Romo Kusdiyantoro Seribu Hari Lalu

Sosok Romo Petrus Kusdiyantoro, O.Carm tak lekang dalam ingatan saya. Dia adalah kakak angkatan setahun di asrama Mertoyudan, asrama yang pintu gerbangnya menghadap dua gunung, Merapi dan Merbabu. Kami akrab memanggilnya “Growol.”

Kepribadiannya sederhana, supel, ramah, dan suka guyon. Ia multitalenta. Di bidang musik, ia jago main biola, organ, maupun saxophone. Di lapangan hijau, ia kondang lincah menggiring bola. Kalau tak salah kakinya pernah cidera karena bola.

Continue reading “Romo Kusdiyantoro Seribu Hari Lalu”

Adolf Heuken SJ: Teladan Kedalaman di Era Pencitraan

MENGAPA ada puluhan nama Jesuit dijadikan nama-nama kawah di bulan? Pertanyaan ini terlontar dari Romo Johannes Hariyanto SJ, seorang pastor Jesuit yang saya temui saat melayat Romo Adolf Heuken SJ di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta, Jumat (26/7/2019). Pertanyaan itu tidak dialamatkan ke saya agar saya menjawabnya. 

Romo Hari menjawab sendiri sebagai penegasan. Para Jesuit yang namanya diabadikan di bulan itu merupakan orang-orang yang mengabdikan diri secara khusus pada pengetahuan. Ada pakar matematika, astronomi, fisika, filsafat, dan sebagainya. Mereka berkarya dengan penuh passion dan totalitas. Karya-karya mereka pun substansial bagi kehidupan manusia. Hal yang sama juga melekat pada diri Romo Heuken.

Continue reading “Adolf Heuken SJ: Teladan Kedalaman di Era Pencitraan”

Dirjo Pergi ke Tempat Lebih Dalam

“Mungkin saya tidak tercatat dalam buku kesuksesan manusia. Tetapi, saya tetaplah Dirjo yang siap menuju tempat yang lebih dalam.”

ITULAH kutipan dari sahabat saya, Yohanes Ronny Septoro Wisnu (Dirjo), yang saya baca kembali di buku Follow Me 2.0, kumpulan refleksi mantan anak-anak Seminari Mertoyudan angkatan 92 yang terbit tahun 2016. Ia menulis dengan judul “Menuju Tempat yang Lebih Dalam.”

Continue reading “Dirjo Pergi ke Tempat Lebih Dalam”

Sekoci

Life of Pi. Sumber ilustrasi: filmsufi.com

BOTOL-BOTOL bir. Kebal-kebul asap rokok. Kacang garing. Obrolan ngalor-ngidul. Inilah keramaian bersahaja dari “kebaktian pengusiran setan dingin” yang kami gelar di kedai gaul, Seven-Eleven. Maklum, cuaca berubah dingin ketika malam itu tiba. Baru satu jam, senja menghilang di balik gedung-gedung jangkung kawasan bisnis Sudirman.

Langit menghitam seperti jelaga. Hitam seperti nasib  orang-orang yang bernaung di bawah langit ibukota. Khususnya, nasib empat laki-laki tulen yang sedang menggelar “kebaktian” itu. Senin, 10 Desember 2012.

Continue reading “Sekoci”

Dunia Helena

“Selamat jalan Helena Dewi Justicia. Perjuangan dan tulisanmu abadi.”

KUTIPAN di atas ini mencuri perhatian saya. Petang itu, saat saya mengikuti misa requiem untuk Helena Dewi Justicia, saya akrab memanggilnya Helen, di rumah duka Rumah Sakit Harapan Kita, Tomang, Jakarta, Senin, 6 Juni yang lalu. Kutipan itu tersemat di karangan bunga dari Yayasan Pantau, tempat ia pernah belajar jurnalisme sastrawi yang diampu oleh Andreas Harsono.

Saya seratus persen setuju dengan kutipan itu. Helen merupakan seorang penulis tangguh. Tulisan-tulisannya bernas, reflektif, jernih, dan kaya spiritualitas. Bahkan, saat berjibaku dengan kanker yang menyerang otaknya, ia masih setia menulis. Catatan-catatan kecilnya mengalir saban hari di Facebook. Entah tengah malam atau dini hari.

Continue reading “Dunia Helena”

Musik Yus Menembus Langit Paradiso

“Bro, apa kabar? Senantiasa sehat ya. Wis beres gendheng omahmu?”

Itulah nukilan pesan dari Yulius Panon Pratomo (Yus) pada saya di WhatsApp pada 15 Oktober 2020. Dia menanyakan kabar demikian karena, harap maklum, saya barusan posting tentang genting rumah yang bocor.

“Aku ingin ngobrol minta bantuan publikasi karya, Bro.”
“Siap. Aku akan share di grup-grup. Namun, aku perlu narasi singkat terkait lirik-lirik lagu tersebut. Satu paragraf pendek saja agar audiens tahu itu video tentang apa dan konteksnya.”
“Oke-oke. Nanti kusiapkan.”

Continue reading “Musik Yus Menembus Langit Paradiso”

Pembantaian Atas Nama Allah

Hotel Mumbai. Sumber ilustrasi: cultura.id

LELAKI dengan suara serak itu terus menelepon. Ia berupaya meyakinkan anak-anak muda bersenapan itu sedang berjalan di jalan Allah. Surga pun menanti mereka. “Allahu Akbar.” Senapan meletus. Orang-orang kocar-kacir dengan jeritan histeris. Tubuh-tubuh roboh. Darah menggenang di mana-mana.

Film Hotel Mumbai (2019) memang menegangkan. Teror dan ketegangan hadir menit demi menit. Film garapan sutradara Anthony Maras dan John Collee ini mengangkat kisah nyata di Mumbai pada tahun 2008. Saat itu, 26 November, sekelompok teroris dari Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan ini berperahu menuju Mumbai. Kelompok ini terdiri dari sepuluh anak muda. Mereka bersenjata AK47, pistol, dan granat.

Continue reading “Pembantaian Atas Nama Allah”

Malaikat-Malaikat Berdebu

Sumber ilustrasi: Unplash.com

KISAH ini terjadi pada tahun 1996. Berawal di sebuah bibir dermaga di Pantai Kartini, Jawa Tengah. Siang itu cukup gerah. Angin pantai menerpa dan menggulung ombak. Saya dan seorang sahabat berdiri tegap menantang angin. Lalu perlahan saling menjauh dan memunggungi seperti dua koboi yang bersiap adu tembak.

Terdengar bunyi “sreet” mengiringi resluiting yang kubuka. Lalu, ‘pistol’ masing-masing dikeluarkan dari sarungnya. Dan “Serrrr!” bunyi ‘tembakan’ air amoniak berwarna putih kekuningan ke permukaan air pantai yang sudah membuih. Kami mengencingi pantai!

Continue reading “Malaikat-Malaikat Berdebu”

Reset Blog

PERIODE Agustus–awal September 2025, seruan Reset Indonesia menggema di tengah demo, korupsi masif, dan pejabat yang abai pada rakyat. Dalam suasana itu, saya ikut “reset”: blog saya disuspensi karena telat bayar, data rusak, dan harus dibangun ulang dari nol. Tulisan masih bisa diselamatkan lewat Wayback Machine, tapi foto-foto hilang. Kini, pelan-pelan saya unggah kembali artikel lama, sembari menambah coretan baru.

Paus Fransiskus Sedekat Itu

Depan lobi kantor KWI masih menyimpan tanda tanya hingga saat ini. Sebuah peristiwa tak masuk di akal. Saya berdiri di depan lobi bersama uskup-uskup yang jadi among tamu menyambut Paus Fransiskus. Di situ, saya bisa melihat dan menyapa Paus Fransiskus dalam jarak sangat dekat.

Kenapa saya bisa di situ? Misterius bagi saya. Jadi begini. Saya mengidolakan Jorge Mario Bergoglio — nama asli Paus Fransiskus– sejak ia terpilih menjadi paus. Sederhana, murah senyum, progresif, dan tentunya Jesuit. Dengar ia mau ke Indonesia, saya bertekad menemuinya. Dua kali saya bermimpi ketemu dirinya. Segitunya.

Continue reading “Paus Fransiskus Sedekat Itu”