Aku Sudah Bebas

Sumber ilustrasi: Komkat KWI

ADA DIALOG menarik dalam film yang saya tonton di masa libur lebaran tahun ini. Judulnya, Risen, sebuah film lawas tahun 2016. Film ini mengisahkan Clavius, seorang tribun Romawi yang diutus Pontius Pilatus untuk menyelidiki hilangnya jenazah Yesus di tengah rumor kebangkitanNya.

Clavius (Joseph Fiennes) hanyalah tokoh rekaan. Film ini berlatar di Yerusalem tahun 33 Masehi, beberapa hari setelah penyaliban Yesus Kristus. Di tengah pergunjingan hilangnya jenazah Yesus, Clavius mencurigai murid-murid Yesus telah menyembunyikannya. Bersama tentaranya, Clavius memburu murid-murid Yesus yang saat itu memang sembunyi di rumah-rumah terkunci. Sampai di suatu kesempatan Clavius berhasil menangkap Maria Magdalena.

“Ke mana kau membawa Yesus?” tanya Clavius.
“Dia ada di sini,” jawab Maria.
“Apa dia jin? Hantu? yang bisa hidup kembali?”
“Buka hatimu dan lihatlah.”
“Aku bisa dapatkan yang ingin kudapatkan darimu, menyiksamu sampai mati.”
“Itu tak penting.”
“Kalau begitu serahkan yang lain, dan kau akan kubebaskan.”
“Aku sudah bebas.”

Jawaban terakhir Maria Magdalena itu sungguh menyentuh hati saya: aku sudah bebas. Saya bisa memahami bahwa kebebasan yang ditawarkan Clavius sama sekali tak ada artinya dibanding dengan kebebasan yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya. Keselamatan jiwa melampaui kebebasan fisik.

Maria Magdalena merupakan sosok perempuan yang dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat. Ia juga menjadi salah satu saksi penyaliban dan kebangkitan Yesus. Maria dari Magdala ini telah menjadi manusia baru berkat Yesus — bukan lagi manusia lama yang dikenal oleh Clavius seperti terungkap dalam film itu. Sebagai manusia bebas, dengan peristiwa kebangkitan, Maria dan para murid semakin berkobar-kobar mengikuti Yesus.

***

Rasanya semua orang, termasuk saya, pernah merasakakan pengalaman batin yang sesak, hidup tidak lincah, batin terasa terpenjara oleh kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa masa lalu. Karenanya, satu-satunya cara untuk mendapat kebebasan adalah pergi ke ruang pengakuan untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi atau Sakramen Tobat. Sakramen Rekonsiliasi menjadi alasan saya sangat bersyukur dipanggil menjadi Katolik. Gereja Katolik itu menyediakan banyak sekali saluran rahmat Allah secara cuma-cuma.

Minggu lalu, saya memutuskan untuk mengaku dosa. Kebetulan, paroki menyediakan waktu untuk pengakuan dosa selama masa prapaskah. Sebenarnya saya pernah mengakukan dosa-dosa tertentu, cuma saya tidak mengakukannya lebih detail. Terus terang, ini cukup membebani batin saya. Soal ini, saya sempat berkonsultasi kepada dua orang imam Jesuit yang dikenal sebagai pembimbing spiritual.

“Romo boleh nanya? Apakah dosa yang pernah kita akukan dan tidak kita lakukan lagi, boleh kita sampaikan di kamar pengakuan lagi dengan menyebut dosa secara lebih spesifik dan detail?”

“Sebenarnya dosa yang pernah kita akukan sudah diampuni. Tapi, bisa jadi ada akar atau efek yang masih tersisa atau jadi beban pikiran atau kegelisahan, maka itu bisa saja dilakukan supaya tidak menjadi beban. Karenanya, saya lebih suka istilah Sakramen Rekonsiliasi daripada sakramen pengakuan dosa. Rekonsiliasi, pun dengan diri sendiri, kan lebih dalam daripada sekadar pengakuan dosa (walau ini juga tidak mudah.”

Senin pagi saya memberanikan diri mengaku dosa dengan lebih spesifik dan detail. Di kamar pengakuan, seorang imam dengan kepala penuh uban duduk menyamping dengan mata terpejam. Bertindak in persona Christi, imam Karmelit tersebut mendengarkan, menasihati, memberi penitensi dan absolusi dengan kemurahan hati.

Setelah memanjatkan doa sebagai wujud penitensi, bolehlah saya berujar: aku sudah bebas. Rekonsiliasi dengan Allah dan diri sendiri ini mengalirkan energi baru. Saatnya meninggalkan masa lalu dan mengejar apa yang ada di depan mata.

Dan, bila roh jahat kembali lagi dan ingin mengungkit-ungkit dosa-dosa dan kelemahan masa lalu, senjata utamanya adalah menghardik dia sembari berujar: aku sudah bebas. Termasuk apabila roh jahat tersebut menawarkan kenikmatan duniawi dan kebebasan semu, senjatanya sama: aku sudah bebas.

Selamat menyongsong Paskah!

@Kebon Jeruk, 23 Maret 2026


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *