi. Hanya saya dan nisan-nisan dalam bayangan batang-batang bambu dan daun-daun pisang. Sunyi ini pun membuka kotak kenangan tentang seseorang yang jasadnya dimakamkan di sana.

Kenangan pertama jatuh pada Bioskop Megaria. Selasa malam, 19 Juli 2005.  Bioskop yang konon katanya merupakan bioskop tertua berarsitektur Art Deco malam itu tak  terlalu ramai. Mungkin karena bukan malam minggu. Saya dan Fe sudah membungkus janji untuk menyambangi gedung yang dibangun pada 1949 dan bernama Metropole itu.

Saya dan Fe menukar uang Rp 40 ribu untuk dua potong tiket film Gie. Film tentang Soe Hok Gie besutan Riri Reza menjadi bahan reriungan hangat bagi kami berdua. Kami sama-sama mengagumi sosok Soe Hok Gie, tokoh sentral yang diperankan Nicholas Saputra itu. Banyak sisi menarik dari Soe Hok Gie.  Satu, Gie adalah anak muda. Dua, Gie adalah seorang intelektual. Tiga, Gie doyan menulis. Empat, Gie antikemapanan. Kala itu, sebagai anak-anak muda yang penuh idealis, Gie menjadi ikon antikemapanan kami.

Fe dan kami di komunitas penulis Agenda 18 angkatan pertama. Foto: Agenda 18

Saya menangkap banyak kesamaan antara Gie dan Fe. Fe, jelas, doyan menulis. Fe di masa-masa jatuhnya Diktaktor Soeharto – tentunya dia masih remaja—juga gemar berdemo dan berorasi.  Gie menulis buku sebagai bentuk jiwa antikemapanannya. Fe juga menulis banyak buku. Tentang Prabowo, tentang Wiranto, tentang Soeharto, tentang Boediono.  Tentang nama pertama itu, saya jadi ingat cerpen Seno Gumira Ajidarma “Ibu yang Anaknya Diculik Itu”, tentang jenderal penculik yang sekarang ingin berambisi jadi orang nomer satu di Indonesia.   Fe juga memakai nama pena “Agnes Yo”—nama samaran yang ia ambil dari nama almarhum ibunya.

Ketertarikannya pada politik mungkin karena sosok Paulus Soempeno. Ayahnya menjadi salah satu korban gonjang-ganjing politik 1965. Soempeno pernah merasakan dinginnya lantai penjara. Siksaan dan intimidasi Rezim Orde Baru tak luput ia alami. Fe dalam berbagai coretan di blognya sangat mengagumi dan membanggakan bapaknya. Namun, di samping menjadi penulis buku tentang kerasnya politik, Fe merupakan seorang penulis yang tak bisa menyimpan sendiri kegundahan hatinya. Blognya berisi jajaran cerita-cerita kecil tentang apa saja yang ditulis dengan renyah dan sangat personal. Persis seperti Gie yang rajin mengisi buku hariannya.

Sayangnya, Gie mati muda di Gunung Semeru. Intelektual muda ini mati karena asap beracun pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ia merayakan ulang tahunnya ke-27. Gie mati bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Gie mati dalam pelukan gunung yang dingin dan sunyi.  Kematian Gie meninggalkan banyak hal. Termasuk sepotong puisi kecil yang seolah  menjadi penanda takdirnya. “…nasib terbaik ialah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda. Makhluk kecil kembalilah dari tiada ketiadaan. Berbahagialah dalam ketiadaaanmu…”

Fe juga mati muda, bersama banyak rekannya, dalam pelukan gunung yang sunyi, Gunung Salak.

Kenangan kedua jatuh di Pondok Labu. Kala itu, tahun 2003, malam sudah matang di Jakarta Selatan. Kami bertemu di sebuah pelatihan penulisan, Agenda 18—komunitas  anak-anak muda yang bermimpi menjadi penulis.  Di komunitas inilah, saya  mulai mengenal Fe sebagai penulis berbakat. Tugas-tugas penulisan ia kerjakan dengan ciamik. Termasuk tulisan tentang kunjungannya ke rumah Pramoedya Ananta Toer – penulis favoritnya.

Femi (kaos merah kacamata) bersama Agenda 18 sedang berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Foto: Agenda 18

Dari Pondok Labu, kami berlanjut menggelar reriungan.  Entah untuk beberapa potong mendoan panas di sudut jalan Barito, Jakarta Selatan, secangkir oplosan vodka di ruas jalan Tebet bareng kolega. Entah untuk beberapa potong obrolan di kos yang dipenuhi dengan mahkluk berkutang dan di ruang penuh ornamen katak di bilangan Palmerah. Merapat untuk komunitas penulisan. Mencacah malam di warung tenda.

Saat bertemu, kami bisa intensif bertemu untuk beberapa hari. Tapi, sekali tak bertemu, bisa berbulan-bulan. Malah setahunan kami tidak bertemu. Mungkin ia sedang mengembara ke negeri orang. Mungkin sedang berkereta untuk sebuah tugas jurnalistik.  Sampai akhirnya saya tahu alasan mengapa ia lebih suka menghilang, yakni melahirkan buku-buku.

Kenangan ketiga jatuh pada tumpukan surat elektronik.  Sebuah korepondensi digital. Di awal-awal pertemanan, kami sering bertukar surat elektronik. Kami berbagi mimpi-mimpi menjadi seorang jurnalis dan penulis yang baik. Meski sejujurnya, sayalah yang sebenarnya sedang berguru menulis padanya. Saya diam-diam belajar bagaimana menulis yang enak dan renyah, entah di media tempat ia bekerja maupun di halaman blognya.

Pada Sabtu, 23 Juli 2005, misalnya, Fe mengirimkan  paket elektronik ke kotak surat Yahoo! saya. Paket saya buka dan muncullah empat artikel yang terbungkus dalam attachment. Semua isinya tentang cara menulis yang baik. Satu artikel ditulis oleh seorang wartawan senior Farid Gaban. Judulnya adalah Seperti Tarian Burung Camar—sebuah judul yang memikat.

Satu kutipan menarik dari Farid Gaban: “Tulisan yang hidup adalah senjata penting untuk menaklukkan minat pembaca di tengah persaingan antar media komunikasi yang kian ketat. Mereka dikangeni karena berjiwa, personal, memiliki sudut pandang yang unik dan cerdas, serta penuh vitalitas. Tulisan yang baik tak ubahnya seperti tarian burung camar di sebuah teluk: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simple dan elok.”

Kalau kita baca tulisan-tulisan Fe, bukankah tulisannya meliuk-liuk seperti camar? Ringkas, berjiwa, penuh vitalitas, berisi, personal, dan tentunya ngangeni. Fe pernah blak-blakan soal pengalamannya menjadi wartawan. Dalam suratnya tertanggal 19 September 2005, masa-masa awal Fe menekuni profesi wartawan, Fe bercerita satu rahasia kubikel kerjanya.  “Aku tu paling ga tega jika langsung minggat begitu saja setelah deadline usai. Selalu aku harus bertanya pada redakturku, “Beritanya ada yang kurang? Butuh berapa lagi?” atau, “Ada yang masih harus dilengkapi?”

Fe begitu mencintai profesinya sebagai wartawan. Fe menulis dalam surat bertanggal sama: “Ada 3 alasan kenapa orang gila bekerja. Pertama, karena pekerjaannya menyenangkan. Kedua, karena banyak perusahaan yang membikin acara (meeting) usai jam kantor sehingga harus overtime bekerja. Ketiga, karena orang menunggu menghabiskan jam three in one dan kemacetan. Kalau aku, karena alasan pertama.”

Dan begitu Fe benar-benar mencintai pekerjaan dan hobinya itu, yakni menulis. “Dari tiba di kantor, aku sudah menghadap komputer, menelpon orang-orang, wawancara sana-sini dan riset untuk bahan tulisan. Nggak tanggung-tanggung, aku kadang membikinkan riset –yang sebenernya bukan kewenanganku—untuk penulis. aku pulang jam 10 malam, sampai kos kadang langsung tidur, masih dengan jeans dan kemeja kerja dan kaos kaki. Kalau tidak, ya mandi dan menulis lagi hingga jam 2 atau 3 pagi, dan tidur. Bangun di pagi hari, langsung bekerja kembali.”

Kenangan keempat jatuh di kafe Ocha & Bella, dekat Jalan Sabang, Jakarta. Kamis pagi, udara hangat, langit biru, 26 April 2012. Di kafe ini, kami bertemu dalam  liputan HUT Vespa ke-66. Ia meliput untuk media barunya, Bloomberg. Di Seperti biasa kami juga berbagi gelak.  Di sini, dia sempat berbagi tips bagaimana membuat berita di media online.

Hari itu, Fe masih sosok orang yang sama. Wartawan tangguh. Penampilannya tomboi dan cekatan. Tak patah arang menggali informasi dan mengejar narasumber. Saat wartawan lain, termasuk saya tentunya, lebih merasa cukup mendapat bahan liputan dan bergegas menyantap makan siang, Fe masih sibuk mewawancarai Sergio Mosca, bos Vespa Indonesia. Lantaran ada liputan lain, saya pamitan pada Fe via BBM saat Fe belum kelar juga “menggarap” Sergio.

Usai pertemuan itu, saya tak menjumpainya lagi. Sampai akhirnya, Sukhoi Super Jet 100 dengan nomer penerbangan RA36801 menjemputnya. Membawanya terbang ke langit dan tak pernah kembali. Ia pergi meninggalkan sepotong kalimat singkat di BBM usai dari kafe itu: “Nice to see You!”

Kenangan kelima jatuh di blog lawas Fe bertanggal 2 November 2006. Tulisan itu berjudul “Hari Ini Hari Arwah.” Paragraf terakhir tulisan Fe itu cukup mencuri perhatian saya. Berikut kutipannya:

“ya, saya tahu. saya tahu betul. kehangatan ayah dan ibu tetap saja berbekas. rindu pada kalian tak akan pernah lunas terbayar.  ayah, ibu. sore nanti putri bungsumu berlutut di depan altar. senada dengan merundukkan kepala, saya akan menaruh sejumput harap, agar kalian bahagia disana. semoga yang terbaik datang untuk kalian. semoga Tuhan menjaga kalian dan selalu menghamparkan rumah yang diliputi penuh dengan kebahagiaan. dua putrimu di sini akan merajut malam dengan senandung kecil dan dekapan rindu untuk kalian.  … senandung yang didendangkan setelah episode mei usai.”

Merinding membacanya. Fe sekarang sudah membayar lunas kerinduan pada ayah dan ibunya. Fe pun sudah berada bersama kedua orangtuanya di Kembangarum Surgawi.  Saya dan teman-teman Fe yang menggantikannya merajut malam dengan senandung kecil dan dekapan rindu untuknya. Senandung yang didendangkan setelah episode Mei. Mei, iya, M-e-i, tepatnya 9 Mei, di bulan Maria, ketika Fe menghadap Tuhan.

Kenangan terakhir jatuh pada Mbah Bakri. Fe suka memanggilnya bulik. Saya menemuinya berkat kebaikan Esti, kakak Fe, saat saya bertandang pertama kali ke makam Kembangarum, Natal tahun lalu, persis 25 Desember 2012. Mbah Bakrilah yang menunjukkan jalan menuju makam. Dia tinggal sendirian di sebuah rumah. Suaminya sudah lama meninggal. Perempuan uzur ini sungguh murah hati.

Tanpa prasangka, ia menerima saya di dalam rumahnya. Rumahnya berjarak sekitar 100 meter dari pemakaman atau 150 meter dari Sendang Kumitir—sebuah mata air yang menganak sungai dan suara gemericiknya terdengar di makam Kembangarum. Menguarkan kesejukan.

Segelas teh manis panas. Sekeranjang salak pondoh di meja. Langit sore menghitam jelaga. Kami berceloteh penuh kehangatan. Mbah Bakri berkisah banyak hal tentang Fe. Tentang kehilangan. Tentang pertanda. Tentang kasih sayang. “Saya ini sebelumnya tidak pernah merasakan kehilangan yang amat sangat saat ditinggal Femi,” tutur Mbah Bakri dalam bahasa Jawa.

Soal pertanda, Mbah Bakri punya cerita. Di dekat makam bapak-ibunya, ada “jugangan” atau liang kosong. Setiap tiga bulan sekali Fe nyekar di sana. Setiap kali melihat liang kosong itu, sambung Mbah Bakri, Fe selalu bertanya, “Itu liang di bawah makam ibu untuk apa?” Tiga bulan kemudian pergi ke makam, Fe selalu menanyakan hal yang sama.

“Tidak ada hal yang lain yang ditanyakan Femi selain jugangan itu. Kalau liang itu penuh sampah, Femi kemudian membakarnya. Begitu sampai bulan kesembilan,” kata Mbah Bakrie.

Sampai pada sebuah Selasa, Fe menelepon Mbah Bakri. “Lik, saya belum bisa pulang. Kerjaan saya banyak dan sungguh repot. Kalau tidak seminggu, dua minggu lagi saya akan pulang,” kata Mbah Bakrie mengenang.

Sehari setelah percakapan di ujung telepon itu, Mbah Bakri menerima kabar Fe menghilang bersama pesawat Sukhoi. Seminggu pencarian oleh Tim SAR, Fe belum ditemukan juga. Seminggu kemudian, Fe baru diketemukan, tapi sudah meninggal. “Kok ya pas, kalau tak seminggu, dua minggu lagi Femi pulang, dan dibawa ke Jogja. Tapi, Femi pulang dalam keadaan meninggal,” tutur Mbah Bakri tersedu.

Dan, Fe akhirnya dimakamkan persis di liang yang sering ia tanyakan pada Mbah Bakri itu. Pemakaman di Kembangarum merupakan permintaan Fe sendiri ketika masih hidup. “Besok, kalau saya meninggal, saya ingin dimakamkan di dekat makam bapak ibu,” kata Fe seperti ditirukan Mbah Bakri.

Soal kasih sayang, Mbah Bakri berceloteh tentang keheranannya saat prosesi pemakaman jenazah Fe berlangsung. Dia heran orang yang melayat sungguh banyak. Mengular dan memadati jalan-jalan yang menuju Sendang Kumitir. “Banyak orang yang tanya pada saya, siapa priyayi yang dimakamkan itu, kok yang melayat banyak sekali. Kalau bukan tokoh penting, tidak mungkin sebanyak itu,” kenang Mbah Bakri.

Kenangan Mbah Bakri ini menjadi bukti bahwa Fe dicintai banyak orang. Tak hanya karena kepribadiannya yang supel bergaul dengan siapa saja, tapi mungkin karena ia menulis. Persis kutipan sastrawan legendaris Indonesia Pramoedya Ananta Toer yang menjadi kutipan favoritnya: “Aku menyayangi kamu karena kamu menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin karena abadi sampai jauh…jauh di kemudian hari.”

Mahgrib mengucur deras di antara daun-daun salak. Senja jatuh di pelataran rumah. Saya sudahi obrolan hangat itu. Usai pamitan, Mbah Bakri membungkuskan seplastik kresek salak pondoh. Saya mengambil sepeda motor dan meluncur ke bawah. Pulang. Sampai di rumah, saya membuka bungkusan. Salak-salak itu saya bagikan kepada orang rumah. Dan, sampai sekarang, setiap saya membuka kulit buah itu, saya selalu teringat nama gunung tempat Fe mengembuskan napas terakhirnya.

Fe sudah pergi. Ibarat biji gandum, Fe jatuh ke tanah, mati, dan kemudian berbuah banyak. Terimakasih Fe atas perjumpaan selama ini. Sungguh, kematianmmu membuahkan kehidupan dalam diri saya. Escribir para siempre, menulis untuk selamanya. Tunggu saya di sana.

Apakah di surga ada mesin ketik?

— Bakoel Koffie, Cikini, 2 Maret 2013.

Sekoci

Botol-botol bir. Kebal-kebul asap rokok. Kacang garing. Obrolan ngalor-ngidul. Inilah keramaian bersahaja dari “kebaktian pengusiran setan dingin” yang kami gelar di kedai gaul, Seven-Eleven. Maklum, cuaca berubah dingin ketika malam itu tiba. Baru satu jam, senja menghilang di balik gedung-gedung jangkung kawasan bisnis Sudirman. Langit menghitam seperti jelaga. Hitam seperti nasib  orang-orang yang bernaung di bawah langit ibukota. Khususnya, nasib empat laki-laki tulen yang sedang menggelar “kebaktian” itu. Senin, 10 Desember 2012.

Betul, empat laki-laki. Bapak-bapak semua. Kucel-kucel semua. Berprofesi penulis semua. Jahanam semua. Bernasib…hmm, hampir sama semua. Tapi, kami laki-laki baik-baik semua. Bukan komplotan begundal atau seperti laki-laki bertato mawar yang mayatnya ditemukan di terowongan Halim seperti diberitakan kembali malam ini di portal berita.

Malam beraroma bir dan nikotin itu menyuguhkan segudang cerita. Paling tidak saya sudah membungkusnya beberapa. Pertama, botol-botol bir dan batang-batang rokok menjadi sahabat membual yang baik. Meski untuk yang kedua saya tidak begitu yakin karena saya tidak merokok, belum pernah merokok, dan mungkin ditakdirkan untuk tidak merokok.

Kedua, sensasi menegak bir itu mampu meluruhkan kepenatan yang mengendap di ubun-ubun setelah sekian lama digempur kerjaan maupun deadline. Apalagi kalau salah satu dari kami– lelaki berbadan bongsor dan juga kumendan kami– mengajak angkat botol-botol bir tinggi-tinggi sambil berseru “kering-kering.” Itu artinya, kami harus menegak habis sampai kering bir yang ada di botol atau di gelas masing-masing.

Ketiga, hidup sebagai kuli. Kami berempat sebenarnya adalah kuli. Mirip seperti  kuli-kuli bangunan di seberang kantor kami. Kuli-kuli Ciputra yang sedang membangun gedung jangkung yang ujungnya menggapai “surga.” Angkut-angkut tanah. Menarik beton-beton. Menahan sengatan  matahari. Bermandi peluh. Beradu dengan kebisingan mesin-mesin dan dentingan baja-baja. Dan, tentunya bergumul dengan risiko kerja. Bedanya, kami bergumul dengan kata-kata, deadline, narasumber di lapangan, omelan, dan juga risiko kerja. Inilah kuli tinta — istilah yang populer di era Orde Baru untuk menyebut profesi wartawan.

Keempat, kisah tentang sekoci. Topik ini yang paling mencuri perhatian saya. Topik paling seksi di tengah aneka bualan yang menguar di antara kepulan asap-asap nikotin jahanam dari bibir-bibir hitam jelaga ketiga kawan saya. Sekoci adalah topik paling tidak basa-basi dari obrolan di malam beraroma bir dan nikotin itu.

Sekoci adalah cermin kegelisahan kami. Kegelisahan kami akan masa depan. Anda tentu tahu sekoci bukan? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan sekoci pertama-tama sebagai kapal penolong.  Biasanya terbuat dari kayu, serat, atau logam. Ia memiliki tangki udara yang kedap air untuk menambah daya apung. Dirancang dan dilengkapi dengan peralatan untuk penyelamatan jiwa di laut di dalam keadaan darurat.

Paling gampang membayangkan sekoci adalah dengan melihat televisi saat Jakarta menjadi kolam raksasa akibat banjir. Di tabung ajaib itu, tampak bagaimana aparat melakukan evakuasi korban banjir dengan ratusan sekoci. Kapal kecil, terbuat dari plastik pelampung, digunakan untuk misi penyelamatan.

Lebih dramatis lagi dengan nonton film Life of Pi yang belakangan diputar di sinema-sinema tanah air. Film besutan Ang Lee ini merupakan adaptasi dari karya novelis Yann Martel. Novel ini aku baca sekitar empat tahun silam. Singkat cerita, novel maupun film ini mengisahkan seorang anak laki-laki bernama Pi karena suatu sebab terombang-ambing dalam sebuah sekoci bersama hewan peliharaan ayahnya. Kapal besar bernama Tsimtsum yang mengakut hewan-hewan itu karam karena badai. Usai badai mereda, Pi mendapati dirinya berada dalam sekoci. Tanpa daya, dari sekoci itu, ia menyaksikan kapal besar tenggelam bersama keluarga dan awak kapal. Di sekoci itu, ia tak sendirian. Ia ditemani seekor zebra, orangutan, hyena, dan sang harimau bernama Richard Parker. Hukum alam membuat Pi tinggal berdua bersama macan besar di sekoci yang terombang-ambing di tengah samudra. Itu pun dengan pertaruhan hidup mati karena macan itu bisa sewaktu-waktu menerkam dan memakannya. Sekoci itulah yang menjadi seting utama pesan novel dan film tersebut. Mengesankan sekali bagaimana sekoci itu menjadi pergulatan iman seorang Pi dalam hidup yang diombang-ambingkan ketidakpastian. Di tengah samudra. Tak ada manusia lain. Tak tentu arah. Penuh bahaya.

Kalau ternyata belum baca novel maupun menonton film Life of Pi, Anda bisa menghadirkan kembali detik-detik karamnya kapal Titanic dalam film– saya pastikan Anda menontonnya — yang dibintangi Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet itu. Bayangkan bagaimana orang-orang berebut sekoci untuk menyelamatkan diri dari kapal besar yang tenggelam pada tahun 1912 di samudera Atlantik itu.

Seperti itulah sekoci yang saya maksud. Kami menggelisahkan masa depan. Masa depan yang tidak pasti. Kami mengakui ada kekhawatiran — meski seringkali kami sangkal — tentang masa depan. 

Kami berandai-andai.  Bagaimana kalau tiba-tiba kapal besar — tempat kami bekerja– mendadak karam. Bagaimana kalau kami tidak betah berada di kapal besar itu. Bagaimana kalau kami dipaksa pergi. Bagaimana kalau kapal besar itu tidak sesuai dengan mimpi-mimpi kami. Di tengah aneka kekhawatiran itu, kami membincangkan serius tentang sekoci. Pertanyaan besarnya, bagaimana kami bisa mendapatkan sekoci itu?

“Saya menyiapkan sekoci sedikit demi sedikit. Buat jaga-jaga. Sebagai kepala keluarga, saya harus bisa menjamin asap dapur terus mengepul,” cetus seorang kawan.

“Saya belum punya gambaran tentang sekoci saat ini. Tapi, saya juga memikirkannya. Saya memikirkan masa depan anak dan istri saya,” sambung kawan lain.

“Saya mengambarkan hidup saya saat ini seperti berada di sebuah pulau. Dulu, ada kapal yang membawa saya. Begitu kapal itu mendamparkan saya ke pulau itu, kapal lalu saya bakar. Saya kemudian tak memikirkan lagi kapal lain untuk pergi dari pulau itu. Tapi, belakangan, kegelisahan muncul. Apakah pulau ini merupakan tanah terjanji yang berlimpah susu dan madu? Mungkin saya tak perlu mengingkari kebutuhan akan sekoci. Atau, suatu hari nanti, mungkin akan ada kapal besar yang merapat ke pulau dan membawa saya ke negeri entah,” kata saya dalam kiasan-kiasan.

Sekoci, topik sangat seksi bukan? Bayangkan, empat laki-laki, bapak-bapak semua, kucel-kucel semua, jahanam semua, nasibnya sama semua, sempat-sempatnya curhat habis-habisan alias curcol tentang masa depan? Lagi pula, masa depan ini dipikirkan di antara botol-botol bir, kacang garing, dan puluhan batang rokok yang dihisap tanpa henti seperti kereta api yang melaju tanpa  stasiun untuk beristirahat.

Dalam kegundahan berjamaah itu, kami masih menanti jawaban dari seorang dari kami yang belum berkisah tentang sekoci. Dia memang sering menjadi orang paling terakhir untuk mengerti. Latah untuk menyangkal lebih dahulu setiap pertanyaan dan baru kemudian mengiyakan. Tapi, pemahamannya selalu jernih dan penuh kebijaksanaan. Tak salah bila kami sering memanggilnya “Pak Tuo”– tua dalam arti bijaksana. Dia sedang bungah karena belum lama Tuhan memberinya anak laki-laki melalui rahim istrinya. Dia tentunya — dalam pikiran saya — memiliki mimpi-mimpi tentang masa depan bayi laki-laki itu. Sebab itu, kami menanti-nanti dengan penuh penasaran jawaban tentang apa yang ia pikirkan tentang sekoci.

Pak Tuo melemparkan pandangan ke jalanan yang mulai sepi karena malam mulai melarut. Namun, dalam kilatan bola matanya, dia sebenarnya memandang ke arah nun jauh. Jauh yang bukan di luar sana, tapi jauh ke dalam hatinya. Ia menarik napas — paras kami mengerut tanda makin penasaran — dan dengan pelan ia berujar:

“Bagi saya, biarlah Tuhan sendiri yang akan menyediakan sekoci.”

Sontak saya kaget. Mata saya terasa berbinar-binar. Demikian juga dengan paras kedua teman yang lain. Semringah mendengar jawaban Pak Tuo. Hati saya seperti tersihir gembira. Saya mendadak seperti Archimedes yang berteriak “Eureka!” saat tak sengaja menemukan jawaban. Saya juga bak seorang buta yang mendadak terbuka matanya setelah Yesus menjamah dan berseru dalam bahasa Aram “Efata!”

Sungguh, ungkapan sederhana itu begitu melimpah maknanya. Saya kemudian mengutipnya untuk dipasang di Facebook sebagai quote of the day. Itu adalah bahasa Iman yang benar-benar tulus. Bukan berarti kita pasrah bongkokan alias menerima pasif, tapi benar-benar membiarkan Tuhan berkarya dalam hidup kita, sesederhana dan sekecil apa pun. Bukankah ini yang akhirnya juga dialami oleh Pi dalam sekoci yang terombang-ambing di Samudra Pasifik selama 227 hari dengan seekor harimau Benggala. Inilah yang disebut oleh kotbah-kotbah di hari Minggu sebagai providentia Dei– Penyelenggaraan Tuhan.

Saya jadi diteguhkan kembali dengan kutipan dari penulis Injil. “Lihatlah burung-burung di udara. Mereka tidak menanam, tidak menuai, dan tidak juga mengumpulkan hasil tanamannya di lumbung. Meski begitu, Bapamu yang ada di Surga memelihara mereka. Bukankah kalian jauh lebih berharga daripada burung-burung itu. Perhatikan juga bunga-bunga bakung di padang. Bunga-bunga itu tidak bekerja dan tidak menenun, tapi Raja Salomo yang begitu kaya itu tidak memakai pakaian sebagus bunga-bunga itu. Rumput di padang tumbuh hari ini dan besok dibakar habis. Tapi, Allah mendandani rumput itu begitu bagus. Apalagi hai kalian yang kurang percaya.”

Obrolan malam itu pun tak lama kemudian usai. Paling tidak, obrolan itu membungkuskan segudang pelajaran berharga bagi kami, khususnya saya pribadi. Sekali lagi, kami mengangkat botol tinggi-tinggi, berseru “kering-kering!”, dan kemudian beringsut pulang ke rumah masing-masing. Bekasi, Cinere, dan Kebon Jeruk.

Payahnya, malam itu pun masih menyisakan aroma bir dan nikotin. Sampai pagi!

*Sumber ilustrasi: Flickr