
MALAM telah larut. Beberapa waktu lagi, malam akan runtuh, diganti pagi. Hawa dingin menyapu pelan seluruh tubuh. Sesekali terdengar gonggongan anjing kampung saat perempuan tua itu duduk tersimpuh di atas tikar yang sudah usang dan bolong di sana-sini. Wajahnya yang mulai keriput tampil samar-samar karena pendaran cahaya lilin yang sudah tidak utuh lagi lantaran dimakan api.
Sementara itu, tangannya yang sudah tidak sekuat dulu, memilin pelan satu persatu butir rosario. Rosario yang terbuat dari kayu cendana dan menebar bau wangi itu digenggamnya erat. Seolah tidak ingin ia lepaskan demi sebuah pengharapan yang tiada habis.
Continue reading “Maria Tanpa Kaki”







