Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya

Hari ini adalah peringatan Santa Maria Diangkat Ke Surga. Terkait Maria, saya senang menceritakan pengalaman ini meski sudah berulang kali. Saya sekeluarga memiliki kaul khusus setiap tahun baru: bertandang ke Katedral Santa Perawan Maria di Bogor.

Kaul itu tidak tanpa alasan. Pada bulan ke-delapan menggandung anak kedua, istri saya merengek minta diajak jalan-jalan ke Bogor. Tujuannya cuma satu, yakni makan sup buntut Ma’emun, sop legendaris di Jalan Sudirman.

Continue reading “Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya”

Menolak Tindik Anting

“Lho, Tera belum pakai anting, tho?”
“Belum. Nanti kalau dia sudah gede.”
“Kalau nunggu gede, nanti sakit bila telinganya ditindik.”
“Iya, nanti nunggu dia gede.”

Itulah sepotong percakapan pada pertengahan Desember lalu. Persisnya di emperan belakang rumah Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Sejak kelahiran Lentera pada 1 Januari 2016, saya dan istri bersepakat untuk tidak menindik telinganya dan kemudian memasang anting-anting.

Ada beberapa alasan yang saya pegang. Pertama, menindik telinga tanpa kesepakatan dengan yang ditindik adalah sebuah bentuk vulgar kekerasan. Sebuah laku yang dipaksakan oleh orang dewasa untuk melukai tubuh anaknya secara permanen.

Kedua, menindik telinga dan memasang anting tidak ada kaitannya dengan kesehatan. Demikian juga tak berkorelasi langsung dengan meningkatnya martabat manusia atau bahkan menjadi penentu ia masuk surga atau tidak. Tindik dan anting sekadar aksesori.

Biarlah ketika dewasa kelak, dengan segenap kesadaran dan kemerdekaannya, Lentera memilih apakah mau melubangi daun telinganya atau tidak dan mengenakan anting-anting atau tidak.

Saya menolak tindik telinga balita dengan alasan apa pun. Termasuk alasan budaya atau agama.

Kebon Jeruk, 12 Januari 2020

Membaca Untuk Menulis

Mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Suatu saat Anda begitu bersemangat menguras dompet untuk memboyong buku-buku dari sebuah pameran. Beberapa waktu kemudian, Anda tersadar bahwa hanya sedikit buku-buku itu yang sudah Anda baca. Atau, bahkan, tak ada satu pun dari buku-buku tadi yang sudah Anda baca.

Saya pernah mengalaminya. Ini sebuah tragedi. Saya tak mau mengalaminya lagi. Sebab itu, saya punya satu kaul baru. Cukup menantang. Usai membaca satu buah buku, saya akan bikin catatan. Bisa resensi atau semacam resensi. Dikirim ke media atau cukup diposting di blog pribadi.

Sebagian orang sudah terbiasa melakukan ini. Hernadi Tanzil, misalnya, punya blog khusus untuk resensi buku-buku yang ia baca. Leila S Chudori juga. Namanya hampir selalu muncul di rubrik resensi Tempo — entah resensi buku maupun film. Sejumlah teman saya juga melakoninya. Entah resensi di media atau sekadar coretan kecil poin-poin penting isi buku tersebut dan dibagikan di media sosial.

Kaul ini sudah saya pertimbangkan untung ruginya. Untungnya banyak. Ruginya tidak ada. Pertama, menulis resensi merupakan proses mendokumentasikan dan merawat ingatan akan hal-hal menarik dan penting dari buku yang sudah dibaca. Maklum daya ingat manusia itu terbatas. Ini merupakan perjuangan melawan lupa.

Kedua, hal-hal menarik semisal kutipan dari buku itu sewaktu-waktu bisa dijadikan bahan untuk menulis. Saya tak perlu repot-repot lagi membaca ulang dan mencari halaman letak kutipan itu.

Soal ini, saya ingat J. Sumardianta. Dia penulis dan guru SMA De Britto. Semua tulisan dan bukunya bermula dari kegemarannya membaca buku. Ia melahap buku dengan rakus. Tema apa pun. Sumardianta memang seorang predator buku. Buku-buku itu ia rangkum dengan bahasanya sendiri. Lalu, jadilah esai-esai sejak tahun 1989. Ia pun punya tabungan catatan berupa esai perihal buku yang pernah ia baca (Simply Amazing, 2009).

Ketiga, melatih otot-otot menulis. Daripada bingung mau menulis apa, lebih gampang menulis apa yang baru saja dibaca. Alih-alih sebagai olahraga menulis. Harapannya, menulis bisa lebih luwes dan mengalir.

Keempat, melatih produktivitas. Membaca buku itu kegiatan mulia. Namun, pada taraf tertentu, ini tergolong konsumtif. Sangat konsumtif apabila membeli buku tanpa membacanya sama sekali. Sebaliknya, menulis itu produktif. Artinya, usai membaca buku, orang memproduksi tulisan baru.

Kelima, mempertajam daya refleksi. Membaca itu sama saja mendengarkan. Sembari mendengarkan, saya berimajinasi. Lalu memikirkan dan mengaitkannya dengan kehidupan aktual. Mengalirlah makna dan inspirasi-inspirasi baru.

Keenam, alasan sok sosial. Dengan menuliskan hasil membaca buku berarti saya berbagi kepada orang lain. Inspirasi dan cerita bagus tidak saya dekap sendiri — ora tak kekep dhewe. Menulis, pada taraf ini, adalah berbagi.

Ketujuh, menulis resensi sebagai barang bukti paling kentara bahwa saya sudah membaca buku. Boleh dibilang, resensi menjadi bentuk pertanggungjawaban saya sebagai pembaca.

Demikian kaul baru saya. Mungkin Anda tak sependapat. Mau membaca buku saja, bagi kebanyakan, sudah alhamdulilah. Saya hanya mau menantang diri sendiri. Saya mencari yang lebih. Gampang-gampang susah. Tantangannya tak remeh. Tak gampang menjalankan ibadah membaca dan menulis di era penuh disrupsi oleh kedap-kedip layar henpon.

Betul demikan?

— Kebon Jeruk, 27 Mei 2019