Kacamata Plus

Gejala mata plus ini sudah terasa setahun belakangan. Setiap baca henpon atau buku dalam jarak dekat, saya harus melepas kacamata minus saya. Itu pun sering saya lakukan tanpa sadar.

Saya pertama kali memakai kacamata enam tahun sebelum Soeharto tumbang. Tepatnya pada tahun 1992 saat saya mengenyam tahun pertama pendidikan di sebuah SMA di Magelang.

Sigit Kurniawan

Tanda Cinta Maria

“Papa, kenapa tangannya berdarah?”“Kena kuku saat papa garuk.”“Makanya potong kuku, Pa.” Si Kecil berlari ke belakang, membongkar kotak obat, dan membawakan saya plester luka bergambar princess.“Aku aja, Pa.” Ia merobek bungkus plester tersebut. Melepas kertas yang menutupnya. Kemudian menempelkan di bagian lengan […]

Sigit Kurniawan

Tuhan dalam Sunyi

Dalam sepekan, saya mendengar atau mendapatkan dua cerita yang hampir sama. Cerita pertama saya dapatkan dari sebuah liputan dengan pengelola salah satu agen tunggal pemegang merek otomotif di bilangan Sunter, Jakarta Utara. Di sebuah sudut showroom, Selasa sore, 5 Juni 2012, sang […]

Sigit Kurniawan

Paskah dari Balik Pintu Terkunci

Malam paskah pada tahun ini berbeda dengan malam-malam paskah pada tahun-tahun sebelumnya. Mungkin juga akan berbeda dengan malam-malam paskah pada tahun-tahun sesudahnya. Kami merayakannya dalam rumah dengan pintu-pintu ‘terkunci.’ Maklum saja, paskah tahun ini berlangsung di masa pemberlakukan kebijakan pembatasan sosial (social […]

Sigit Kurniawan