Romo Kusdiyantoro Seribu Hari Lalu

Sosok Romo Petrus Kusdiyantoro, O.Carm tak lekang dalam ingatan saya. Dia adalah kakak angkatan setahun di asrama Mertoyudan, asrama yang pintu gerbangnya menghadap dua gunung, Merapi dan Merbabu. Kami akrab memanggilnya “Growol.”

Kepribadiannya sederhana, supel, ramah, dan suka guyon. Ia multitalenta. Di bidang musik, ia jago main biola, organ, maupun saxophone. Di lapangan hijau, ia kondang lincah menggiring bola. Kalau tak salah kakinya pernah cidera karena bola.

Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) menjadi tempat di mana kami bertemu lagi setelah sekian puluh tahun berpisah. Saat itu, senyum dan tutur katanya masih sama: ramah, njawani, dan hangat. Cuma tubuhnya makin gempal namun terlihat lemah karena memang sedang sakit dan sedang menjalani pengobatan. Dalam sakitnya, ia masih melakukan pelayanan di paroki.

Tengah malam, persisnya pukul 23.22 WIB, Kamis 16 Februari 2023, Tuhan memanggilnya. Ia berpulang setelah beberapa saat dirawat di RS Carolus, Jakarta.

Percakapan terakhir dan intensif dengan Romo Kus terjadi kolom chatting 14 Agustus 2020. Saat itu malam hari menjelang tidur. Kami membincangkan banyak hal, dari isu-isu hangat di paroki, cerita pelayanan di pedalaman, hingga sharing tentang sakit yang ia derita.

“Wis tak ten pasarean rumiyen. Suwun sharing lan masukan masukan ipun. Sugeng lanjut kerjakan deadlinenya. Sugeng ndalu. Berkah Dalem.” Demikian kata-kata penutup Romo malam itu. Saya timpali: “Suwun nggih Mo. Nah, kalo sempat, sambung obrolan sambil mbakmi wae. Selamat istirahat.” Romo langsung nyahut: “Siip kuwi.”

Setelah itu, niat untuk ngobrol sembari makan bakmi tidak terjadi, sampai hari ini, saat kami misa seribu hari berpulangnya Romo Kus di Gereja MBK, 21 Februari 2026 pukul 13.00 WIB. Misa dipimpin oleh Romo Erik Wahju Tjahjana, O.Carm.

Kisah Romo Erik tentang Romo Kus menarik. Ia menggambarkan Romo Kus seperti Santo Fransiskus Asisi yang dikenal sebagai pembawa damai. Romo Kus, baginya, merupakan sosok yang senang membawa penghiburan bagi orang-orang yang ia jumpai. ia menghibur dengan biola, organ, celo, atau sexophonenya.

Soal ini, saya sepakat seratus persen. Dalam kesederhanaan, dia membawa damai dan kedalaman. Kedalaman kerohaniannya tercermin jelas dalam lagu yang ia ciptakan. Judulnya “Flos Carmeli” atau Kusuma Karmel yang juga diputar di misa arwah tadi. Flos Carmeli merujuk pada sosok Bunda Maria, ibu yang ia cintai. Ia menyanyikan dengan diiringi instrumen yang ia mainkan sendiri: biola, organ, celo, sexophone.

Satu lagi yang menarik dari kisah Romo Erik. Diceritakan sehabis misa. Katanya, bila Romo Kus tertikam rasa rindu pada ibunya, ia akan bergegas pulang menemui sang ibu. iIu pun ia lakukan kalau pu harus meninggalkan agenda atau pekerjaan lain. Langsung pergi dan menemui ibunya.

Salam hangat, Romo Kus. Lagumu ini telah mengantarmu ke kedamaian abadi bersama Yesus Tuhan kita dan Maria, bundamu yang engkau cintai. Percakapan terakhir denganmu akan saya jadikan renungan di masa prapaskah ini.

Dan, sama seperti ketika rasa rindu pada ibu dan engkau langsung pergi menemui ibumu, kita pun sebaiknya demikian. Begitu hidup kita dijejali dengan aneka persoalan tanpa jluntrung, letih sekaligus berbeban berat, alangkah baiknya kita berlari menemu Santa Maria, Bunda Allah dan bunda kita semua. Kepada Maria, kita ceritakan segala keluh dan kesah kita padanya. Maria tak pernah mengecewakan seperti pengalaman yang sudah-sudah.

Suwun, Mo πŸ™πŸΌπŸŒ·

Jakarta, 20 Februari 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *