Jesuit, Rosario, dan Bom Hiroshima

Tampak para misionaris Jesuit berjalan di tengah reruntuhan bangunan. Sumber: National Catholic Register.

HATI saya terangkat saban menemukan kisah ini. Sekalipun itu muncul berulangkali di linimasa. Bom atom dijatuhkan di kota Hiroshima, 6 Agustus 1945. Hiroshima hancur lebur dan terbakar. Menewaskan 150.000 jiwa di pagi hari.

Di tengah gelap gulita langit Hiroshima akibat bom, ada satu nyala harapan: sebuah rumah Jesuit tetap berdiri di tengah bangunan-bangunan yang rata dengan tanah. Rumah ini terletak delapan blok atau sekitar satu kilometer dari titik jatuhnya bom. Rumah itu selamat, demikian pula delapan misionaris Jesuit asal Jerman yang setiap hari dengan setia mendoakan rosario di rumah itu. Satu nama cukup saya kenal melalui berbagai bacaan: Romo Pedro Arrupe SJ, mantan superior jenderal SJ dan pendiri Jesuit Refugee Service (JRS).

Continue reading “Jesuit, Rosario, dan Bom Hiroshima”

Tuhan Sudah Menunggumu di Kota

Sumber ilustrasi: Liputan6.com

PASTI semua pernah mengalami perasaan berat ketika libur panjang usai dan kita harus kembali bekerja. Libur lebaran tahun ini contohnya. Saat mudik dari kota ke desa, orang-orang sangat antusias dan riang gembira menyambutnya. Ketemu orang tua, menjenguk kerabat, kulineran, plesiran, reuni, hingga pamer status sosial.

Sayangnya, banyak pemudik yang buyar antusiasmenya saat harus balik ke kota. Bahkan, liburan panjang itu mendadak terasa singkat. Capek fisik? iya. Capek psikis? tentu. Tak hanya itu, kegembiraan mudik pelan-pelan raib dan muncul was-was saat kembali ke kota. Kembali ke kota berarti kembali ke hidup yang penuh perjuangan, gesekan, peluh, kesumpekan, keruwetan, ketidakpastian, ancaman PHK, dan momok hidup lainnya.

Continue reading “Tuhan Sudah Menunggumu di Kota”

Kalender Dinding Bergambar Paus Fransiskus

Foto Paus Fransiskus di kalender dinding yang sudah saya sobek karena bulannya sudah berlalu, saya lipat, dan senderkan di rak buku di rumah saya.

DI KOLOM chatting webinar Selasa malam bersama Romo Nano SJ pada 17 Maret 2026, saya menulis pendek tentang pengalaman menemukan tempat tipis. Tempat tipis yang dimaksud adalah tempat di mana surga dan bumi bertemu. Romo Nano bilang, sebutan ini mengacu juga pada tempat kehadiran Yang Kudus secara unik. Sepemahaman saya, ini merujuk tempat di mana kita menemukan Allah.

Saya cerita kurang lebih begini. Tempat tipis yang belakangan cukup berbicara adalah kalender dinding bergambar mendiang Paus Fransiskus. Kalender ini kami beli di toko paroki. Setiap bulan di kalender itu termuat foto-foto paus yang berbeda. Salah satunya, Paus Fransiskus.

Continue reading “Kalender Dinding Bergambar Paus Fransiskus”

Mei dan Maria-Maria Dolorosa

Sumber: artway.eu

TIGA perempuan ini menyandang nama Maria. Tiga-tiganya memiliki seorang anak laki-laki. Ketiga anak lelaki itu mati dibunuh dalam tragedi kemanusiaan. Satu mati di Golgota. Satu mati di Klender. Satu lagi mati di Semanggi. Mereka adalah Maria-maria berduka cita. Saya menyebutnya Maria-maria Dolorosa.

Mei, bagi umat Katolik, adalah bulan Maria. Devosi pada Bunda Tuhan ini biasanya diisi dengan berdoa rosario atau ziarah ke gua Maria. Bagi bangsa Indonesia, Mei adalah bulan kelam. Dua puluh satu tahun lalu, pada bulan ini, Indonesia terbakar oleh kerusuhan berbau rasial. Mahasiswa-mahasiswa ditembaki. Toko-toko dan rumah-rumah dijarah dan dibakar. Ribuan orang mati terpanggang. Perempuan-perempuan Tionghoa diperkosa. Indonesia kelam sekaligus kejam.

Continue reading “Mei dan Maria-Maria Dolorosa”

Lima Roti Dua Ikan

Sumber: churchofjesuschrist.org

KEEMPAT kalinya, saya menjadi project manager event flagship kantor yang mengusung teknologi untuk bisnis. Keempat kalinya pula event ini berlangsung lancar dan ramai.

Selalu ada pengalaman rohani di sini. Awalnya, saya prediksi event ini, khususnya saat opening plenary di Starium, studio terbesar CGV Grand Indonesia, akan lebih sepi. Biasanya, tingkat kehadiran 80% dari total pembeli tiket. Saya sempat meminta teman panitia memasang cue line agar partisipan duduk memenuhi bangku paling depan karena saya yakin ruangan tidak bakal penuh.

Continue reading “Lima Roti Dua Ikan”

Maria Tanpa Kaki

MALAM telah larut. Beberapa waktu lagi, malam akan runtuh, diganti pagi. Hawa dingin menyapu pelan seluruh tubuh. Sesekali terdengar gonggongan anjing kampung saat perempuan tua itu duduk tersimpuh di atas tikar yang sudah usang dan bolong di sana-sini. Wajahnya yang mulai keriput tampil samar-samar karena pendaran cahaya lilin yang sudah tidak utuh lagi lantaran dimakan api.

Sementara itu, tangannya yang sudah tidak sekuat dulu, memilin pelan satu persatu butir rosario. Rosario yang terbuat dari kayu cendana dan menebar bau wangi itu digenggamnya erat. Seolah tidak ingin ia lepaskan demi sebuah pengharapan yang tiada habis.

Continue reading “Maria Tanpa Kaki”

Sekoci

Life of Pi. Sumber ilustrasi: filmsufi.com

BOTOL-BOTOL bir. Kebal-kebul asap rokok. Kacang garing. Obrolan ngalor-ngidul. Inilah keramaian bersahaja dari “kebaktian pengusiran setan dingin” yang kami gelar di kedai gaul, Seven-Eleven. Maklum, cuaca berubah dingin ketika malam itu tiba. Baru satu jam, senja menghilang di balik gedung-gedung jangkung kawasan bisnis Sudirman.

Langit menghitam seperti jelaga. Hitam seperti nasib  orang-orang yang bernaung di bawah langit ibukota. Khususnya, nasib empat laki-laki tulen yang sedang menggelar “kebaktian” itu. Senin, 10 Desember 2012.

Continue reading “Sekoci”

Malaikat-Malaikat Berdebu

Sumber ilustrasi: Unplash.com

KISAH ini terjadi pada tahun 1996. Berawal di sebuah bibir dermaga di Pantai Kartini, Jawa Tengah. Siang itu cukup gerah. Angin pantai menerpa dan menggulung ombak. Saya dan seorang sahabat berdiri tegap menantang angin. Lalu perlahan saling menjauh dan memunggungi seperti dua koboi yang bersiap adu tembak.

Terdengar bunyi “sreet” mengiringi resluiting yang kubuka. Lalu, ‘pistol’ masing-masing dikeluarkan dari sarungnya. Dan “Serrrr!” bunyi ‘tembakan’ air amoniak berwarna putih kekuningan ke permukaan air pantai yang sudah membuih. Kami mengencingi pantai!

Continue reading “Malaikat-Malaikat Berdebu”

Internet dan Kebebasan Semu

Saat pembatasan akses media sosial dibuka lagi pemerintah beberapa hari lalu, netizen girang. Postingan di medsos pun mengalir deras. Linimasa kembali gaduh. Hidup terasa ‘normal’ kembali. Netizen merasa mendapatkan kembali kebebasannya.

Demokrasi seakan kembali digenggam. Orang bebas berekspresi — dari memaki pemerintah, memposting menu buka puasa hingga curhat tentang anjing kesayangannya yang mati.

Continue reading “Internet dan Kebebasan Semu”