Dirjo Pergi ke Tempat Lebih Dalam

“Mungkin saya tidak tercatat dalam buku kesuksesan manusia. Tetapi, saya tetaplah Dirjo yang siap menuju tempat yang lebih dalam.”

ITULAH kutipan dari sahabat saya, Yohanes Ronny Septoro Wisnu (Dirjo), yang saya baca kembali di buku Follow Me 2.0, kumpulan refleksi mantan anak-anak Seminari Mertoyudan angkatan 92 yang terbit tahun 2016. Ia menulis dengan judul “Menuju Tempat yang Lebih Dalam.”

Continue reading “Dirjo Pergi ke Tempat Lebih Dalam”

Sekoci

Life of Pi. Sumber ilustrasi: filmsufi.com

BOTOL-BOTOL bir. Kebal-kebul asap rokok. Kacang garing. Obrolan ngalor-ngidul. Inilah keramaian bersahaja dari “kebaktian pengusiran setan dingin” yang kami gelar di kedai gaul, Seven-Eleven. Maklum, cuaca berubah dingin ketika malam itu tiba. Baru satu jam, senja menghilang di balik gedung-gedung jangkung kawasan bisnis Sudirman.

Langit menghitam seperti jelaga. Hitam seperti nasib  orang-orang yang bernaung di bawah langit ibukota. Khususnya, nasib empat laki-laki tulen yang sedang menggelar “kebaktian” itu. Senin, 10 Desember 2012.

Continue reading “Sekoci”

Dunia Helena

“Selamat jalan Helena Dewi Justicia. Perjuangan dan tulisanmu abadi.”

KUTIPAN di atas ini mencuri perhatian saya. Petang itu, saat saya mengikuti misa requiem untuk Helena Dewi Justicia, saya akrab memanggilnya Helen, di rumah duka Rumah Sakit Harapan Kita, Tomang, Jakarta, Senin, 6 Juni yang lalu. Kutipan itu tersemat di karangan bunga dari Yayasan Pantau, tempat ia pernah belajar jurnalisme sastrawi yang diampu oleh Andreas Harsono.

Saya seratus persen setuju dengan kutipan itu. Helen merupakan seorang penulis tangguh. Tulisan-tulisannya bernas, reflektif, jernih, dan kaya spiritualitas. Bahkan, saat berjibaku dengan kanker yang menyerang otaknya, ia masih setia menulis. Catatan-catatan kecilnya mengalir saban hari di Facebook. Entah tengah malam atau dini hari.

Continue reading “Dunia Helena”