Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya

Hari ini adalah peringatan Santa Maria Diangkat Ke Surga. Terkait Maria, saya senang menceritakan pengalaman ini meski sudah berulang kali. Saya sekeluarga memiliki kaul khusus setiap tahun baru: bertandang ke Katedral Santa Perawan Maria di Bogor.

Kaul itu tidak tanpa alasan. Pada bulan ke-delapan menggandung anak kedua, istri saya merengek minta diajak jalan-jalan ke Bogor. Tujuannya cuma satu, yakni makan sup buntut Ma’emun, sop legendaris di Jalan Sudirman.

Continue reading “Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya”

Dirjo Telah Pergi ke Tempat Lebih Dalam

“Mungkin saya tidak tercatat dalam buku kesuksesan manusia. Tetapi, saya tetaplah Dirjo yang siap menuju tempat yang lebih dalam.”

Itulah kutipan dari sahabat saya, Yohanes Ronny Septoro Wisnu (Dirjo), yang saya baca kembali di buku Follow Me 2.0, kumpulan refleksi anak-anak Merto angkatan 92 yang terbit tahun 2016. Ia menulis dengan judul “Menuju Tempat yang Lebih Dalam.”

Hari ini, pukul 14.35, Dirjo meninggal dunia di rumahnya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sudah lama, ia berjuang melawan sakitnya dan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk cuci darah. Sedikitnya, saya membaca kutipan Dirjo dua kali. Saat mengedit tulisannya dan beberapa saat lalu usai mendengar kabar duka ini.

Continue reading “Dirjo Telah Pergi ke Tempat Lebih Dalam”