Membaca Untuk Menulis

Menulis resensi merupakan proses mendokumentasikan dan merawat ingatan akan hal-hal menarik dan penting dari buku yang sudah dibaca. Maklum daya ingat manusia itu terbatas. Ini merupakan perjuangan melawan lupa.

Mei dan Maria-maria Dolorosa

Tiga perempuan ini menyandang nama Maria. Tiga-tiganya memiliki seorang anak laki-laki. Ketiga anak lelaki itu mati dibunuh dalam tragedi kemanusiaan. Satu mati di Golgota. Satu mati di Klender. Satu lagi mati di Semanggi. Mereka adalah Maria-maria berduka cita. Saya menyebutnya Maria-maria Dolorosa.

Kucumbu Tubuh Indahku: Narasi Getir dan Trauma

Tiket bioskop ini akhirnya jatuh ke tangan saya juga. Film “Kucumbu Tubuh Indahku” pun sudah saya tonton. Dus, bolehlah sekarang saya berkomentar atas film ini. Sekian lama saya gatel ingin berkomentar. Tapi, apa guna, kalau saya belum nonton filmnya. Ora elok, tho? Biar enteng berkomentar, saya harus “membunuh” Garin Nugroho lebih dulu. Kok gitu?

Ada Ibu di Antara Bintang-Bintang Itu

Saya masih memelototi layar laptop. Siang kemarin. Mengedit video-video seputar hajatan kantor sepekan ini. Sesekali, menengok layar henpon. Facebook masih sama dengan hari-hari kemarin. Penuh kisah-kisah pandir dan menghibur. Dari mainan presiden-presidenan, gubernur yang menyalahkan banjir kiriman, hingga mantan jenderal yang konon bisa ngobrol dengan kucing, nyamuk, dan semut.

Kata-kata Yang Hidup

Paskah itu perihal kebangkitan. Perihal hidup. Demikian juga menulis. Menulis itu upaya menghidupkan kata-kata. Mengembusinya dengan roh. Hari ini, saya mau menceritakan sisa-sisa perjumpaan dengan Martin Aleida. Soal filosofi menulis ala Martin sudah saya ceritakan di tulisan pertama. Judulnya, Martin Aleida, Sastrawan Penyintas Peristiwa 1965.