Tuhan Sudah Menunggumu di Kota

Sumber ilustrasi: Liputan6.com

PASTI semua pernah mengalami perasaan berat ketika libur panjang usai dan kita harus kembali bekerja. Libur lebaran tahun ini contohnya. Saat mudik dari kota ke desa, orang-orang sangat antusias dan riang gembira menyambutnya. Ketemu orang tua, menjenguk kerabat, kulineran, plesiran, reuni, hingga pamer status sosial.

Sayangnya, banyak pemudik yang buyar antusiasmenya saat harus balik ke kota. Bahkan, liburan panjang itu mendadak terasa singkat. Capek fisik? iya. Capek psikis? tentu. Tak hanya itu, kegembiraan mudik pelan-pelan raib dan muncul was-was saat kembali ke kota. Kembali ke kota berarti kembali ke hidup yang penuh perjuangan, gesekan, peluh, kesumpekan, keruwetan, ketidakpastian, ancaman PHK, dan momok hidup lainnya.

Hari ini, Rabu, 25 Maret 2026, saya juga kembali ngantor. Anak-anak kembali masuk sekolah. Meski tak mudik, saya cukup menikmati libur panjang bareng istri dan anak-anak. Kebersamaan keluarga dalam rentang waktu panjang ini bagi saya merupakan kemewahan. Meluncur ke kantor, jalanan tampak masih lengang. Sampai kantor, kantor pun belum seramai biasanya.

Namun demikian, entah kenapa, saya justru merasakan semangat menyambut hari baru ini. Tak seperti biasanya, saat perasaan galau muncul, saban Senin tiba. Pukul setengah delapan pagi, saya sudah sampai di Kokas. Jam kerja kantor sejam kemudian. Lalu turut ikut miting bisnis dengan peserta tak sebanyak biasanya karena masih pada cuti. Lanjut siapin macam-macam hal hingga miting sampai petang.

Soal ini, saya sangat bersyukur. Kenapa saya bisa semangat? Saya tak tahu persis. Ujug-ujug rasa itu muncul. Mungkin saja ini efek Sakramen Rekonsiliasi minggu lalu. “Aku sudah bebas” sehingga hidup terasa ringan dan plong. Kebebasan batin ini jauh lebih penting dari hal-hal lain.

Mungkin pula karena buku yang saya baca selama liburan. Ini buku karangan Chris Lowney berjudul “Paus Fransiskus Sang Pemimpin: Sebuah Pembelajaran dari Paus Yesuit pertama” (Kanisius, 2016). Buku ini sudah lama saya beli. Banyak bercak kuning. Baru saya baca belakangan, setelah setahun lebih Paus Fransiskus wafat. Saya baca sampai halaman 138.

Kepemimpinan Paus Fransiskus berakar pada spiritualitas Yesuitnya atau spiritualitas Ignasian. Spiritualitas ini bersumber pada Latihan Rohani dari Santo Ignasius Loyola, pendiri Serikat Yesus. Meski dipopulerkan pertama kali pada abad ke-16, spiritualitas inilah yang dihidupi oleh para Yesuit sampai sekarang.

Chris Lowney, sang penulis buku, piawai menceritakan inti kepemimpinan paus dan spiritualitas Ignasian. Lumrah saja karena Lowney adalah mantan Yesuit yang saat ini menjadi pimpinan di J.P. Morgan & Co di tiga benua. Ia juga lebih dulu menulis buku Heroic Leadership, Pratik Terbaik “Perusahaan” Berumur 450 Tahun yang Mengubah Dunia (2003). Buku ini mengangkat kepemimpinan ala Serikat Yesus. Pada tahun 2005, saya pernah menjumpainya langsung saat ia hadir di Jakarta dalam diskusi yang digelar Gramedia. Saya juga mendapat buku lengkap dengan tanda tangannya.

Ringkasnya, spiritualitas Ignasian merupakan spiritualitas yang melibatkan diri dalam dunia. Dunia dengan segala kegembiraan dan penderitaannya. Karenanya, cara hidup Yesuit tidak bergaya monastik alias ‘mendekam’ di biara, tapi terlibat aktif dalam urusan dunia. Sama seperti Yesus sendiri yang terlibat aktif di dunia.

Salah satu semangat Ignasian adalah menemukan Allah dalam segala hal, finding God in all things. Allah hadir dalam realitas dunia dengan segala keruwetan, keluh kesah, dan kebisingannya, segala tawa dan air mata, keputusasaan dan harapan. Demikian juga, Allah hadir di pinggiran, lorong-lorong gelap kota, tempat kerja, dapur, sekolah, gereja, lokalisasi, pasar saham, di semua tempat.

Spiritualitas ini tidak berpusat pada diri sendiri dan untuk kepentingan diri sendiri, tapi berpusat pada Kristus untuk membawa pengharapan dan keselamatan bagi dunia, khususnya orang-orang yang terpinggirkan. Sepatu berdebu — istilah yang merujuk pada upaya melibatkan diri dalam dunia.

Meski terlibat dalam kesibukan dunia, Paus Fransiskus tetap mampu mengambil jarak dari dunia. Dalam kebisingan urusan duniawi, spiritualitas ini memampukan paus tetap hening dan refleksi. Doa dan hening menjadi hal penting dalam kepemimpinan Paus Fransiskus.

***

Hubungannya dengan mudik? Saya tercerahkan bahwa mudik sejatinya bukanlah ke desa, tetapi balik kota. Mudik bukan ke tempat pelarian dari kenyataan, tetapi justru masuk ke pusat kenyataan. Kenyataan hidup ada di kota: tempat kita mengadu nasib, berkeluh kesah, mabuk asap knalpot, was-was atas pekerjaan, ekonomi tak pasti, bersenda gurau, hingga menangis.

Spiritualitas Ignasian menyadarkan saya bahwa di kota (baca: realitas hidup keseharian), Allah hadir. Kalau Allah hadir dan terlibat di kota ini, apa yang sebenarnya masih saya takutkan? Saya memiliki banyak keterbatasan, namun Allah yang tanpa batas itu menyertai saya. Menerima realitas diri sepenuhnya juga merupakan buah dari spiritualitas Ignasian. Di buku itu, diceritakan bahwa Paus Fransiskus merasa diri cacat, tapi ia diberi berkat dan dipanggil membagikan rahmat. Dari sini, spiritualitas Ignasian melatih kita untuk senantiasa bersyukur atas segala hal.

Jadi, kita masih gampang kembali ke kota? Gak usah khawatir karena Tuhan sudah menunggu kita di sana — sebuah kota yang suatu kali berlangit biru dengan sinar mataharinya yang hangat dan suatu kali mendadak menggelap gulita karena awan hitam, hujan deras, badai, bercampur geluduk.

@Kebon Jeruk, 27 Maret 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *