Kebebasan Berinternet, Kebebasan Semu

Saat pembatasan akses media sosial dibuka lagi pemerintah beberapa hari lalu, netizen girang. Postingan di medsos pun mengalir deras. Linimasa kembali gaduh. Hidup terasa ‘normal’ kembali. Netizen merasa mendapatkan kembali kebebasannya.

Demokrasi seakan kembali digenggam. Orang bebas berekspresi — dari memaki pemerintah, memposting menu buka puasa hingga curhat tentang anjing kesayangannya yang mati.

Internet freedom? Foto: The Verge

Benarkah dengan internet, kebebasan itu ada dalam genggaman kita? Dalam tulisan lawas saya berjudul “Internet dan Kebebasan Semu” saya suka dengan analogi ini.

Dulu, pada masa Soeharto memerintah dengan tangan besi, kebebasan berekspresi hampir tak ada. Demokrasi pun semu. Diskusi-diskusi dibatasi. Media dibredel. Intel ada di mana-mana. Pagi hari, orang boleh bersuara lantang menentang pemerintah, tapi malam hari tak ada yang bisa jamin ia kembali ke rumahnya. Orang-orang pun bisik-bisik ngerumpi pemerintah. Pengawasan negara (surveillance). Sedikit tercium makar, orang langsung diciduk.

Soeharto tumbang, tak lama kemudian internet datang, Orang-orang merayakan kebebasan. Benarkah kita bebas? Tidak. Proses pengawasan negara dan memata-matai makin canggih. Soeharto mengontrol warga dengan membatasi ruang gerak.

Di zaman now, negara justru mengontrol warga dengan memberi ruang sebebas-bebasnya bernama internet. Aturan mainnya lugas. Semakin kita banyak bicara di medsos, semakin kita gampang dimata-matai oleh negara. Merayakan kebebasan di medsos tak ubahnya menyerahkan data-data ke kekuasaan. Inilah paradoks yang diusung era milenial.

Era sekarang mengusung sistem pengawasan baru. Istilah kerennya, “Virtual Panopticon.” Istilah ini saya pinjam dari seorang kolumnis David Engberg. Istilah Panopticon sendiri sudah lama saya kenal dari buku pemikir Michael Foucault. Foucault pun menjumput istilah tersebut dari Jeremy Bentham— filsuf Inggris yang menjadi orang yang pertama kali mempopulerkannya.

Istilah “Panopticon” mengacu pada menara pengawas yang biasa dibangun di tengah-tengah penjara. Pada tahun 1791, Jeremy Bentham mengusulkan sebuah inovasi dalam sebuah arsitektur penjara. Bentham mengusulkan agar penjara diatur dalam sel-sel yang melingkar. Dinding sel dibuat sesolid mungkin. Tujuannya, agar antartahanan tidak bisa saling berkomunikasi. Jendela kecil dibuat di masing-masing sel agar tidak gelap gulita.

Di tengah penjara yang melingkar-lingkar itu, dipasang sebuah menara pengawas. Di menara, ada jendela yang dibuat khusus agar tahanan tak melihat siapa yang ada di menara itu. Dan, dari jendela ini, sang pengawas bisa melihat semua gerak-gerik tahanan tanpa ia terlihat. Sang Pengawas pun berlaku seperti Tuhan “Sang Maha Penglihat.”

Panopticon dimaksud Bentham sebagai alat pengontrol perilaku tahanan. Menara itu menjadi sebuah “teror” yang memaksa orang-orang di dalamnya tidak melakukan tindakan menyimpang. Termasuk saat menara itu sama sekali kosong melompong alias tidak ada penjaganya. Tahanan akan membatasi perilakunya. Model pengawasan ini juga sering digunakan untuk rumah-rumah sakit, panti-panti sosial, maupun sekolah.

Dalam bukunya Dicipline and Punish (1979), Foucault menandaskan kontrol sekarang ini bisa dilakukan tanpa harus ada kehadiran fisik.  Kontrol dilakukan terus-menerus tanpa tahu siapa yang sebenarnya sedang mengamat-amati diri kita. Hal ini cocok untuk sekali untuk menggambarkan dunia sekarang—dunia yang sedang bereuforia dengan informasi.

Foucault juga mengatakan penindasan di era informasi tidak lagi didominasi kontrol fisik. Tapi, lebih pada pengetahuan lengkap dan observasi. Pemikiran Foucault ini lahir jauh di masa-masa Internet belum seriuh sekarang. Ide Foucault ini,  menurut David Engberg, menjadi senjata kesayangan kaum Libertarian Siber Posmodern untuk menganalisis situasi masyarakat kontemporer. 

Panopticon-panopticon modern dipasang di mana-mana untuk mengontrol perilaku. Di perusahaan-perusahaan, dipasang kamera-kamera pengintai untuk membatasi aktivitas para buruh dan karyawan. Belum lagi kamera pengintai di toko-toko modern, bank-bank, dan bahkan tempat-tempat ibadah. Termasuk kota Jakarta dengan 6.000 CCTV di pasang di segala sudut pada era Ahok.

Dan, panopticon-panopticon itu juga ada di lanskap Internet. Kebebasan berekspresi dan berkata-kata di Internet merupakan big data gratis yang bisa dilacak oleh sebuah mesin tertentu.  Mesin pencari seperti Google menjadi contoh bagaimana kebebasan berinformasi itu itu tercatat rapi di Internet. Beda halnya, di era dahulu yang lebih didominasi dengan budaya lisan.

Bahkan, The Associated Press pernah merilis sebuah laporan eksklusif tentang para pengintai yang ditugasi oleh agen mata-mata Amerika Serikat CIA. Para pengintai ini mempunyai sebutan khusus, yakni Ninja Librarian atau Pustakawan Ninja.

Ninja-ninja ini bertugas menggali informasi orang-orang dari seluruh dunia tentang aneka perbincangan yang ada di media sosial, dari masalah umum sampai revolusi. Mereka memberikan informasi kepada Gedung Putih tentang segala hal yang ada di Twitter, Facebook, maupun artikel surat kabar.

Bagi saya, internet dan kebebasan itu memiliki relasi paradoksal. Semakin kita bebas berekspresi di internet, semakin kebebasan itu terkontrol dan diawasi.

Secara kultur, ini pun kontradiktif. Evgeny Morozov dalam bukunya “The Net Delusion, How Not to Liberate the World” bilang, open networks, narrow minds. Cultural contradictions of internet freedom.”

Nah, kebebasan yang kita rayakan dengan internet pada dasarnya kebebasan yang terkontrol. Kebebasan semu. Tapi, tak masalah juga. Lha, wong kita senang kok perilaku kita diawasi. Hari ini, banyak mata yang mengawasi seluruh gerak-gerik keseharian kita. Bahkan, detak jantung dan embusan napas pun tidak luput dari sorotan mata-mata virtual ini.

Tak percaya? Pergilah ke luar pada malam hari dan pandanglah jauh ke langit malam. Di antara bintang-bintang itu, ada mesin pintar yang sedang memata-matai gerak-gerik kita.

Bukan demikian?

— Kebon Jeruk, 31 Mei 2019

Membaca Untuk Menulis

Mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Suatu saat Anda begitu bersemangat menguras dompet untuk memboyong buku-buku dari sebuah pameran. Beberapa waktu kemudian, Anda tersadar bahwa hanya sedikit buku-buku itu yang sudah Anda baca. Atau, bahkan, tak ada satu pun dari buku-buku tadi yang sudah Anda baca.

Saya pernah mengalaminya. Ini sebuah tragedi. Saya tak mau mengalaminya lagi. Sebab itu, saya punya satu kaul baru. Cukup menantang. Usai membaca satu buah buku, saya akan bikin catatan. Bisa resensi atau semacam resensi. Dikirim ke media atau cukup diposting di blog pribadi.

Sebagian orang sudah terbiasa melakukan ini. Hernadi Tanzil, misalnya, punya blog khusus untuk resensi buku-buku yang ia baca. Leila S Chudori juga. Namanya hampir selalu muncul di rubrik resensi Tempo — entah resensi buku maupun film. Sejumlah teman saya juga melakoninya. Entah resensi di media atau sekadar coretan kecil poin-poin penting isi buku tersebut dan dibagikan di media sosial.

Kaul ini sudah saya pertimbangkan untung ruginya. Untungnya banyak. Ruginya tidak ada. Pertama, menulis resensi merupakan proses mendokumentasikan dan merawat ingatan akan hal-hal menarik dan penting dari buku yang sudah dibaca. Maklum daya ingat manusia itu terbatas. Ini merupakan perjuangan melawan lupa.

Kedua, hal-hal menarik semisal kutipan dari buku itu sewaktu-waktu bisa dijadikan bahan untuk menulis. Saya tak perlu repot-repot lagi membaca ulang dan mencari halaman letak kutipan itu.

Soal ini, saya ingat J. Sumardianta. Dia penulis dan guru SMA De Britto. Semua tulisan dan bukunya bermula dari kegemarannya membaca buku. Ia melahap buku dengan rakus. Tema apa pun. Sumardianta memang seorang predator buku. Buku-buku itu ia rangkum dengan bahasanya sendiri. Lalu, jadilah esai-esai sejak tahun 1989. Ia pun punya tabungan catatan berupa esai perihal buku yang pernah ia baca (Simply Amazing, 2009).

Ketiga, melatih otot-otot menulis. Daripada bingung mau menulis apa, lebih gampang menulis apa yang baru saja dibaca. Alih-alih sebagai olahraga menulis. Harapannya, menulis bisa lebih luwes dan mengalir.

Keempat, melatih produktivitas. Membaca buku itu kegiatan mulia. Namun, pada taraf tertentu, ini tergolong konsumtif. Sangat konsumtif apabila membeli buku tanpa membacanya sama sekali. Sebaliknya, menulis itu produktif. Artinya, usai membaca buku, orang memproduksi tulisan baru.

Kelima, mempertajam daya refleksi. Membaca itu sama saja mendengarkan. Sembari mendengarkan, saya berimajinasi. Lalu memikirkan dan mengaitkannya dengan kehidupan aktual. Mengalirlah makna dan inspirasi-inspirasi baru.

Keenam, alasan sok sosial. Dengan menuliskan hasil membaca buku berarti saya berbagi kepada orang lain. Inspirasi dan cerita bagus tidak saya dekap sendiri — ora tak kekep dhewe. Menulis, pada taraf ini, adalah berbagi.

Ketujuh, menulis resensi sebagai barang bukti paling kentara bahwa saya sudah membaca buku. Boleh dibilang, resensi menjadi bentuk pertanggungjawaban saya sebagai pembaca.

Demikian kaul baru saya. Mungkin Anda tak sependapat. Mau membaca buku saja, bagi kebanyakan, sudah alhamdulilah. Saya hanya mau menantang diri sendiri. Saya mencari yang lebih. Gampang-gampang susah. Tantangannya tak remeh. Tak gampang menjalankan ibadah membaca dan menulis di era penuh disrupsi oleh kedap-kedip layar henpon.

Betul demikan?

— Kebon Jeruk, 27 Mei 2019


Srimenanti, Hantu Lelaki Tak Bercelana, dan Prabowo

Dua hari saya membaca tuntas Srimenanti. Novel perdana Joko Pinurbo memang tak tebal. Tebalnya cuma 138 halaman. Ceritanya mengalir dengan kalimat-kalimat bersahaja, jenaka, dan indah — khas penyair yang akrab disapa Jokpin itu.

Ada dua tokoh utama dalam novel ini. Satu sang penyair yang kemungkinan besar representasi dari Jokpin sendiri. Satu lagi, Srimenanti, perempuan yang berprofesi sebagai pelukis. Keduanya dinarasikan selang-seling dengan sudut pandang orang pertama.

Novel Srimenanti. Foto: Sigit Kurniawan

Selain dua tokoh utama tadi, ada satu tokoh yang paling mencuri perhatian saya. Ia tokoh figuran dan muncul beberapa kali saja.Tokoh itu bernama eltece, kependekan dari lelaki tanpa celana, sosok hantu laki-laki dengan darah mengental di ujung kelaminnya. Hantu ini suka batuk-batuk di kamar mandi disertai rintihan: “Sakit, Jenderal.”

Eltece muncul pertama kali di halaman lima. Ini membuat saya tegang sekaligus antusias membaca. Jokpin seolah menghadirkan suspense di awal novelnya. Saya pikir Jokpin akan mengeksplorasi eltece. Ternyata saya keliru. Ia bukan karakter utama dan hanya sesekali muncul.

Rintihan “Sakit, Jenderal!” itu yang membuat saya langsung berasumsi pada jenderal penculik. Eltece saya asumsikan dengan aktivis dan korban-korban kekejaman Orba. Mereka digebuk, diculik, disiksa, dan mati. Darah mengental di kelaminnya itu simbol kekejian tak terkira.

Soal jenderal, saya langsung ingat jenderal Orde Baru. Satu, Soeharto, diktaktor keji yang tak sungkan-sungkan melibas lawan-lawan politiknya. Satu lagi, Prabowo, menantu Soeharto dan mantan Danjen Kopassus yang membawahi Tim Mawar, tim khusus untuk menculik para aktivis.

Masih di halaman lima, asumsi saya diperkuat dengan kisah Srimenanti yang teringat bapaknya setelah bertemu eltece. Pada suatu malam, saat pulang dari bermain teater, bapaknya dijemput beberapa orang tak dikenal. Sejak itu, ia tak pernah lagi melihatnya. Ia tak tahu menahu apa yang terjadi. Sampai ia dengar cerita-cerita tentang para aktivis dan seniman yang diculik, disiksa, dan konon dikerat kemaluannya.

Munculnya eltece ini, saya menduga, Jokpin ingin membuat cerita dengan sedikit bumbu masa lalu yang nyambung dengan masa sekarang. Trauma kekejaman Orba masih ada hingga hari ini. Bagian mesin kekejaman Orba itu pun masih eksis. Ia ikut kontestasi pilpres, kalah, dan mengajukan gugatan.

Kehadiran eltece membawa kenangan sekaligus trauma. Trauma yang membuat hari-hari Srimenanti dipenuhi kegelisahan. Ia dibuat menjadi tak konsen melukis.

“Hari-hari ketika kepala saya terteror oleh suara bising dan saya sulit tidur. Saya sering mendengar derap sepatu serdadu dan letusan senapan yang bertubi-tubi. Hati saya tak mampu menghalaunya” (hlm.28).

Sindiran-sindiran kecil pada situasi politik beberapa kali muncul bersamaan munculnya eltece. Subagus, teman sang penyair, pernah diganggu eltece. Pria bertato di lengan dan betis ini tak berdaya ketika eltece menciwel-ciwel pipinya seraya berseru: “Piye kabare? Ngeri zamanku to?” Senyum Soeharto sontak hinggap di benak saya.

Tampak Jokpin juga ingin menyentil situasi di tahun politik ini. Lewat sang penyair, ia bilang hari-hari belakangan gerah dan berisik, penuh dengan caci maki dan intrik. Orang-orang pun sudah kehilangan selera humornya (hlm.61). Politik itu keras, penuh muslihat (hlm.75).

Jokpin juga menyentil soal politik identitas. Srimenanti pernah ditanya oleh wartawan, “Lukisanmu termasuk aliran apa?” Ia malas menjawab. Srimenanti bilang, hari-hari ini kegemaran bermain label kembali merajalela dan banyak orang lupa atau tak menyadari bahayanya. Situasi kian runyam jika perang label sudah membawa-bawa agama (hlm. 77).

Dan, politik telah mencerai-beraikan persahabatan. Srimenanti bilang, apa yang dipersatukan oleh cinta ternyata bisa diceraikan oleh politik.

Hantu lelaki tak bercelana itu tak hanya usil pada Srimenanti, sang penyair, dan teman-temannya. Eltece juga menghantui masyarakat di mana-mana dengan kelamin yang luka dan berdarah sembari merintih, sakit Jenderal, sakit Jenderal.

Demikian kisah trauma yang saya temukan dalam novel ini. Namun, saya harus jujur untuk satu hal ini. Srimenanti masih kurang greget. Plotnya datar-datar saja. Tak seperti novel-novel pada umumnya, saya tak menemukan konflik, sosok antagonis, klimaks, hingga resolusi yang kentara. Narasi mengalir datar. Untung ada eltece.

Kisah novel ini tak ubahnya kisah persahabatan Jokpin. Meski fiksi, muncul nama-nama yang ada di dunia nyata. Sebut saja Butet, Djaduk, Aan Mansur, dan Beni Satryo, misalnya. Dan, tentu saja, kisah perjumpaan sang penyair dengan Sapardi Djoko Damono — sosok idolanya. Puisi Sapardi “Pada Suatu Pagi Hari”, tulis Jokpin di pengantarnya, menjadi inspirasi lahirnya novel ini.

Itulah Srimenanti. Di balik kalimat-kalimat dan potongan-potongan puisi indah Jokpin di novel ini, ada narasi-narasi kecil tapi getir. Kegetiran akibat kekejaman masa lalu. Sampai hari ini, kegetiran itu belum terselesaikan.

Trauma itu terus muncul dalam bentuk hantu lelaki tanpa celana. Eltece akan terus menghantui kapan pun sampai kekejaman masa lalu itu diselesaikan — oleh siapa pun presidennya.

Sampai kapan? Mungkin inilah yang mendorong Jokpin memberi judul novel ini Srimenanti, Sri yang menanti, menanti sampai kapan? Mungkin.

— Kebon Jeruk, 24 Mei 2019

Kata adalah Senjata

Pada tahun 2015, saya pernah diundang mengajar teknik menulis. Pesertanya ada delapan orang. Mereka berasal dari Papua. Tepatnya dari Wasior, Wamena, Sorong, Fak-Fak, dan Jayapura.

Panitia minta saya mengajari cara menulis sederhana. Tujuannya, mereka mampu mengangkat dan melaporkan isu-isu di Papua, dari kekerasan, bencana alam, KDRT, investasi liar, hingga HIV AIDS.

Subcomandante Marcos. Sumber: DevianArt

Satu lagi pesan panitia, biarkan mereka mengisahkan isu-isu yang mereka lihat sendiri sehari-hari. Kelas ini berlangsung empat jam. Usai mendapat teori, mereka praktik menulis.

Ada yang cukup maju dalam penulisan. Isu-isu yang mereka angkat sangat memikat. Namun, ada juga yang masih perlu ekstra keras menerapkan teknik dasar menulis agar tulisan itu bunyi alias bisa dibaca. Berikut saya salin apa adanya tulisan dua partisipan.

“Di kampung lusiperi kampung yang saya dilahirkan kampung ini diatas ketinggian 200, kaki diatas permukaan laut awal nya, masih satu, desa dengan gewirpe namun dalam perjalan yang panjang kami sendiri atau kami dimekarkan kampung ini…”

Seorang lagi menuliskan seperti ini. “Saya melihat pohon di hutan bertumbuh, dengan berakar sendiri dari tanah, hutan, dan berbagai jenis pohon dan hutan di sekitarnya, tidak terpisa karena satu alam yang sama bertumbu pohon dan secara berganti tumbuh dari hutan yang sama, artinya yang lain atau juga…”

Saya sedikit kaget. Tulisan itu tak berbunyi. Lalu saya teringat dua sosok. Satu orang Mexico bernama Subcomandante Marcos. Satu lagi orang Cinere bernama Hendra. Marcos adalah seorang gerilyawan Zapatista pemilik kutipan legendaris, kata adalah senjata.

Hendra, bukan gerilyawan, adalah kawan sekantor. Saat sama-sama memberi kelas penulisan bagi reporter, ia membuka materinya dengan pesan: menulis untuk dibaca.

Kata-kata, bagi Marcos, adalah senjata untuk melawan dan sarana emansipasi. Namun, bila kata-kata itu seperti yang dituliskan dua teman dari kelas penulisan tadi, itu ibarat senjata, tapi senjata tumpul.

Saya makin ngeh kenapa banyak rezim korup di belahan bumi manapun tidak ingin rakyatnya pintar. Paling tidak membiarkan mereka jauh dari kemampuan baca tulis alias buta huruf.

Buku Fernandi Baez. Foto: Sigit Kurniawan

Cara paling bar-bar rezim itu adalah menghancurkan buku-buku. Fernando Baez merekam bibliocaust — penghancuran buku dalam bukunya Historia universal de la destruccion de libros (2004). Saya membaca edisi bahasa Indonesia berjudul “Penghancuran Buku, dari Masa ke Masa” (Marjin Kiri, 2013). Buku-buku dibakar karena buku menyimpan ingatan. Buku membuat orang sadar. Buku membuat orang kritis dan melawan.

Masih ingat tho, kasus tentara Indonesia merampas buku-buku berbau kiri atau komunis dari sebuah toko buku. Masih ingat juga tho diskusi buku kiri yang batal karena digerebek massa.

Menghancurkan buku, kata Fernando Baez, sama saja menghancurkan ingatan. Holokaus di Jerman diawali dengan penghancuran buku-buku. Penghancuran buku sepanjang tahun 1933, kata Baez, adalah awal dari pembantaian manusia pada tahun-tahun berikutnya. Tumpukan buku-buku yang dibakar konon menginspirasi dibuatnya krematorium kamp konsentrasi.

Saya percaya menulis dan membaca itu berkekuatan membebaskan. Saya mendukung teman-teman Papua untuk merdeka. Merdeka untuk apa? Merdeka untuk menuliskan sendiri kisah-kisah mereka masing-masing. Tanpa perlu didikte oleh pihak lain. Termasuk didikte dengan moncong senapan milik tentara.

Lalu, bagaimana bisa bersemangat membebaskan kalau tulisannya tidak bunyi. Pesan kawan saya Hendra tempo hari makin relevan: menulis untuk dibaca.

Sayangnya, ketakbunyian tulisan itu juga menjangkiti orang-orang pintar selevel sarjana, bahkan profesor. Sayangnya lagi, kata-kata di era pasca kebenaran seperti sekarang ini, dipakai untuk melukai, membully, dan menutupi kebenaran.

Tulisan ini saya tutup dengan kutipan Ray Bradbury. “Tak usah membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa. Buat saja orang-orangnya berhenti membaca buku.” Demikian ujar penulis Amerika ini.

Lalu, bagaimana agar mereka berhenti membaca buku? Paul Heru Wibowo, sahabat saya yang baru menerbitkan buku barunya “Atas Nama Dendam” menyahut: cukup beri mereka hape saja.

Betul demikian?

— Kebon Jeruk, 18 Mei 2019