
HATI saya terangkat saban menemukan kisah ini. Sekalipun itu muncul berulangkali di linimasa. Bom atom dijatuhkan di kota Hiroshima, 6 Agustus 1945. Hiroshima hancur lebur dan terbakar. Menewaskan 150.000 jiwa di pagi hari.
Di tengah gelap gulita langit Hiroshima akibat bom, ada satu nyala harapan: sebuah rumah Jesuit tetap berdiri di tengah bangunan-bangunan yang rata dengan tanah. Rumah ini terletak delapan blok atau sekitar satu kilometer dari titik jatuhnya bom. Rumah itu selamat, demikian pula delapan misionaris Jesuit asal Jerman yang setiap hari dengan setia mendoakan rosario di rumah itu. Satu nama cukup saya kenal melalui berbagai bacaan: Romo Pedro Arrupe SJ, mantan superior jenderal SJ dan pendiri Jesuit Refugee Service (JRS).
Continue reading “Jesuit, Rosario, dan Bom Hiroshima”