Kalender Dinding Bergambar Paus Fransiskus

Foto Paus Fransiskus di kalender dinding yang sudah saya sobek karena bulannya sudah berlalu, saya lipat, dan senderkan di rak buku di rumah saya.

DI KOLOM chatting webinar Selasa malam bersama Romo Nano SJ pada 17 Maret 2026, saya menulis pendek tentang pengalaman menemukan tempat tipis. Tempat tipis yang dimaksud adalah tempat di mana surga dan bumi bertemu. Romo Nano bilang, sebutan ini mengacu juga pada tempat kehadiran Yang Kudus secara unik. Sepemahaman saya, ini merujuk tempat di mana kita menemukan Allah.

Saya cerita kurang lebih begini. Tempat tipis yang belakangan cukup berbicara adalah kalender dinding bergambar mendiang Paus Fransiskus. Kalender ini kami beli di toko paroki. Setiap bulan di kalender itu termuat foto-foto paus yang berbeda. Salah satunya, Paus Fransiskus.

Foto satu ini cukup memikat saya. Paras Paus dengan senyum hangatnya seakan memancarkan kasih, kehangatan, suka cita dari dalam, pengampunan, dan kemurahan hati. Semua itu merupakan pancaran Allah sendiri yang penuh kasih, hangat, murah hati, dan suka cita . Surga seakan bersinar dari wajah Paus asal Argentina dan wafat pada usia 88 tahun itu.

Senyum itu pernah saya lihat dalam jarak sangat dekat, kurang lebih dua meter, saat Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini menyambangi kantor KWI di Menteng, 5 September 2024. Saat itu, dalam sebuah peristiwa yang terbilang ajaib, saya diperkenankan ikut menyambut Paus bersama para uskup di depan lobi kantor KWI.

Foto itu berbicara apa lagi? Tak lain, orang yang punya relasi mendalam dengan Kristus, pasti akan memancarkan wajah seperti itu. Dan, semua yang dipanggil menjadi murid Kristus, selayaknya memiliki kedalaman relasi seperti yang dipancarkan oleh Paus Fransiskus.

Rupanya coretan singkat di kolom chat zoom malam itu mencuri perhatian Romo Nano di akhir webinar. Sampai-sampai, ia menyuruh ibu Lyli yang jadi host untuk membacakan coretan itu.

“Ini menarik. Syukurlah Mas Sigit nemu gambar Paus Fransiskus. Apakah Paus Leo XIV tidak menjadi tempat tipis?” ujar Romo Nano sedikit berseloroh.

“Paus Fransiskus memang sosok fenomenal, keren, dan luar biasa. Syukur kita mengalami dia datang ke Jakarta sebelum beliau meninggal. Saya sendiri sangat bersyukur karena sempat bersalaman kala itu, sebagai anggota Serikat Yesus, saya mendapat keistimewaan,” kata Romo Nano.

“Saya ingin meneguhkan Mas Sigit dan teman-teman semua, bahwa tempat tipis itu tidak pernah hanya satu. Sekali lagi, tempat tipis itu tidak pernah hanya satu. Ada berapa? Banyak. Semakin kita peka, semakin kita mampu menemukan banyak tempat tipis: Ekaristi, Kitab Suci. Salah satu renungan yang “wajib” dilakukan adalah menemukan tempat tipis dan mengakses Tuhan lewat tempat-tempat tipis itu,” imbuh Romo Nano.

Di kolom chat tersebut, saya menimpali tanggapan Romo Nano dengan mengucapkan terima kasih. Terima kasih juga atas webinar bertema “Menjalan Persahabatan dengan Allah” yang melimpah inspirasi dan refleksi itu.

@20 Maret 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *