
SEBENARNYA tak ada rencana mampir di sini. Sore itu, saya masih ngadem di ICE BSD. Senja menjelang, saya cabut. Meski sering ke Serpong, masih saja tak hafal jalan pulang ke Kebon Jeruk. Lagi-lagi andalkan Google Maps.
Saya ngeh kemarin adalah jumat pertama. Saya memang berniat tidak misa jumper. Pasti gak nyandhak misa di MBK. Posisi masih di BSD. Ditambah hati lagi galau. Event yang saya pegang masih sepi pendaftar dan terancam dibatalkan. Padahal tinggal dua minggu.
Ya, sudah. Saya meluncur pulang. Sepanjang perjalanan, sering berhenti. Mengecek arah Google Map. Google membelokkan saya ke daerah Pinang. “Lha, ini warung tongseng tempat kami makan kala itu? Dekat sini ada gereja tempat kami berkunjung saat porta sancta tahun lalu.” Hati mendadak gumregah.

Saya mendekati gereja. Ada satpam mengatur lalin masuk gereja. “Pak, ada misa Jumat Pertama?” “Ada jam enam mas, lima belas menit lagi. Parkir ke depan sebelah kiri.”
Usai parkir, naik dan masuk gereja superbesar itu. Badan sudah bau karena seharian kerja. Tas rangsel di punggung. Sempat cuci muka di toilet yang terletak basement.
Saya duduk di bangku panjang baris tengah. Lurus pandangan ke depan ada tabernakel bergambar Hati Kudus Yesus. Hati langsung damai “mak nyes.” Langsung semua isi hati ditumpahkan ke hati-Nya: anak yang lolos SNBT, si bungsu yang segera komuni pertama, event yang masih sepi. Tumpek blek, dari rasa syukur sampai galau. Komunikasi beneran terasa dari hati ke hati.
Saat adorasi, hape di saku celana bergetar. Jam tangan yang terhubung dengan hape menunjukkan bahwa pak bos menelepon. “Pasti soal event yang masih sepi itu.” Saya tidak angkat dan fokus adorasi. Benar-benar seperti menimba air dari sumber segala kesegaran.
Usai misa. Saya kirim pesan pada pak bos. Benar tentang event itu. Saya cari posisi buat telepon balik. Persis depan parkiran motor, samping kaca gedung gereja. Pak bos tidak marah, malah kasih solusi penuh kehangatan.
Dan, saya kaget, di belakang saya, dari balik kaca tembok tempat saya menelepon, muncul sosok idola saya: Paus Fransiskus dengan senyum khasnya dan tangan memberkati. “Lah, dia lagi. Ngapain dia di sini?” batin saya sambil senyum-senyum sendiri. Meski cuma stiker yang dipasang di kaca dengan posisi agak aneh, saya merasa disemangati Paus Fransiskus. Dia seolah mau bilang, “Wis, rasah khawatir, tenang wae.”

Dia, meski belum dikanonisasi, aku jadikan perantara doa. Lagi-lagi, thanks sudah nongol lagi. Paus Fransiskus, apa kabarmu? Miss you!
Ini pengalaman receh sih. Tapi membuat hati saya kembali segar dan berkobar. Apalagi sore nanti, Maria Lentera, akan menerima Komuni Pertama, menjumpai Yesus, sungguh Allah sungguh manusia. Rasa syukur meluber. Saking senangnya, saya bagikan kisah receh ini di sini.
— Juni 2026