Kopi, Buku, dan Film

Month: May 2022

Ruang Perjumpaan Gereja Katolik dan Komunitas LGBT

Komunitas LGBT masih mengalami penolakan dan diskriminasi di mana-mana, termasuk di gereja sendiri. Ruang perjumpaan bagi Gereja Katolik dan Komunitas LGBT dibutuhkan. Gereja dipanggil untuk bertindak seperti Yesus.

Belum lama ini, dunia maya diramaikan oleh netizen yang mengecam podcast Deddy Corbuzier karena ia menghadirkan pasangan LGBT dalam salah satu episodenya. Usai menuai kecaman dan boikot, pemilik podcast Close the Door itu buru-buru menghapus tayangan tersebut. Peristiwa ini menandakan bahwa hingga hari ini orang-orang LGBT masih mengalami penolakan dan diskriminasi.

Diskriminasi dan penolakan itu juga banyak terjadi di lingkungan Gereja Katolik. Mereka, para LGBT, menjadi kelompok paling terpinggirkan. Keprihatinan inilah yang menjadi salah satu hal yang menggerakkan James Martin, SJ, seorang imam Jesuit dan editor umum majalah America: The Jesuit Review, menulis buku Building a Bridge: How the Catholic Church and the LGBT Community Can Enter into a Relationship of Respect, Compassion, and Sensitivity (2018).

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Ledalero dan komunitas transpuan Fajar Sikka dengan judul Membangun Ruang Perjumpaan Bagi Gereja Katolik dan Komunitas LGBT.

Jurnalisme Musik dan Tamparan pada Peliputan Musik di Indonesia

Penulisan musik sering jatuh pada kisah-kisah gelap, skandal, gosip, kontroversi, dan konflik para musisi dan selebriti. Musik tak diulas sebagai produk seni budaya. Kapasitas jurnalis musik dipertanyakan.

Menulis musik itu menulis tentang manusia. Demikian ujar Taufiq Rahman dalam prakata di buku yang kemudian ditegaskan kembali oleh Idhar Resmadi, penulis buku ini, dalam kata pengantarnya. Pesan pendek ini sangat kuat untuk mewakili tema jurnalisme musik yang menjadi bahasan utama Idhar dalam bukunya setebal 198 halaman tersebut. Jurnalisme dan musik bermuara pada hal yang sama, yakni manusia, ruang, dan waktu.

Yang menarik dari buku ini, selain menjelaskan tentang apa itu jurnalisme musik dan sejarahnya, dalam banyak bahasan, Idhar melakukan koreksi maupun kritik pada media-media musik selama ini. Menurutnya, media musik kita memang butuh tamparan, butuh keberanian untuk mendobrak bahwa banyak hal yang bisa ditulis soal musik. Selain itu, Idhar menyematkan beberapa sentuhan filsafat dan sosiologi, sehingga buku ini tak sekadar informatif, tetapi juga mengantar pembaca menemukan kedalaman di balik fenomena musik.

Laku Investigasi Seorang Kartunis

Hobi membaca buku, menyambangi perpustakaan, mengkliping koran menjadi modal awal Robert Graysmith, Sang Kartunis, mencari dalang pembunuhan berantai di San Francisco.

Robert Graysmith (kanan). Sumber ilustrasi: IMDB

Bagi seorang wartawan seperti saya, menonton film-film bertema jurnalisme merupakan sebuah kemewahan. Apalagi temanya spesifik seputar jurnalisme investigasi, seperti All The President’s Men dan Veronica Guerin yang merupakan dua film favorit saya. Setelah sekian lama tak menonton film serupa, baru-baru ini, saya menemukan film bagus di Netflix berjudul Zodiac.

Film garapan David Fincher tahun 2007 ini mengisahkan misteri pembunuhan berantai di San Francisco, Amerika Serikat, pada periode tahun 1960 hingga tahun 1970-an. Kerennya, investigasi atas serial pembunuhan tersebut dilakukan secara tekun oleh seorang kartunis kutu buku dan keras kepala bernama Robert Graysmith. Ia melakukannya di saat wartawan maupun kepolisian kesulitan dan angkat tangan pada kasus yang melibatkan sosok pembunuh yang menamai dirinya dengan inisial Zodiac tersebut.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén