Tanda Cinta Maria

“Papa, kenapa tangannya berdarah?”
“Kena kuku saat papa garuk.”
“Makanya potong kuku, Pa.”

Si Kecil berlari ke belakang, membongkar kotak obat, dan membawakan saya plester luka bergambar princess.
“Aku aja, Pa.”

Ia merobek bungkus plester tersebut. Melepas kertas yang menutupnya. Kemudian menempelkan di bagian lengan saya yang berdarah.

Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya

Hari ini adalah peringatan Santa Maria Diangkat Ke Surga. Terkait Maria, saya senang menceritakan pengalaman ini meski sudah berulang kali. Saya sekeluarga memiliki kaul khusus setiap tahun baru: bertandang ke Katedral Santa Perawan Maria di Bogor.

Kaul itu tidak tanpa alasan. Pada bulan ke-delapan menggandung anak kedua, istri saya merengek minta diajak jalan-jalan ke Bogor. Tujuannya cuma satu, yakni makan sup buntut Ma’emun, sop legendaris di Jalan Sudirman.

Continue reading “Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya”