Jurnalisme Sol Sepatu

Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia ke-55 bertema “Datang dan Lihatlah” sangat menarik. Selain menarik, pesan tersebut juga menjadi pengingat bagi wartawan seperti saya. Datang dan melihat sendiri peristiwa menjadi pesan utama. Ini bukan barang baru di dunia jurnalisme. Pesan Paus ini tak ubahnya seperti lonceng pengingat bahwa esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.

Ada satu kutipan menohok di pesan yang dirilis pada 21 Januari 2021 saat Vigili Santo Frans de Sales ini. Paus asal Argentina ini menulis, krisis industri penerbitan berisiko mengarahkan pemberitaan yang hanya dirancang di ruang redaksi, di depan komputer, di pusat-pusat berita, di jejaring sosial, tanpa pernah keluar ke jalan. Tanpa “menghabiskan sol sepatu” (turun ke jalan), tanpa ketemu orang untuk mencari cerita atau memverifikasi situasi tertentu dengan mata kepala sendiri.

Continue reading “Jurnalisme Sol Sepatu”

Hidup Batin Bercermin Pada Pengalaman Wisrawa-Sukesi

Ternyata saya sudah menulis sejak SMA. Saya heran bisa menulis seserius ini meski keseleo sana-sini. Tulisan ini pernah dimuat di majalah AQUILA, majalah terbitan SMA Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan pada tahun 1995. Saya mendapatkan kembali dari Dono Sunardi, teman seangkatan di SMA tersebut, yang berbaik hati memindainya dalam bentuk PDF dan mengirimkannya ke saya. Atas nama pendokumentasian, berikut salinannya:

Continue reading “Hidup Batin Bercermin Pada Pengalaman Wisrawa-Sukesi”

Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya

Hari ini adalah peringatan Santa Maria Diangkat Ke Surga. Terkait Maria, saya senang menceritakan pengalaman ini meski sudah berulang kali. Saya sekeluarga memiliki kaul khusus setiap tahun baru: bertandang ke Katedral Santa Perawan Maria di Bogor.

Kaul itu tidak tanpa alasan. Pada bulan ke-delapan menggandung anak kedua, istri saya merengek minta diajak jalan-jalan ke Bogor. Tujuannya cuma satu, yakni makan sup buntut Ma’emun, sop legendaris di Jalan Sudirman.

Continue reading “Maria, Sop Buntut, dan Gereja yang Durhaka Pada Ibunya”

Menolak Tindik Anting

“Lho, Tera belum pakai anting, tho?”
“Belum. Nanti kalau dia sudah gede.”
“Kalau nunggu gede, nanti sakit bila telinganya ditindik.”
“Iya, nanti nunggu dia gede.”

Itulah sepotong percakapan pada pertengahan Desember lalu. Persisnya di emperan belakang rumah Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Sejak kelahiran Lentera pada 1 Januari 2016, saya dan istri bersepakat untuk tidak menindik telinganya dan kemudian memasang anting-anting.

Ada beberapa alasan yang saya pegang. Pertama, menindik telinga tanpa kesepakatan dengan yang ditindik adalah sebuah bentuk vulgar kekerasan. Sebuah laku yang dipaksakan oleh orang dewasa untuk melukai tubuh anaknya secara permanen.

Kedua, menindik telinga dan memasang anting tidak ada kaitannya dengan kesehatan. Demikian juga tak berkorelasi langsung dengan meningkatnya martabat manusia atau bahkan menjadi penentu ia masuk surga atau tidak. Tindik dan anting sekadar aksesori.

Biarlah ketika dewasa kelak, dengan segenap kesadaran dan kemerdekaannya, Lentera memilih apakah mau melubangi daun telinganya atau tidak dan mengenakan anting-anting atau tidak.

Saya menolak tindik telinga balita dengan alasan apa pun. Termasuk alasan budaya atau agama.

Kebon Jeruk, 12 Januari 2020