PERIODE Agustus–awal September 2025, seruan Reset Indonesia menggema di tengah demo, korupsi masif, dan pejabat yang abai pada rakyat. Dalam suasana itu, saya ikut “reset”: blog saya disuspensi karena telat bayar, data rusak, dan harus dibangun ulang dari nol. Tulisan masih bisa diselamatkan lewat Wayback Machine, tapi foto-foto hilang. Kini, pelan-pelan saya unggah kembali artikel lama, sembari menambah coretan baru.
Depan lobi kantor KWI masih menyimpan tanda tanya hingga saat ini. Sebuah peristiwa tak masuk di akal. Saya berdiri di depan lobi bersama uskup-uskup yang jadi among tamu menyambut Paus Fransiskus. Di situ, saya bisa melihat dan menyapa Paus Fransiskus dalam jarak sangat dekat.
Kenapa saya bisa di situ? Misterius bagi saya. Jadi begini. Saya mengidolakan Jorge Mario Bergoglio — nama asli Paus Fransiskus– sejak ia terpilih menjadi paus. Sederhana, murah senyum, progresif, dan tentunya Jesuit. Dengar ia mau ke Indonesia, saya bertekad menemuinya. Dua kali saya bermimpi ketemu dirinya. Segitunya.
Belum lama ini, dunia maya diramaikan oleh netizen yang mengecam podcast Deddy Corbuzier karena ia menghadirkan pasangan LGBT dalam salah satu episodenya. Usai menuai kecaman dan boikot, pemilik podcast Close the Door itu buru-buru menghapus tayangan tersebut. Peristiwa ini menandakan bahwa hingga hari ini orang-orang LGBT masih mengalami penolakan dan diskriminasi.
Diskriminasi dan penolakan itu juga banyak terjadi di lingkungan Gereja Katolik. Mereka, para LGBT, menjadi kelompok paling terpinggirkan. Keprihatinan inilah yang menjadi salah satu hal yang menggerakkan James Martin, SJ, seorang imam Jesuit dan editor umum majalah America: The Jesuit Review, menulis buku Building a Bridge: How the Catholic Church and the LGBT Community Can Enter into a Relationship of Respect, Compassion, and Sensitivity (2018).
Saat pembatasan akses media sosial dibuka lagi pemerintah beberapa hari lalu, netizen girang. Postingan di medsos pun mengalir deras. Linimasa kembali gaduh. Hidup terasa ‘normal’ kembali. Netizen merasa mendapatkan kembali kebebasannya.
Demokrasi seakan kembali digenggam. Orang bebas berekspresi — dari memaki pemerintah, memposting menu buka puasa hingga curhat tentang anjing kesayangannya yang mati.