Kopi, Buku, dan Film

Author: Sigit Kurniawan Page 2 of 13

Dapur Mangut Lele Mbah Marto Kemebul

Salah satu makanan yang tak pernah absen dalam daftar perburuan di Jogja adalah mangut lele Mbah Marto. Selasa lalu, 29 Maret 2022, setelah lebih dari dua tahun tak pulang kampung, saya menyambangi warung Mbah Marto.

Warung mangut lele Mbah Marto berada di Dusun Nggeneng, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Soal rasa, mangut lele mbah Marto memang terbaik.

Sate Kambing Sor Talok

Sate Kambing Sor Talok

Tak ada yang bisa meremehkan Bantul kalau berurusan dengan kuliner. Tak perlu endorsement dari Anthony Bourdain, Phil Rosenthal, atau artis-artis K-Pop untuk urusan lidah dan perut di wilayah selatan Jogja ini.

Sebelum meluncur ke Jogja, setelah lebih dua tahun tak pulang kampung karena pandemi, saya sudah punya sedikitnya sembilan menu perburuan, dari ayam goreng Mbah Cemplung, Gudeg Yu Djum, sate klathak, bakmi Kadin, soto Kadipiro atau Tamansari, lotek, bakso Jogja, tahu guling, dan sengsu.

Musik Yus Menembus Langit Paradiso

Foto: Ricky Yudhistira

“Bro, apa kabar? Senantiasa sehat ya. Wis beres gendheng omahmu?”

Itulah nukilan pesan dari Yulius Panon Pratomo (Yus) pada saya di WhatsApp pada 15 Oktober 2020. Dia menanyakan kabar demikian karena, harap maklum, saya barusan posting tentang genting rumah yang bocor.

“Aku ingin ngobrol minta bantuan publikasi karya, Bro.”
“Siap. Aku akan share di grup-grup. Namun, aku perlu narasi singkat terkait lirik-lirik lagu tersebut. Satu paragraf pendek saja agar audiens tahu itu video tentang apa dan konteksnya.”
“Oke-oke. Nanti kusiapkan.”

Jurnalisme Sol Sepatu

Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia ke-55 bertema “Datang dan Lihatlah” sangat menarik. Selain menarik, pesan tersebut juga menjadi pengingat bagi wartawan seperti saya. Datang dan melihat sendiri peristiwa menjadi pesan utama. Ini bukan barang baru di dunia jurnalisme. Pesan Paus ini tak ubahnya seperti lonceng pengingat bahwa esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.

Ada satu kutipan menohok di pesan yang dirilis pada 21 Januari 2021 saat Vigili Santo Frans de Sales ini. Paus asal Argentina ini menulis, krisis industri penerbitan berisiko mengarahkan pemberitaan yang hanya dirancang di ruang redaksi, di depan komputer, di pusat-pusat berita, di jejaring sosial, tanpa pernah keluar ke jalan. Tanpa “menghabiskan sol sepatu” (turun ke jalan), tanpa ketemu orang untuk mencari cerita atau memverifikasi situasi tertentu dengan mata kepala sendiri.

Refleksi Atas Anak Bajang Menggiring Angin

Tulisan ini merupakan refleksi atas pembacaan buku Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata. Ditulis pada saat penulis masih duduk di bangku SMA.

Ternyata saya sudah menulis sejak SMA. Saya heran bisa menulis seserius ini meski keseleo sana-sini. Tulisan ini pernah dimuat di majalah AQUILA, majalah terbitan SMA Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan pada tahun 1995. Saya mendapatkan kembali dari Dono Sunardi, teman seangkatan di SMA tersebut, yang berbaik hati memindainya dalam bentuk PDF dan mengirimkannya ke saya. Atas nama pendokumentasian, berikut salinannya:

Pengalaman dan pergulatan batin seseorang memiliki dinamikanya sendiri. Orang dipanggil untuk berusaha semakin menyempurnakan dirinya. Ia dipanggil untuk serupa dan secitra dengan Sang Sumber Kesempurnaan. Dialah Yang Transenden, Allah sendiri.

Menunggu Stevanus Pulang

Perempuan itu sedang menyirami tanaman bunga. Bunga-bunga yang tertanam rapi dalam pot-pot yang tertata rapi di gang samping persis rumahnya. Siang itu, Kamis, 10 Mei 2018. Perempuan itu penuh uban di kepalanya. Ia mengenakan kaos hitam bertuliskan “Paguyuban Korban & Keluarga Korban Tragedi 14 Mei 1998.” Tanpa lama, saya dan anak saya, Jagad Cleva Nitisara, dipersilakan masuk. Ia menerima kami dengan penuh keramahan. Saat itu, ia ditemani oleh seorang anak perempuan yang masih remaja. 

Halloween dan Kisah Receh Hantu-Hantu

Sumber: aptoid

“Halo, Mas Pras. Apa kabar?”
“Halo, Mas Sigit.”
“Pernah melihat hantu, Mas?”
“Aku belum pernah. Aku orangnya penakut.”
“Ya, sudah. Punya kenalan yang bisa saya tanyai tentang hantu-hantu?”

Mas Pras lalu menyodorkan sebuah nama, seorang ibu-ibu, lengkap dengan nomor teleponnya. Katanya, ibu ini dan juga anak-anak beserta pembantunya, sering melihat hantu-hantu di rumahnya. Saya langsung whatsapp ibu itu dan bertanya soal hantu-hantu. Sampai tulisan ini saya posting di sini, pesan saya belum dibalas oleh ibu itu. Mungkin saya dianggap kurang kerjaan.

Pertanyaan yang sama saya lempar di beberapa grup whatsapp. Seorang dari salah satu grup itu, Helena, terpancing menanggapi.

“Keponakanku sewaktu kecil melihat hantu kucing, malah,” kata Helena “Pas aku mainan sama anak kucing di kardus, Si Abby nunjuk-nunjuk pintu dapur. Bude, kata Abby, itu mamanya datang. Padahal tidak ada siapa-siapa. Kaburlah gw.”

Membaca jawaban ini, saya membatin ternyata dunia hantu-hantu mirip dengan dunia kita-kita, ada flora dan faunanya.

Page 2 of 13

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén